
Diam dan terpuruk meratapi nasib bukan sifat Alan, bahkan di balik mendung pria itu siap bergulat dengan dokumen yang mungkin sudah setinggi gunung, tak peduli dengan dirinya yang butuh istirahat, pekerjaan dan para karyawan pun sudah menanti kedatangannya.
Sapaan demi sapaan terus mengisi gendang telinganya, dan kali ini Alan benar benar harus menguras tenaga untuk mengatur tugasnya sendiri tanpa sekretaris.
''Bella...'' panggil Alan pada alah satu karyawannya.
Wanita yang berambut sebahu dengan memakai jepit di atas telinga itu mendekati Alan yang saat ini mematung di ambang pintu ruangannya, sedikit heran dengan suara Alan yang begitu ramah.
''Saya pak,'' ucapnya menunduk sopan.
''Untuk sementara kamu bisa gantikan tugas bang Faisal, tapi tetap di ruangan kamu ya,'' pinta Alan.
Aneh, padahal tinggal cari sekretaris baru ngapain juga suruh aku.
Meskipun ngedumel, terpaksa wanita itu menuruti permintaan Alan.
Baru beberapa mrnit duduk di kursi kebesarannya, ponsel Alan berdering.
''Iya, ada apa?''
Sekarang Bu Syntia lagi di cafe X bersama Rey, tuan.
Tak menunggu waktu lagi Alan kembali keluar dari ruangannya setelah mendengar ucapan dari sebrang sana, pria itu kembali menghampiri wanita yang bernama Bella.
''Aku keluar sebentar, kalau ada yang mencari bilang aku lagi sibuk.'' ucapnya seraya merapikan jasnya.
Jangankan membantah untuk berkata pun tak bisa karena Alan bicara sambil jalan.
Apes itulah menurut Bella, wanita itu mengendus, seumur umur bekerja di kantor Alan ini pertama kalinya ia ketiban batu dengan tugas yang tak pernah ia lakukan.
Dengan cekatan Alan menerobos jalanan ke arah cafe yang di katakan anak buahnya, pria itu tak henti hentinya berdecak saat jalanan begitu macet, dan sesekali memukul setirnya dan tak lupa umpatan umpatan selalu terlontar dalam hati.
Tiga puluh menit berlalu, waktu yang cukup lama bagi Alan, namun kini perjalanannya sudah mencapai Finish, mobilnya sudah terparkir di depan Cafe X, sebelum turun Alan melepas jas, kemeja, serta jam tangannya, kali ini pria itu hanya memakai kaos dan topi serta kaca mata hitam, tak lupa pakai kumis seperti saat menjadi Dokter Tono.
Dengan langkah gontainya Alan masuk ke dalam cafe, bukan anak buahnya yang di hampiri melainkan ke arah Waiter yang membawa dua minuman.
Setelah berbisik Alan kembali merapikan penampilannya sebelum memberikan pesanan sang pelanggan.
"Permisi Mbak, Mas, silahkan!" meletakkan dua gelas minuman di atas meja sembari menatap wajah Syntia yang terlihat sebel.
"Jadi sekarang bagaimana, aku juga butuh kepastian dari kamu?" ucap Pria yang saat ini duduk di depan istrinya, siapa lagi kalau bukan Rey.
Alan tak kembali ke belakang melainkan mengelap meja kosong di belakang Syntia lalu menghampiri anak buahnya yang berada tak jauh dari tempat duduk mereka.
''Maafkan aku, aku nggak bisa milih kamu, kita putus,'' ucap Syntia.
''Apa maksud kamu?'' seketika pria yang bernama Rey itu menggebrak meja hingga membuat para pengunjung menoleh termasuk Alan dan anak buahnya.
''Aku nggak bisa lagi mengkhianati mas Alan, dia sudah terlalu baik padaku, dan dia juga menerima aku apa adanya, jadi aku minta maaf karena aku nggak bisa nepatin janji aku ke kamu.'' ucap Syntia lagi penuh dengan penyesalan.
''Baru sekarang kamu sadar kalau Alan begitu baik sama kamu, kamu yakin Alan akan nerima kamu kalau dia tau perselingkuhan kamu di belakangnya.'' cetus Rey.
Seketika Rey bertepuk tangan, ''Kamu pikir Alan bodoh. Dia itu orang kaya, apa saja bisa dia lakukan termasuk mengawasi kita selama ini, dan aku yakin dengan Alan memblokir kartu kamu dia sudah tau semuanya.'' jelas Rey panjang lebar.
Kali ini Syntia hanya bisa diam mencerna setiap inci kata dari Rey, ada benarnya, selama menikah, baru kali ini Alan tak memberinya uang, dan selama menikah Alan belum pernah mengabaikannya, bahkan Alan lebih sering mengucapkan kata cinta dan romantis padanya, namun akhir akhir ini Syntia merasa kalau Alan menghindarinya.
Apa benar mas Alan sudah tau hubunganku dengan Rey, itu artinya nasibku dalam bahaya, bagaimana jika mas Alan menceraikanku. Nggak, ini nggak boleh terjadi, bagaimanapun caranya aku harus mempertahankan mas Alan.
Tanpa menjawab sepatah katapun Syntia meninggalkan Rey yang masih di tempat, pikirannya mulai bimbang dengan kata Rey, meskipun cinta Alan begitu besar untuknya, Sintya masih saja merasa takut untuk kehilangan pria itu.
"Sekarang kalian pergi!" titah Alan pada anak buahnya yang beberapa minggu ini menjalankan misinya dengan baik.
Alan melepas topinya setelah Rey maupun Syntia keluar dari cafe tersebut.
Aku memang bukan orang baik, tapi setidaknya aku setia dan mencintai kamu apa adanya, tapi kamu sudah mengecewakanku, dan kali ini aku pastikan kamu akan pergi dari hidupku untuk selama lamanya.
''Baru juga beberapa langkah meninggalkan tempat duduknya, Ponsel Alan berdering, nama Faisal berkelip di sana, setelah beberapa saat merasakan dadanya sesak, kini Alan kembali menerbitkan senyum meskipun belum tau apa yang di ucapkan Faisal.
''Halo, bang,'' sapanya.
Al, apa kamu yang sudah ambil foto Dinda yang terpajang di pintu? tanya Faisal langsung ke inti.
''I.... iya, memangnya kenapa?'' tanya lagi Alan sedikit gugup.
Dari kemarin dia nggak mau makan gara gara potonya hilang, jawab Faisal dengan suara lesu.
''Aku akan kembalikan, Abang bilang saja kalau sebentar lagi potonya datang.''
Tanpa aba aba Alan langsung menutup teleponnya dan keluar.
''Aku akan datang sebagai Alan, suami kamu, dan besok, aku akan datang sebagai dokter Tono.'' gumamnya.
Seperti yang di pesankan Alan, kini Faisal kembali mengetuk pintu kamar Dinda yang terkunci.
''Buka dong, dek, makan, nanti kalau kamu sakit lagi gimana?" seru Faisal, makin khawatir karena Dinda tak keluar sama sekali.
''Pokoknya aku nggak mau keluar sebelum potoku ketemu, Dinda makin meninggikan suaranya, tak mau kalah dengan Faisal.
''Kalau gitu kita tunggu di teras, yang nyuri poto kamu lagi OTW kesini.''
Seketika Dinda beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu.
''Beneran, abang nggak bohong kan?'' tanya Dinda antusias.
Faisal yang merasa lega itu menggeleng, ''Mana mungkin abang bohong, abang sudah menemukan pencuri itu, dan terserah kamu, hukum dia seberat beratnya biar dia kapok, dan nggak berani lagi mencuri barang milik adik abang.'' tegas Faisal.
''Memangnya siapa?'' tanya Dinda menyelidik.
''Sudahlah, yang penting kita makan dulu biar kamu kuat untuk memukulnya nanti,'' menggiring Dinda menuju meja makan.
Siapa sih yang iseng ngambil foto aku, cewek atau cowok, jangan jangan beneran Kak Alan, itu artinya dia yang mau kesini, bagaimana kalau dia membujukku lagi, sedangkan aku belum siap untuk menjawab pertanyaannya.