
Akhirnya pesta yang panjang dan melelahkan usai juga,semua orang sudah kembali kerumah masing-masing.
Danest dan Dokter Tsabit juga sudah tiba dikediaman keluarga Martadinata.Mereka disambut oleh para staf rumah tangganya.
Banyak yang memberi ucapan selamat kepada nona dan tuan muda mereka itu.Bahkan mereka menyiapkan kado spesial untuk pengantin baru.
Danest Dan dr.Tsabit sangat berterimakasih kepada semuanya.Mereka pun menaiki tangga bersama.
Danest yang masih menyimpan bara amarah terhadap dr.Tsabit gara-gara video call Sonya tempo hari masih bersikap acuh tak acuh.
Padahal tadi saat berdansa dr.Tsabit sudah menjelaskan dan mengungkapkan perasaannya.Mungkin Danest yang kurang peka,atau memang dia pura-pura ga tau.
Danest menaiki tangga dengan dibantu oleh Bik Sari yang memegang gaun bagian belakang nya.Tadi dokter Tsabit sudah menawarkan diri untuk menggandeng tangannya,namun ditepis Oleh Danest secara halus.
Danest bertekad akan jual mahal pada suaminya itu.
Setibanya dikamar,Bik Sari pamit untuk keluar.Tinggallah sepasang pengantin baru itu didalam kamar tersebut.Hanya kebisuan yang ada diantara mereka,tiba-tiba keduanya membuka suara secara bersamaan.
"Apa kamu mau ganti pakaian?".tanya keduanya kompak.
"kamu duluan".keduanya kompak lagi.
"Kalau begitu kamu aja yang duluan".pinta Danest mempersilahkan suaminya itu untuk ganti pakaian duluan.
"Kamu aja".kata Dokter Tsabit meminta Danest yang duluan.
Keduanya masih malu-malu.Akhirnya Danest masuk ke Walk-in Closset dan hendak mengganti bajunya.Namun ternyata resleting gaunnya terlalu kuat dan tak bisa dibukanya.Sudah berkali-kali ia mencoba,namun tetap kesulitan.
"Aduh,gimana nih.kok susah banget sih,aku harus gimana??."gumam Danest.
Sementara Tsabit yang menunggu lama disofa kamar itu jadi khawatir.
"Kok Danest lama banget ya didalam sana,masa ganti baju aja lama banget".pikir Tsabit.
Tiba-tiba Danest keluar masih dengan baju yang sama.
"Loh,katanya mau ganti baju.Apa kamu mau tidur dengan gaun itu??"tanya Tsabit.
"Bukannya begitu, tapi aku..aku...".Danest bingung harus gimana bilangnya.
"Kamu apa...??".tanya Tsabit bingung.
"Kamu bisa bantu aku ga?".tanya Danest balik.
"Bantu apa?".Tsabit pun balik nanya.
"Bantu aku bukain resletingnya,susah banget,tapi kamu harus tutup mata".kata Danest tegas.
Tsabit pun hanya menuruti saja apa maunya Danest.
"Jangan kencang-kencang ngikatnya".kata dr.Tsabit.
"Iya,ga kencang kok".jawab Danest sambil mengikatkan penutup mata pada Tsabit.
Setelah terikat,dr.Tsabit pun segera meraba-raba mencari dimana pangkal resleting dipunggung Danest.Danest yang mendapatkan sentuhan dibagian kulitnya merasa merinding,geli.
"Hey,apa yang kamu lakukan?!".tanya Danest marah sekaligus gerogi.
"Ya aku kan harus mencari resletingnya dulu,mataku kan ditutup ga bisa langsung lihat resletingnya dimana".jawab Tsabit .
Danest menahan gaun bagian dadanya agar tidak melorot dengan kedua tangannya.Sementara Danest lengah,dr.Tsabit menurunkan sedikit penutup matanya dan
mengintip dimana resleting gaun itu berada.
Dia menemukannya,tapi dia terkagum dan terpaku melihat kemulusan kulit Danest yang halus dan lembut,Jiwa Tsabit meronta-ronta.Namun dia mencoba menahan gejolak didalam dirinya.
"Cepat sedikit,kok lama sekali".kata Danest.
"iya".jawab Tsabit sambil menurunkan resleting itu.
"Kamu ga ngintip kan?".tanya Danest.
"Ya ga lah,kan mataku kamu yang nutup.mana aku bisa lihat apapun."Jawab dr.Tsabit.
"Sudah,cukup.Segitu aja"kata Danest,setelah merasakan resletingnya sudah terbuka.
Tsabit menarik nafas dalam,seolah dia baru kepergok mencuri.
Danest pun berlalu kembali keruang pakaiannya.Karena terlalu lama menunggu Danest,Tsabit pun tertidur.Dia sangat lelah,karena tadi siang dia habis berkelahi dengan orang-orang suruhan Kenzo.
Danest yang baru keluar dari kamar mandi kaget melihat Tsabit yang sudah tertidur tanpa membuka sepatunya diatas ranjangnya.
"Ya ampun orang ini,sepatunya belum dia lepas.ini lagi,kenapa dia tidur ditengah-tengah.aku harus tidur dimana?".gerutu Danest.
Dia pun bermaksud mengeser tubuh Tsabit dan mau membangunkannya,tapi tangannya malah ditarik oleh Tsabit dan Danest jatuh ketempat tidur dan dipeluk oleh Tsabit seperti guling.
Danest meronta dan berusaha melepaskan pelukan itu,akhirnya dia bisa lepas dari pelukan suaminya yang sudah lelap ke alam mimpi.
Danest bangkit dan melepaskan sepatu yang dipakai Tsabit,Dan dia memutuskan untuk tidur disofa saja.Kemudian Danest mematikan lampu kamar itu,sebelum akhirnya ia pun tidur disofa.
Sementara itu dilantai satu,Kenzo yang membayangkan malam pertama yang akan dilalui Danest dan Tsabit terlihat begitu kesal.Dia terus saja memandang kearah pintu kamar Danest yang terlihat dari bawah dengan tatapan yang penuh amarah.
Ditangannya ada segelas whine.Sekarang ini Kenzo benar-benar kalah telak,namun dia bersumpah akan merebut Danest kembali.
Nyonya Salma menghampirinya dan menasehatinya,agar tidak bermain api lagi.Karena sekarang Danest sudah menikah dan memiliki suami yang sangat baik.
"Sebagai pamannya,seharusnya kamu berbahagia.Karena keponakan kita sudah mempunyai pelindung dalam hidupnya dan kamu ga perlu repot-repot lagi untuk menjaganya."Nasehat nyonya Salma yang masih berada dirumah itu setelah acara.Besok lusa baru ia akan kembali kerumahnya diluar kota.