
"Baiklah kalau begitu,aku permisi pulang dulu."Kata Tsabit dengan wajah sedih.
Dalam hatinya dia masih berharap bahwa Danest akan menghentikan langkahnya dan kembali mengajaknya bicara.
Namun ternyata apa yang dia harapkan sama sekali tidak terjadi,Danest masih menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan pura-pura tidak mendengar apa yang ia katakan.
Tsabit kembali menoleh kebelakang.
"Apa kamu bersikap seperti ini karena kamu cemburu Nest,iya mungkin saja."Tsabit masih menaruh harapan.
Tsabit pun melangkah keluar dari ruangan Danest,tapi dia tidak langsung pergi,dia berdiri dibalik pintu.
Mitha yang melihatnya menjadi bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada pasangan ini.Setahu Mitha keduanya sekarang semakin akrab,tapi mengapa sekarang sepertinya sedang bermasalah.
ππtelepon dimeja Mitha berdering
"Iya halo,ada apa Nest?."jawab Mitha.
"Cepat keruanganku sekarang."suruh Danest.
"Oke."Mitha pun menutup telepon itu.
Saat melewati dokter Tsabit,Mitha menyapanya.
"Dokter,kok berdiri aja disini?."tanya Mitha.
"ustttπ€«,tolong jangan beri tahu Danest kalau aku masih disini ya."pinta Tsabit.
"Baiklah."jawab Mitha,Mitha pun merasa kalau keduanya ada masalah.
Mitha masuk keruangan Danest.
"Ada apa nih bu bos,tumben suaminya main kesini?."Mitha sengaja memancing Danest buat cerita.
Sementara itu,Tsabit masih menguping dibalik pintu.
"Dia ga main dengan sengaja kok Mit."jawab Danest lirih.
"Lalu kenapa dokter Bit kesini?."tanya Mitha lagi.
"Dia kemari hanya ingin menjelaskan,tadi dia berpelukan sama Sonya dirumah sakit.Dan apa kamu tahu,,,,Sonya mengatakan bahwa dia merindukan dokter Tsabit dan memeluknya dengan erat dan parahnya lagi aku menyaksikan semua itu Mit dengan kedua mataku sendiri."Jelas Danest pada sahabatnya itu.
"Kamu cemburu Nest?,itu tandanya kamu cinta sama suamimu."kata Mitha .
"Apa???,ya ga mungkinlah Mit.Ga segampang itu seorang Danest bisa jatuh cinta."Danest mencoba menutupi perasaannya.
"Sudahlah Nest,ga usah muna'.Tuh tergambar jelas kok diwajah lo kalau elo itu sedang cemburu.Kenapa ga jujur aja sih,aku yakin kok kalau dokter Bit sangat mencintai elo.Kalau ga,ngapain dia repot-repot kemari untuk menjelaskan sama elo."Mitha mencoba menasehati sahabatnya itu.
"Bodoh amat,aku ga perduli.Mendingan gue kerja dan kerja.Ngapain juga mikirin cowok yang gampang banget dipeluk-peluk sama cewek lain.Hari ini kebetulan aja aku melihatnya,gimana kalau di lain hari dia juga memeluk wanita lain dibelakangku.Pokoknya aku ga bakal melunak semudah itu."Danest bertekad akan terus bersikap dingin terhadap Dokter Tsabit.
"Gengsi jangan digedein dong.kalau cemburu bilang cemburu,kalau cinta ya bilang cinta.Mau sampai kapan elo bersikap cuek seperti ini ke Dokter Bit.Entar kalau suami elo berpaling pada sinenek lampir itu(Sonya)baru tahu rasa lo."Mitha kembali menasehati Danest.
"Hallllaaa,udah kayak penasehat cinta aja lo."Danest menoyor kepala sahabat sekaligus sekertarisnya itu.
Mitha diam-diam melirik kearah pintu,dia masih melihat ada ujung sepatu dokter Bit disana.Mitha pun tersenyum sendiri.
"Ngapain elo cengar-cengir sendiri?."tanya Danest heran.
"Ga ada apa -apa sih,eh elo tau ga.Aku bakalan dilamar...πππ."Mitha mengalihkan pembicaraan.
"Apa?,wah selamat ya.Setidaknya aku mendengar satu berita baik dihari yang buruk ini."Kata Danest lirih.
Mendengar itu Tsabit memutuskan untuk segera pergi dari sana.Dia bingung apa yang harus dia lakukan setelah ini,sambil terus berfikir dia pun berjalan menuju lift.
Namun ternyata lagi-lagi hari ini benar-benar bukanlah harinya,dia kembali bertemu dengan orang yang membuatnya kesal.Siapa lagi kalau bukan Kenzo.
"Ngapain kamu kesini?apa ga cukup kamu bertemu Danest dirumah saja!."kata Kenzo ketus.
"Saya rasa saya ga perlu minta izin pada siapapun untuk menemui istri saya sendiri.Ini kan kantor istri saya,saya berhak untuk mengunjunginya kapan pun saya mau."jawab Tsabit masih dengan nada sopan.
"Saya ga ngerti maksud anda,tapi yang pasti.Saya akan selalu menjaga dan melindungi istri saya dari laki-laki macam anda!."Jawab Tsabit lantang dan dengan tatapan nanar.
Keduanya hampir saja akan berkelahi.Namun tiba-tiba Danest keluar dari ruangannya,dan menghardik keduanya.
"Ada apa ini ribut-ribut!ini kantor,bukan tempat untuk adu jotos.Kalau kalian mau berantem,sana disasana."Danest benar-benar kesal hari ini,moodnya sedang sangat buruk.
"Sayang..."Tsabit mencoba meraih tangan Danest,namun ditepis oleh Danest yang makin kesal saja kepadanya.
"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini,sebelum kita menjadi tontonan semua karyawan."kata Danest sambil memalingkan mukanya.
Tsabit tak menyangka tanggapan Danest lagi-lagi sangat dingin kepadanya,biasanya istrinya itu akan mendukungnya jika dia sedang berhadapan dengan Kenzo,tapi kali ini berbeda.
"Baiklah Nest,sampai ketemu dirumah.Aku pulang dulu."Kata Tsabit sambil ingin mendaratkan kecupan dikening Danest seperti biasanya,tapi kali ini Danest malah menghindar.
Lagi-lagi Tsabit merasa seperti kehilangan muka,apalagi ada Kenzo disana yang menyaksikan hal itu.Kenzo merasa menang kali ini,dia tersenyum bahagia.
"Aku pamit ."Tsabit pun meninggalkan kantor Danest dengan hati yang sedikit retak karena penolakan-penolakan yang dia dapat dari istrinya itu.
Langkahnya jadi gontai seperti kehilangan semangat dan keceriaan.Dia pun turun ke basement dan pulang dengan mengendarai sepeda motornya.
****
Dijalan,tiba-tiba dia teringat akan olahraga kegemarannya.Dia biasa menghabiskan hari dengan bermain golf jika fikirannya sedang kalut.Akhirnya dia memutuskan untuk pulang kerumah Mamanya untuk mengambil perlengkapan bermain golf nya.
Mama Anita sangat heran melihat tampang anaknya yang biasanya tersenyum ceria menjadi muram.
Mama Anita sangat hafal betul perangai putranya itu.
"Pasti dia sedang ada masalah."gumam Mama Anita.
Tsabit yang hanya menyapanya dengan cium tangan lansung berlalu kekamar pribadinya dirumah itu,dia keluar dengan membawa perlengkapan golfnya.
"Kamu kenapa,kok mukanya ditekuk gitu?."tanya Mama Anita.
"Ga pa pa kok Ma,aku cuma mau ambil stik golf aja."Jawab Tsabit ketika dia menghampiri Mamanya dimeja makan.
"Kamu mau sarapan?."tanya Mama Anita lagi.
"Boleh deh Ma,kebetulan aku baru habis dinas malam dirumah sakit.Jadi belum sempat sarapan juga."Jawabnya.
"Mama bikinin seandwich aja ya,kesukaan kamu nih."
"Iya,terimakasih Ma."Tsabit pun sarapan sambil berbincang-bincang dengan Mamanya.
"Kapan kamu ajak istrimu kemari,Mama juga kangen sama Danest.O ya apa udah ada tanda-tanda kalau Mama akan menjadi Oma?."Tanya Mama bertubi-tubi.
Tsabit sampai tersedak mendengarnya.
"Pertanyaannya banyak banget Ma,lain waktu Tsabit akan ajak Danest kemari."Jawab Tsabit.
"Nginap aja sekali-sekali."sahut Mama.
"Insya Allah Ma."Tsabit segera menghabiskan sarapannya dan berangkat ke lapangan golf milik keluarganya.
Dia pun menghabiskan berjam-jam disana dengan bermain golf.
Dengan bermain golf,kegundahannya sedikit berkurang.
tapi tetap saja bayangan akan kata-kata yang diucapkan Danest terus saja membayang dibenaknya.Membuatnya jadi kurang fokus,Danest bukan saja menguasai hatinya tapi juga fikirannya.π
Akhirnya Tsabit pun memutuskan untuk kembali kerumah mertuanya dan menyudahi latihan golf nya.π
πππππ
Bersambung ya bebs.π