
Semua yang ada di depan ruangan operasi itu bernafas dengan lega saat Dokter Daka dan Dokter Edwin keluar, bukan hanya itu, keduanya mengulas senyum saat berada di tengah tengah keluarga Dinda dan Alan.
Seketika Daka memeluk Faisal sang sahabat yang saat ini masih nampak kacau.
''Semua baik baik saja.'' menepuk punggung Faisal, dan itu pun di saksikan yang lain.
Iri, itulah Alan saat ini, jika dulu mereka selalu bertiga, namun seakan Daka melupakannya.
Tak banyak penjelasan karena kesibukan yang melanda, Dokter Edwin langsung hengkang dari rumah sakit itu, sedangkan Daka masuk ke ruangannya setelah memberi tau kalau Dinda sudah boleh di jenguk bergantian meskipun belum sadar.
Faisal mempesilahkan ibu dan bapaknya untuk menjenguk putrinya.
Tak kuasa menahan tangis saat menatap kearah putrinya yang begitu pucat, Bu Tatik langsung bersandaran di dada pak Yanto yang dari tadi merangkulnya.
''Bu, Dinda butuh penyemangat untuk membuka mata, jadi bapak Mohon Ibu jangan nangis.'' pesan pak Yanto sedikit berbisik.
Dengan langkah lemahnya kini kedua orang tua Dinda sudah mematung di samping brankar sang putri.
Bu Tatik mengelus kening Dinda, sedangkan pak Yanto menggenggam punggung tangan putrinya.
''Cepat bangun ya nak, Ibu merindukan kamu.'' ucapnya tersendat sembari menahan air mata yang sudah berada di pelupuk, karena seperti yang pak Yanto bilang, Bu Tatik harus mencoba tegar.
''Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu, bisiknya di telinga Dinda. ''Anak kamu tampan sekali, Ibu akan menemami kamu sampai kamu membuka mata.'' Bu tatik langsung melangkah mundur, tak kuat jika berlama lama di dekat Dinda yang masih betah memejamkan mata.
''Dinda, Ini bapak nak, istirahatlah, tapi jangan lupa kalau kamu punya tanggung jawab, yaitu anak kamu, bangunlah jika kamu sudah puas bermimpi ya!" mencium punggung tangan Dinda.
Entah mendengar ataupun tidak, yang pastinya ada air mata yang mengalir di pelipis Dinda.
Setelah puas memberi semangat, Pak Yanto dan Bu Tatik keluar dari ruangan itu.
''Sal, kalau adik kamu bangun, bilang sama dia kalau Ibu ada di sini bersamanya, Ibu akan menjaganya.'' memeluk tubuh kekar putra sulungnya.
''Ibu tenang saja, Dinda pasti bangun, dia itu perempuan yang kuat, dia nggak akan meninggalkan aku, kita akan sama sama melihat senja, dan aku akan menggendongnya bu, ucap Faisal penuh penyesalan, apa pun yang terjadi dengan Dinda saat ini adalah karenanya.
Dan seperti Bu Tatik dan Pak Yanto, kali ini Faisal yang menjenguk adiknya di dalam.
Faisal langsung memeluk tubuh Dinda dari samping dengan diiringi air mata.
Tak ada kata yang bisa di ungkapkan selain sedih.
''Din, bangunlah, ini abang, kamu pernah bilang kalau kamu ingin seperti senja yang diharapkan kehadirannya oleh semua orang, dan sekarang kamu bagaikan senja, semua mengharapkan kamu bangun dan tersenyum, kamu rindu punggung abang kan? Abang akan gendong kamu, kita akan ke bukit sama sama.''
Kali ini tak ada rasa malu, Faisal menangis tersedu sedu menatap wajah Dinda.
Setelah kamu kembali, abang akan membuat kamu tersenyum dan kamu tidak akan mengenal air mata lagi.
Setelah menyeka air matanya, Faisal kembali keluar dari ruangan itu untuk ke menengok bayi adiknya.
''Mama yang tenang ya, jangan nangis, menantu kita akan baik baik saja.'' pesan pak Heru sebelum masuk.
Bu Tatik yang terlihat lemas memilih untuk berada di ruangan yang di sediakan Daka, namun pria itu tak selesai begitu saja dengan urusannya, karena harus menangani anak Dinda yang menang masih butuh pertolongan.
Di depan ruangan kaca transparan, Alan hanya bisa menatap tanpa bisa memegang.
Begitu juga dengan Faisal yang kini ada di sampingnya.
Sedangkan Dokter Daka sudah berada di dalam dengan alat monitor yang berbunyi.
Alan menoleh menatap arah Faisal dengan mata sembabnya.
''Kenapa kamu masih menanyakan dia?'' ucapnya tanpa menoleh, pandangannya masih menatap bayi mungil yang ada di dalam.
''Bukankah dia tak penting bagi kamu?'' imbuhnya lagi.
Alan diam, itu emang kenyataan yang pernah di lontarkannya.
Heh.... Faisal tersenyum getir.
''Kamu tenang saja, setelah ini aku akan membawa Dinda pergi, besok aku akan bawa surat pengunduran diriku sekaligus surat cerai Dinda setelah dia sadar, Dinda sudah bilang sama aku, kalau dia akan menyerahkan anaknya untuk kamu.''
Faisal memasukkan kedua tangannya di saku celananya dan memutar tubuhnya ke arah Alan hingga keduanya kini bersitatap.
''Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, tapi aku akan melupakan kalau kamu pernah menjadi adik iparku." menepuk lengan Alan.
Entah kenapa Alan merasa tak rela saat mendengar ucapan Faisal yang akan membawa Dinda pergi, seperti ada sebuah magnet yang membuatnya ingin mendekati wanita tersebut.
''Tapi aku boleh kan menemuinya saat ini?"
Faisal mengangguk tanpa suara.
Setelah mendapat izin dari Faisal, Alan kembali menuju ruangan Dinda yang saat ini sudah di pindahkan ke ruang rawat.
Semua orang ada di depan ruangan, itu artinya Dinda di dalam sendirian.
''Bagaimana dengan bayi kalian?'' tanya Bu Tatik menghampiri Alan.
Pria yang memang masih kikuk dengan mertuanya itu tersenyum lalu memeluknya.
''Kita tunggu saja Bu, sekarang aku mau menemui Dinda.'' ucapnya.
Alan langsung saja masuk setelah melepas pelukannya.
Mereka begitu baik padaku, tapi aku sudah melukai anaknya.
Dengan perlahan pria itu mendekati tubuh yang masih berbaring.
Alan menatap wajah Dinda dengan lekat.
Bayangan di saat ia menyakiti Dinda itu kini melintas, rasa bersalah itu membuatnya semakin menyesal saat menatap wajah manis itu.
Alan menarik kursi dan duduk di samping ranjangnya.
''Dinda, maafkan aku, karena selama ini aku tak pernah adil padamu, aku memang egois dan selalu menyalahkanmu dengan hubungan kita, bahkan aku tak pernah ada di saat kamu butuh. Bukalah mata kamu, semua menunggu kehadiranmu."
Alan kembali menatap wajah Dinda yang sepertinya tak merespon ucapannya.
Dulu aku memang menginginkan perceraian kita, tapi kenapa sepertinya sekarang aku masih nggak rela kamu pergi, apa semua ini karena kehadiran anak kita, jika boleh meminta, aku ingin menebus kesalahanku padamu selama ini, asalkan kamu jangan pergi, tapi apa kamu mau kembali sama aku setelah apa yang aku lakukan selama ini, apa kamu masih sudi untuk hidup bersamaku.
Alan menggenggam erat tangan Dinda, seakan tak ingin melepaskannya lagi, ucapan Faisal yang ingin membawa Dinda pergi masih terbayang bayang jelas, itu artinya ini saat saat terakhir nya ia bertemu dengan Dinda.
Baru saja menyandarkan kepalanya, pria itu langsung terbelalak saat merasakan ada pergerakan dari jari jari yang masih di genggamnya.
Alan langsung mendongak menatap wajah Dinda yang mulai membuka matanya dengan pelan.
Tak ada suara dari Alan saat Dinda mengedarkan pandangannya.
Tanpa sadar Alan langsung memeluk tubuh lemah Dinda.