Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Pangling


''Ya ampun Dinda..... '' Salma memutari tubuh sepupunya menatapnya dengan intens dan seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Ini benaran kamu kan?" menangkup kedua pipi tembem Dinda bak donat.


Dinda mengangguk, bingung, bagaimana itu di pertanyakan, padahal itu jelas jelas dirinya.


"Kamu ini kenapa sih?" tanya Dinda saat Salma tak juga memalingkan pandangan darinya.


Sembilan bulan tak bertemu membuat Salma begitu pangling dengan sosok gadis cantik tersebut, bukan dari dandanannya, melainkan tubuhnya yang melar.


Salma menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memilih untuk mundur, dan memberi ruang Bu Tatik untuk memeluk putrinya.


Sedangkan Alan pun menyambut bapak mertuanya yang baru saja datang.


"Kalian Apa kabar?" tanya Bu Tatik mengelus kepala Dinda.


"Kami baik," raut wajahnya berubah, entah kenapa saat Salma bilang seperti itu Dinda malah menciut.


"Katanya bayi kamu kembar?" tanya Bu Tatik lagi.


Dinda mengangguk tanpa suara. Kini wanita hamil itu seperti memendam sesuatu.


"Ayo Bu, pak, masuk!" Ajak Alan, sedangkan Dinda dan Salma sudah masuk duluan.


"Aku terlalu gendut, ya?" tanya Dinda pada Salma.


Salma tersenyum menatap ke arah Alan yang mengggeleng kecil, karena pria itu tau jawaban apa yang di inginkan istrinya.


"Tidak, wajarlah, ibu hamil, kembar lagi."


Kini semua berkumpul di ruang keluarga menanti Bu Yanti dan pak Heru yang belum datang.


Melepas kangen dengan kedua orang tuanya adalah hal yang memang di inginkan Dinda dari dulu, dan itu adalah hadiah yang paling indah dari Alan yang tiba tiba saja menjemput kedua orang tuanya ke rumah.


"Ibu nginep disini kan?" tanya Dinda menyandarkan kepalanya di pundak sang Ibu.


Bu Tatik tersenyum. "Iya, malam ini ibu nginep di rumah kamu, dan besok Ibu nginep di rumah abang, kan ibu juga nggak boleh pilih kasih."


"Ini camilan siapa?" tanya Salma menunjuk beberapa camilan yang berbeda.


Tak ada yang menjawab, Dinda malah cengengesan.


"Punya kamu?''


Lagi lagi Dinda hanya mengangguk tanpa suara, malu, kini bukan hanya suami dan pegawai di rumahnya yang tau, Sepupu dan orang tuanya pun tau kalau Dinda suka ngemil.


"Kakak, kalau gitu nanti malam kita undang semuanya makan malam disini saja." Pinta Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Terserah kamu saja, aku ikut, nanti biar aku bilang ke mama."


Setelah rencananya di setujui Alan, kini Dinda dan Salma masuk ke kamar, seperti dulu saat ketemu mereka berdua saling curhat dengan isi hati masing masing.


"Din, kamu nggak merasa berat itu dengan tubuh kamu?" Cetus Salma saat melihat Dinda yang sedikit susah payah saat berbaring.


"Berat sih, tapi bagaimana lagi, masa iya aku harus kurus, kata Daka juga aku harus makan yang banyak, kalau bisa dua porsi, jadi aku turuti demi anak anakku supaya selalu sehat."


Iya juga sih, tapi kalau dia di samping Mas Alan sudah kayak angka sepuluh saja.


...Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω...


Semua makanan sudah siap, dan semua tamu yang di undang pun sudah datang, Alan dan Dinda sebagai tuan rumah menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan sopan.


Namun kali ini bukan masakan yang serba mewah yang menjadi pusat perhatian, melainkan wajah Dinda yang menggemaskan.


"Kamu imut sekali," Bu Yola mencubit kedua pipi Dinda.


Begitu juga dengan Bu Entin yang juga tak henti hentinya menatap wajah Dinda.


Alan hanya bisa melirik, ke arah piring sang istri tanpa ingin menambah, karena Alan tau pasti Dinda juga akan menolak.


"Kalau anak kamu cewek apa cowok?" tanya Bu Yanti di sela sela makan.


"Cowok, tante.''


"Wah, bentar lagi kita akan kebanjiran cucu ya." Semua hanya bergelak tawa mendengar ucapan Bu Yanti.


"Terus Daka kapan kamu nikahnya? Calon sudah ada, rumah sudah punya, pekerjaan mapan nunggu apa lagi?" Menepuk lengan kekar Daka hingga membuat sang empu tercengang.


"Bentar lagi tante, lagian nggak perlu buru buru, iya kan, Salma?"


Kenapa Mas Daka nanya ke aku sih, bikin kesel saja.


Terpaksa Salma mengangguk.


Sedangkan Dinda sesekali melirik ke arah Amel saat makan.


Kok mbak Amel tetap seksi ya, padahal kan dia juga hamil, apa aku emang terlalu banyak makan sampai Salma saja pangling padaku.


Setelah menghabiskan makanannya yang tak seberapa, Dinda tetap duduk dan menunggu yang lain, nggak sopan jika ia meninggalkan tempat itu.


"Yakin nggak mau nambah?" bisik Alan.


Dinda menggeleng kecil, takut yang lain mendengar ucapan suaminya.


Aku nggak percaya, lihat saja, nanti kalau sudah bubar pasti makan lagi.


Acara makan malam berjalan sangat lancar, Dinda memilih untuk langsung ke kamar setelah semua tamu pulang, begitu juga dengan Bu Tatik dan Pak Yanto serta Salma yang juga sudah istirahat karena lelah perjalanan.


Alan menutup pintu dan menghampiri Dinda yang menatap dirinya dari pantulan cermin.


"Kenapa sih?" tanya Alan memeluk dari belakang.


"Kak, kok Mbak Amel tetap seksi ya, apa ada yang salah denganku?" tanya Dinda dengan polosnya.


Ada, makannya.


Faktanya Alan hanya bisa mengucapkannya dalam hati, lagi lagi hanya takut istrinya tersinggung.


"Mbak Amel kan anaknya satu, ya seksi lah, sedangkan kamu kan mengandung dua bayi sekaligus, jelas lah tubuh kalian itu berbeda."


Sebisa mungkin Alan mencoba membuat istrinya itu tidak minder dengan postur tubuhnya saat ini.


"Lagian kalau kayak gini kan enak di ciumnya, empuk." Seketika Alan memberi ciuman di pipi Dinda bertubi tubi.


Itu mah modusnya kamu saja.


Dinda langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, begitu juga dengan Alan yang ada di sampingnya, seperti biasa Alan selalu mengelus perut buncit yang sudah mulai menendang nendang hebat tersebut, tak di pungkiri kalau Dinda terlihat cepat lelah, anak di dalam kandungannya begitu aktif.


Selang beberapa menit berlalu, Alan yang sudah memejamkan mata kembali membukanya karena terusik dengan tubuh Dinda yang tak henti hentinya beralih.


"Kamu kenapa, perutmu sakit?" tanya Alan antusias saat melihat ada kegusaran di wajah Dinda.


Wanita itu menggeleng dengan bibir yang mengerucut.


"Terus kenapa, kok belum tidur, katanya ngantuk?" tanya Alan lagi.


Nggak peka banget sih, tadi kan aku makan sedikit, ya lapar lah, lagian gitu saja nggak tau.


Karena di tunggu tak menjawab, akhirnya Alan memejamkan matanya kembali, namun saat itu juga Alan tersenyum dan terbangun.


"Pasti lapar, yuk aku temani makan!"


Dinda hanya menanggapinya dengan senyuman.