
Sonya yang sekarang sudah keluar dari rumah sakit kini masih sering murung karena kejadian yang menimpanya.Perbuatan yang dilakukan Bara padanya membuatnya sangat membenci pria itu,tapi dilain pihak Bara yang baru mendapat kabar bahwa Sonya masuk rumah sakit menjadi kalang kabut.Dia ingin memastikan secara langsung bagaimana keadaan gadis pujaan hatinya itu.
Sedangkan Sonya sendiri tidak ingin bertemu dengan Bara,saat Bara datang mengunjunginya dirumahnya,Sonya meminta para pengawal untuk mengusirnya.
Bahkan nomor Bara pun sudah ia blokir.Sekarang Bara sudah tidak memiliki akses untuk bertemu dengan Sonya lagi,tapi Bara tak putus asa,dia terus berusaha mendapatkan informasi mengenai Sonya dari asisten pribadi Sonya si Molly.
Dengan pengaruh iming-iming uang dan hadiah fantastis Bara bisa mengetahui kegiatan apa saja yang Sonya lakukan sehari-hari.Molly tahu resikonya pasti dia akan dipecat atau bahkan dicelakai oleh Sonya jika Sonya tahu bahwa dia menghianatinya demi uang.Tapi Molly melakukan hal ini karena dia sangat sayang pada nonanya itu.
Molly tahu bahwa malam itu Sonya sudah tidur dengan Bara,dan sebagai asistennya Molly juga tahu tanggal berapa setiap bulannya Sonya membutuhkan pembalut.Tapi hitungannya sudah telat dua hari Sonya belum juga datang bulan.
Molly menerka bahwa majikannya itu sekarang sedang hamil,hanya saja dia tidak mau menanyakannya langsung ke Sonya.Takutnya Sonya makin terguncang bila dia menyadari kalau dirinya sekarang sedang hamil anaknya Bara.
Bara yang diberitahu oleh Molly akan hal itu semakin ingin bertemu dengan Sonya,tapi dia juga ingin menunggu waktu yang tepat.Dia sangat percaya diri kalau Sonya pasti akan memintanya untuk menikahi Sonya.
"Jika kamu benar-benar mengandung anak kita,kamu kupastikan tak akan bisa lari lagi Sonya sayang."gumam Bara π.
Dikamar Sonya
"Apa kamu sudah tidur sayang?"tanya nyonya Soraya.
"Belum ma,ada apa ma?."tanya Sonya balik,dia sedang membolak-balik kalender diatas nakasnya.
"Kenapa,ada jadwal pemotretan yang terlewat ya saat kamu dirumah sakit kemaren."
"Ga kok ma,cuma lagi bingung aja."jawab Sonya .
"Bingung kenapa,ayo curhat sama mama."
"Ga begitu penting kok ma,lupakan saja."Sonya mencoba menutupi apa yang menyebabkannya pusing.
"Ya sudah kalau kamu ga mau cerita,sebaiknya sekarang kamu tidur biar besok lebih fit lagi ."kata nyonya Soraya sambil menarikkan selimut untuk menyelimuti putri satu-satunya itu agar segera tertidur.Dia sangat mengkhawatirkan Sonya yang akhir-akhir ini terlihat tidak bersemangat dan selalu saja melamun.
Keesokan harinyaπ π
Danest dan Tsabit yang terbangun diwaktu subuh secara bersamaan agak dikagetkan dengan kondisi mereka yang sangat dekat dan Danest yang tertidur didada suaminya.
"Pantas saja rasanya sangat nyaman sekali."Bathin Danest.
"Ada apa sayang,masih mau tidur lagi?sini tidurlah."Tsabit menepuk dada kirinya.
"Ga kok,ayo kita sholat subuh aja dulu."Ajak Danest sambil gerogi dan malu-malu.Wajahnya mendadak memerah.
"Ayolah kalau begitu."Tsabit tiba-tiba menggandeng tangan istrinya itu dan menariknya kedalam kamar mandi.
"Sayang,aku bisa sendiri."Danest sedikit berteriak.
"Bareng aja wudhu nya."Jawab Tsabit lagi.
"Kamu duluan aja kalau begitu,aku kan juga mau pipis dulu.Masa kamu mau lihat sih."kata Danest sambil menunduk malu.
"Sama suami sendiri ga perlu malu dong sayang."jawab Tsabit enteng.
"Ha!!?"Danest terbelalak mendengar perkatan suaminya itu.
"Bagaimana ga malu?Kita aja belum pernah saling lihat......π΅ββ."fikiran Danest berkelana.
Setelah Danest selesai wudhlu,sekarang giliran Tsabit dan setelahnya kedua insan ini tengah hikmad melaksanakan kewajibannya kepada sang khalik.
Diakhir do'a Tsabit meminta kepada Allah SWT untuk melembutkan hati Danest agar segera bisa menerima dirinya sepenuhnya sebagai suami secara lahir dan bathin.Karena Tsabit juga merasa kalau Danest sudah mulai membuka diri,akan tetapi meskipun begitu Tsabit tidak mau terburu-buru untuk memaksakan hasratnya.Dia menginginkan cinta yang tulus dan tanpa terpaksa dari sang istri agar tercapai keluarga yang sakinah ,mawaddah,warrohmah seperti yang selama ini dia inginkan.
Danest menyalami tangan suaminya setelah sholat dan do'a selesai.Keduanya saling memandang satu sama lain,Tsabit yang hatinya dipenuhi rasa cinta untuk sang istri tiba-tiba saja mendaratkan sebuah ciuman dikening Danest dengan lembut,Danest juga tidak menolaknya sama sekali.Justru dia terlihat sangat menikmati dciuman iti dengan memejamkan kedua matanya.
Tiba-tiba mereka tersadar karena ada suara ketukan pintu dikamar mereka.
"tok....tok...tok...."
"Nak,apa kalian sudah bangun?."suara mama Anita terdengar dari balik pintu.
"Sudah ma,bentar ma."Tsabit berdiri dan beranjak membuka pintu yang masih terkunci.
"Ya,ada apa ma?."Tanya Tsabit yang masih menggunakan sarung dan peci.
Mama Anita sontak menoleh kearah dalam kamar,dilihatnya menantunya yang cantik masih dalam balutan mukenah.
Mama Anita jadi tersenyum bahagia.Pemandangan seperti ini sangat menyejukkan matanya,dia merasa kalau perjodohan ini tidak salah.Bahkan bisa dibilang mereka tidak salah pilih menantu.
"Oo,kalian sedang sholat rupanya.Ayo kita joging sebentar.Kalian kekantornya agak siang kan?."tanya Mama Anita.
"Biasanya Jam 08.30 sih ma."jawab Tsabit.
"Masih bisa,sekali putaran aja ngelilingi halaman.Mama ga ada temannya.Yuk,kalian berdua saja yang temani mama,papa lagi males joging katanya.Yuk sayang,mumpung masih subuh.udaranya masih sejuk."Ajak mama Anita kepada Danest.
"Oke ma,aku siap-siap dulu ya."Danest pun menyimpan mukenahnya dan berganti pakaian seadanya yang dia bawa.Karena dia ga bawa pakaian untuk joging.
Melihat itu,Tsabit mengambilkan kaos oblong dari dalam lemarinya dan diberikannya pada istrinya itu.
"Pake ini aja sayang,ya agao sedikit kebesaran sih.Tapi dijamin nyaman kok buat joging."katanya.
"Baiklah kalau begitu,terimakasih ya."Danest masuk kekamar mandi dan keluar dengan memakai baju kais dari suaminya tadi.
"Kamu mau pakai baju apa aja tetap cantik ya."puji Tsabit.
"πππgombal kamu ."jawab Danest geli.
Mama Anita yang masih berdiri didekat pintu jadi senyum-senyum sendiri melihat tingkah keduanya.
"Ayo sayang,kita duluan.Tsabit biar lari dibeoakang kita aja."Mama Anita menggandeng tangan Danest dengan senangnya.
"Tsania mana ma,kok ga ikut?."tanya Danest.
"Jam segini anak itu masih tidur,susah banget kalau dibangunin."jawab mama Anita.
"Ohhhh."Danest hanya ber Oo ria,matanya takjub melihat pemandangan dan taman mama Anita yang Asri disekeliling rumahnya.
Sedangkan Tsabit yang lari dibelakang mereka berdua jadi senyam-senyum melihat keakraban mamanya dan istrinya itu.
"Terimakasih Ya Allah,sudah menjadikan mereka berdua bagian dari hidup hamba."ujarnya lirih.
Bersambung....ππ