
Sungai Seine, tempat yang di sebut dengan spot romantis, kini Dinda sudah memanjakan matanya di sana bersama siapa lagi kalau bukan dengan Dokter Tono.
Tempat yang di kelilingi bangunan yang bersejarah dengan desain klasik itu membuat mata kembali terpanah setelah menara Eiffel, bayak turis yang berlalu halang di sana, mereka dengan aktivitas masing masing sesuai hobinya.
Sedangkan Alan memilih untuk duduk di tepi air yang mengalir itu dengan tikar kecil yang sengaja di bawa tadi, bagaikan orang piknik namun hanya berdua saja.
Romantis, iya hingga membuat hati Dinda bertanya tanya dengan dirinya sendiri.
Alan yang masih setia dengan penyamarannya itu menyodorkan cemilan dan minuman kaleng untuk Dinda.
''Terima kasih.'' Menerima makanan ringan dari Alan.
Meskipun suasana panas, Dinda merasa terhibur dengan tempat yang pertama kali menghiasi matanya, bukan hanya itu, kebersamaan dengan orang yang begitu baik dan ramah membuat Dinda semakin hari semakin nyaman saja.
''Dok.'' panggil Dinda saat Dokter Tono sibuk dengan gadget di tangannya.
Alan menoleh. ''Kamu butuh sesuatu?'' hanya itu yang di tanyakan saat mendapat panggilan dari Dinda.
Wanita itu menggeleng lalu meneguk minumannya yang sudah di buka oleh Alan.
''Boleh nggak aku lihat foto istri dokter?'' pinta Dinda menyelidik.
Bagaimana ini, di ponselku kan nggak ada foto wanita asing, punya Syntia juga sudah aku hapus semuanya, dan hanya ada gambar dia kemarin, aku harus bilang apa.
Dokter Tono yang masih sibuk traveling dengan otaknya itu pun menerbitkan senyum kecut.
''Tapi, disini nggak ada foto istriku.'' jawab Dokter Tono gugup, bahkan Pria itu dengan cepat mengembalikan ponselnya ke dalam kantong celananya, takut di rebut Dinda.
Nggak mungkin, Dokter Tono orang baik, dan nggak mungkin dia nggak punya foto istrinya, apa hubungan mereka sedang nggak baik.
''Dokter lagi marahan sama istri Dokter?'' Tanya lagi Dinda, sepertinya wanita itu tak puas kalau tak membuat jantung Alan deg degan dengan semua pertanyaannya.
Alan menggeleng cepat, makin hari makin bingung dengan Dinda yang aktif dengan kepo urusan pribadinya.
"Kita naik sepeda yuk!" beranjak dan menarik pergelangan tangan Dinda, mengalihkan perhatian supaya Dinda lupa dengan apa yang saat ini meracuni pikiran dan hatinya.
Dinda hanya mengikuti kemana langkah dokter itu pergi, baginya tak perlu buru buru, setidaknya ia sudah mulai menjalankan misinya untuk tau jati diri pria yang di sebut dengan Dokter Tono itu.
Setelah menyewa sepeda, Alan menghampiri Dinda yang masih setia menantinya.
"Kok sepedanya satu sih, dok?'' protes Dinda memanyunkan bibirnya.
Alan tersenyum, bukan tak punya uang untuk menyewa lagi, tapi laki laki itu memang sengaja membuat Dinda sebel.
"Kalau naik sendiri sendiri nggak seru." ujar Alan yang sudah siap untuk mengayuh rakitan besi yang sudah di naikinya.
Terpaksa Dinda duduk di boncengan itu sembari memegang erat kemeja Alan, takut jatuh.
"Dokter itu lucu, semoga nanti aku mendapat suami seperti Dokter." ucapnya di sela sela tawanya.
Ternyata kamu memang sudah mantap ingin bercerai denganku, dan semoga saja nanti kamu bisa mendapatkan laki laki yang lebih baik dariku.
Hening sejenak, tiba tiba keisengannya melintas lagi, tanpa mengatakan apapun Dokter Tono melajukan sepedanya dengan begitu kencang hingga membuat Dinda terpaksa melingkarkan tangannya di perut Alan, dan itu sukses membuat Alan puas.
''Dokter sengaja?'' teriak Dinda mode marah.
''Iya.'' jawab Dokter Tono saat keduanya tiba di depan museum Louvre.
''Kita kesana yuk!" menunjuk bangunan yang berbentuk piramida besar dari rangkaian kaca dan besi serta di kelilingi tiga piramida kecil.
''Katanya di sana ada peninggalan lukisan Monalisa?'' tanya Dinda yang sedikit pernah dengar tentang tempat itu.
Alan mengangguk, tanpa aba aba langsung menarik tangan Dinda, karena tak mau membuang waktu lagi untuk menjelajahi dalamnya.
Dinda kembali takjub dengan isi museum itu hingga membuatnya tak berkedip.
Koleksi koleksi yang di bagi menjadi delapan departemen kuratorial itu tak ingin di lewati begitu saja, meskipun Dinda tak mengerti bahasa di sana, namun hati dan matanya berkata lain, ia begitu mengagumi ciptaan manusia itu, apa lagi Ciptaan Tuhan, yang tak pernah dapat di pungkiri dari kesempurnaannya
''Dinda,'' panggil Dokter Tono saat keduanya terus menyusuri dan melihat berbagai isi di dalamnya.
''Bagaimana perasaanmu sama Alan saat ini?'' tanya Dokter Tono serius.
''Aku nggak tau, apa aku salah jika aku membencinya, dulu kami menikah tidak saling cinta, tapi aku menghargai janji suci itu, dan aku mau mengandung anaknya, karena orang tuanya pun pernah menyelamatkan bapak, seandainya mama Yanti tidak meminjamkan uang untuk abang, mungkin bapak tidak bisa operasi penyakitnya, karena kami tidak punya uang, dan aku kira dengan memberi cucu untuk mama, aku bisa balas budi, tapi apa, Kak Alan menghancurkan hidupku, bahkan dia tidak memberiku kesempatan untuk menjadi seorang ibu.'' ucapnya terbata, keduanya menghentikan langkahnya dan saling berhadapan.
''Dok, sekarang aku sudah siap untuk kehilangan anak dan suamiku, aku siap untuk bercerai dengannya, dan setelah pulang dari sini, aku langsung mau ke kampung, aku mau lanjutin usaha jahit di sana, terima kasih karena Dokter sudah membantuku untuk melewati masa burukku.'' ucap Dinda meraih tangan Dokter Tono dan mencium punggung tangannya, bukan sebagai kekasih namun sebagai abang.
Jika kamu siap, aku pun juga harus siap untuk melepaskan kamu, tapi kenapa semakin kesini aku semakin takut kehilangan kamu.
"Lanjut yuk!" Alan terus mengenggam tangan Dinda, seakan tak ingin melepasnya, namun itu hanya angan angan yang sangat kecil kemungkinan untuk tercapai, dan mungkin itu adalah detik detik kebersamaannya yang terakhir, karena setelah pulang ke tempat asal, Dokter Tono tidak mungkin untuk ikut Dinda ke kampung.
Setelah keduanya puas dengan berbagai urnamen yang ada di dalamnya, Alan kembali mengayuh sepedanya ke tempat semula sembari menunggu senja datang, dan itu kembali membuat Dinda mengukir senyum.
"Nanti malam kita dinner yuk!" ajak Alan tanpa ragu.
Dinda menampilkan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya dan itu tak sengaja tertangkap layar ponsel Alan.
"Dok, aku ini bukan orang ketiga dalam pernikahan dokter kan? kenapa semua yang kita lakukan hanya berdua, aku nggak mau ada yang salah paham dengan kebersamaan kita." ucap Dinda dengan maksud menolak secara halus.
Seketika Alan menggeleng.
"Tidak akan ada yang salah paham dengan kebersamaan kita, karena aku seorang dokter dan kamu paisen aku, jadi tenanglah, dan setelah dari sini mungkin kita akan jarang bertemu." seperti ada rasa sedih saat Alan mengucapkan itu semua.