
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Danest,akhirnya dia akan menyandang gelar sarjana.Betapa bahagianya dia saat ini,tapi kebahagiaannya serasa belum lengkap karena Tsabit belum juga menghubunginya sejak dua hari.
Mama Anita,Papa Leo,Tsania calon adik iparnya dan juga Papinya serta Kenzo semua menemaninya.Namun tetap saja ada kekosongan didalam hatinya.Mereka semua sudah ada digedung auditorium.Danest terlihat cemas sekali,dia menengok kesana kemari dengan gelisah berharap seseorang yang dia tunggu muncul dari balik pintu utama.Tapi yang ditunggu tak nampak batang hidungnya.
"Kemana dia,masa aku harus menelponnya duluan,gengsi ah".bathin Danest.
Sementara mama Anita dan juga Tsania hanya saling lirik sambil senyam-senyum.
Acara pun dimulai,setelah serangkaian kata sambutan,sekarang tibalah saatnya para mahasiswa naik ke panggung dan menerima sertifikat kelulusan(ijazah).
"Danest sayang.."seru Mita yang datang dengan seorang cowok ganteng.Mungkin itu gebetan baru yang dia bilang waktu itu.
"Mitttt..".Danest cipika cipiki sama Mita sahabatnya.
"Kenalin,cowok gue".bisik Mita sambil menarik tangan cowok yang tadi bersamanya.
"Loh,anda kan dr.Barry".Danest terkejut.
Ternyata dr. Barry sahabatnya Tsabit yang datang bersama Mita.
"Heyyyy,ternyata kamu teman yang dimaksud oleh Mita".sapa dr.Barry.
"Kalian sudah saling kenal rupanya".ucap Mita tak kalah terkejut juga.
"Kebetulan aku temannya dr.Tsabit."jawab dr.Barry ke Mita.
"Oooh,begitu.sama-sama dokter dong kita".Mita menyenggol lengan Danest sahabatnya.Danest pun tersenyum.
"Loh,mana nih dr.Tsabit nya?".tanya Mita.
"Dia masih belum datang".jawab Danest dengan muka sedihπ₯
Tak lama kemudian,nama Danest pun dipanggil.Ternyata dia mendapatkan gelar cum laude..semua bertepuk tangan.Danest mendapat ciuman dipipi dari calon ibu mertuanya,juga ciuman dikening dari papinya.Kenzo juga ingin memberi ciuman tapi Danest menjauhkan wajahnya kebelakang,dan dia langsung berlalu naik keatas panggung wisudah.
MC memintanya berpidato untuk memberikan sepatah dua patah kata,karena ternyata dia adalah lulusan terbaik tahun ini.Disaat Danest sedang berpidato,tiba-tiba Tsabit datang dengan membawa sebuket bunga dan naik keatas panggung menghampiri tunangannya itu.
Danest yang sedari tadi memang menunggu kehadiran Tsabit pun tersenyum haru tak kuasa menahan air mata.
Tsabit tersenyum dan minta maaf karena terlambat datang.padahal sebenarnya Tsabit hanya ingin melihat bagaimana reaksi Danest kalau dia tidak datang.Apakah akan khawatir,cemas,dan gelisah.
Ternyata apa yang dia rencanakan benar terjadi,dari tadi ternyata Tsania Video call an sama Tsabit.Dilihatnya dilayar ponsel muka cemas Danest yang celangak celinguk selalu melihat kearah pintu masuk.
(dr.Tsabit dan Danest berpose saat sudah turun panggung).
Melihat itu Kenzo sangat kesal sekali,mukanya menegang menahan amarah.Tangannya menggenggam erat seperti ingin memukul.Sementara Tsabit yang menyaksikan hal itu berinisiatif memberikan kecupan dikening Danest secara tiba-tiba.Semua yang hadir bertepuk tangan.
"Selamat ya Nest".kata Tsabit sambil menatap mata Danest dan tangannya memegang kedua bahu Danest.Jantung Danest berdetak lebih cepat dari biasanya.
melihatnya Kenzo semakin geram dan pergi meninggalkan gedung itu.
Akhirnya Danest dan dr.Tsabit turun dan menghampiri keluarga mereka.
Betapa bahagianya hati Danest saat ini,dikelilingi oleh orang-orang terkasih.
Mita dan dr.Barry pun mengucapkan selamat kepada Danest.mereka juga membawakan sebuket bunga untuk Danest.
(Mita dan dr.Barry)
Benar-benar hari yang sangat membahagiakan bagi Danest,beberapa awak wartawan yang hadir dihari itu juga tak lupa mengabadikan moment ini.Sehingga tak butuh waktu lama untuk menyebarkan berita ini,dan sampailah kepada Sonya.
"Hemmm,berbahagialah kau sekarang.tapi setelah ini kita lihat saja siapa yang akan bahagia dan siapa yang akan menangisπ"ucap Sonya lirih sambil meremas ponselnya.
Sonya terus mencari celah kelemahan Danest,alat penyadap yang dipasang oleh Bara dibawah meja kerja Danest tempo hari adalah salah satu caranya untuk mendapatkan kelemahan Danest.Tapi belum ada hal yang penting yang bisa dia manfaatkan dari alat itu.
πππππππ
Setelah keluar dari gedung,mereka semua makan siang direstoran.Tuan Martadinata yang mentraktir semuanya,sebagai ungkapan terimakasihnya dan syukurnya karena sekarang Danest sudah menyelesaikan satu tahap penting lagi dalam hidupnya.
Tuan Martadinata terlihat sangat bahagia,terlebih lagi setelah ini persiapan pernikahan Danest pun akan segera dilaksanakan.
Sebentar lagi dia akan menunaikan kewajiban terakhirnya sebagai orang tua,yaitu menikahkan putrinya dengan tangannya sendiri dan yang paling penting adalah putrinya akan menikah dengan laki-laki yang tepat.Laki-laki pilihannya yang diyakininya akan bisa membuat putri satu-satunya itu bahagia lahir dan bathin.
"Terima kasih semuanya".ucap Danest kepada semua.
"Sayang,setelah ini kalian berdua harus segera fitting baju pengantin,karena kami sudah mempersiapkan pernikahan kalian.Dua minggu lagi kalian akan menikah".kata Mama Anita.
"Apa???!".Danest dan dr.Tsabit saling tatap.
Mereka kaget,walaupun sebelumnya Papi sudah pernah membicarakan hal itu ke Danest,tapi tetap saja Danest merasa kaget,apalagi dilihat dr.Tsabit yang juga tak kalah kaget nya sampai tersedak saat minum .
Danest mengambilkan tisu untuk Tsabit.
"Sampai sekaget itu dia mendengar tentang pernikahan,apakah dia belum siap".bathin Danest menduga-duga.
Sementara Tsabit juga berfikir kalau Danest yang belum siap juga.
"Semuanya sudah disiapkan,Mama udah deal sama WO nya,ga ada undur-undur waktu lagi,kalian harus fitting baju pengantin besok dibutik tante Ane".perintah mama.
Danest dan Tsabit kembali saling lihat,dan mereka kemudian sama -sama mengangguk setuju.
πππMita dan Tsania kompak bertepuk tangan,sementara dr.Barry kembali menyalami dr.Tsabit.
"Selamat ya bro".ucapnya ke sahabatnya itu.
"Terimakasih,semoga elo dan temannya Danest si Mita cepat nyusul juga".jawab dr.Tsabit sambil menepuk punggung sahabatnya.