Kesambet Cinta Sang Dokter

Kesambet Cinta Sang Dokter
Perusahaan Dalam Masalah


Rumah Sakit


*****


Danest yang masih menunggu sang Papi dirumah sakit,tanpa sadar tertidur disofa.Seketika dia terbangun karena suara langkah sepatu memasuki ruangan rawat tersebut.


"Ehhh... Sus, kirain siapa?! "


"Ga pa pa kok Mbak,kalau masih mau lanjut tidur.Saya hanya memeriksa tekanan darah pasien".Suster pun mengecek tekanan darah Tuan Martadinata.


"Bagaimana Sus,apa Papi saya sudah ada kemajuan? ".tanya Danest cemas.


"Untuk hal itu,kita tunggu Dokter visit aja ya Mbak,karena itu bukan wewenang saya.Namun dari yang saya lihat sepertinya kondisi pasien masih naik turun Mbak. "jawab suster itu.


"Oh baiklah,kira-kira jam berapa jadwal visit Dokter?".tanya Danest lagi.


"Jadwalnya jam 08.30 pagi biasanya,tapi kabarnya hari ini dokter Bit akan segera kembali dari luar kota. "jawab Suster itu lagi.


"Dokter... Bit??".Danest merasa nama itu aneh, dia sampai terkekeh.


"Iya...dokter Bit,seisi rumah sakit ini memang memanggilnya dengan sebutan itu.Panggilan sayang kami semua kepadanya.Hati-hati ya Mbak, jangan sampai jatuh cinta sama Pak dokter ganteng kami itu,karena pasti akan banyak yang patah hati karena akan kalah bersaing".jelas suster itu lagi.


Aneh sekali namanya,udah kayak nama merk motor aja, bathin Danest😁😁


"Dokter Bit adalah dokter spesialis jantung terbaik dirumah sakit ini".ujar Suster itu.


Setelah mencatat hasil pemeriksaannya Suster yang bernama Leny itu segera meninggalkan ruangan Papinya Danest.


Danest berdiri dan mendekat ke tempat dimana Papinya terbaring.Digenggamnya tangan sang Papi dengan sesekali dia juga membelai rambut lelaki yang sudah membuatnya lahir kedunia itu.


Tiba-tiba ponselnya mengalunkan nada dering.


Danest pun segera mengangkat telepon itu


"*H*allo,, assalammu'alaikum, ada apa Mit? ".


tanyanya ketika melihat nama sekertarinya dilayar ponsel.


"Gawat Nest gawat,,, ".kata Mita terengah-engah.


Mita memang sekertaris sekaligus sahabat baiknya. Jadi sudah biasa memanggilnya dengan nama saja bahkan lebih sering singkat .


"Apanya yang gawat Mit?? ".Danest jadi ikut khawatir.


"Cepetan elo kekantor, disini banyak wartawan nyariin elo.Mungkin karena masalah berita tentang elo itu".kata Mita sedikit histeris.


"Oke,elo atasin dulu sebisa lo.Gue masih harus nungguin papi gue nih dirumah sakit".jawab Danest sekenanya.


"Tapi ga bisa gitu Nest,lo harus ngeklarifikasi berita itu secepatnya.jika berlarut-larut, aku khawatir ini akan berdampak buruk pada perusahaan".kata Mita lagi.


"tapi..... ".sejenak Danest berpikir


Danest pamitan dengan sang ayah yang masih belum sadarkan diri,dan setelah itu dia bersiap kekantor.


Diperjalanan dia mampir sebentar kebutik yang dia lewati,untuk membeli pakaian kerja.


setelah mengganti pakaiannya,dia pun melajukan mobilnya kekantor.Kebetulan kemaren salah satu pegawainya sudah mengantarkan mobilnya dari Hotel Aglonema ke Rumah Sakit tempat Papinya dirawat.


Setibanya dikantor,Danest tidak masuk dari loby kantor.Dia memilih memasuki pintu darurat disamping kantornya yang langsung menuju ke lift khusus direktur.


Saat sampai dilantai empat,pintu lift tiba-tiba terbuka.Kenzo masuk kedalam lift itu,sehingga keduanya saling tatap.Danest ga habis pikir kenapa disaat yang genting seperti ini Om nya itu malah bersikap santai.


"Om, kenapa Om tenang-tenang saja, berita ini bisa merusak citra perusahaan.Kita harus segera mengklarifikasi ke pihak media agar masalah ini ga berlarut-larut".Danest memulai pembincangan.


"Ngapain diambil pusing,cuekin aja".kata Kenzo datar.


"Ya ga bisa gitu donk Om,,takutnya ini bisa berdampak pada pejualan produk yang baru kita luncurkan kepasaran,bisa-bisa nanti kita akan mengalami kerugian".Danest mencoba menjelaskan isi pikirannya.


"Ya udah iya- in aja,selesai kan?".jawab Kenzo dengan seulas senyum dibibirnya.


"Apa maksud Om Kenzo,apa Om sudah gila!!?"bentak Danest sambil melotot.


Danest tak menyagka kalau Kenzo bisa berkata seperti itu.


Lift berhenti dilantai tujuh dimana ruangan Danest berada.Mita berlarian mengejar Danest.Sementara Kenzo pergi keruangannya.


"Nest,gimana?apa elo udah tahu apa yang harus elo katakan kepada para wartawan itu?"tanya Mita


"Gue juga belum tau Mit".jawabnya


"Memangnya gosip yang di beritakan itu bener ya?? "tanya Mita lagi.


"Sembarangan lo!".umpat Danest kesahabatnya itu.


"Lalu siapa pria yang ada di foto dan video itu?,kenapa kau bisa bersamanya disebuah penginapan? ".Mita penasaran.


"Ya ampun...lama-lama elo kayak wartawan juga ya, nanya mulu!!! "Danest jadi berang.


"Ganteng banget ya,, kalo elo ga mau kasih ke gue aja,pasti gue terima dengan senang hati".ujar Mita seraya menghayal,senyam senyum sendiri.


"Huuuuuuu,mau lohhh itu!!!!! ".Danest mengibaskan tangannyaπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ™„


kepalanya benar-benar menjadi pusing, ditambah lagi dengan sikap Kenzo yang tiba-tiba berubah menjadi seperti orang yang bahagia sekali dengan pemberitaan miring ini.


Hal ini membuatnya melupakan sang papi yang sedang dirawat dirumah sakit".



(Mita aurelia, sohib sekaligus sekertaris Danest)