
Dengan ketelatenan yang ekstra, dan kesabaran serta keterampilan yang luar biasa, Dinda mampu menyelesaikan beberapa baju dalam waktu dua hari, meskipun belum sempurna, faktanya wanita itu sudah hampir menjadikan buatannya siap pakai, tinggal menunggu manik manik yang belum di belinya, sedangkan baju Bi Romlah dan yang lain kini sudah siap untuk di bawanya turun, kamar adalah istanaku, itulah yang saat ini Dinda rasakan, meskipun rumah Alan begitu mewah dengan berbagai fasilitas, nyatanya Dinda hanya di kamar dan sesekali ke taman untuk mencari udara segar.
''Semoga Bibi suka, meraih tiga baju dan membawanya keluar.
Setibanya di ujung tangga, Dinda menyaksikan adegan yang begitu romantis ala drama korea di ruang keluarga, namun Ia langsung melempar pandangannya ke arah dapur di mana semua asistennya bekerja.
Kak Alan bukan milik kamu Din, dan selama nya akan seperti itu, jangan cemburu, dan jangan berharap lebih kalau kamu tidak mau kecewa, semua sudah di atur yang kuasa.
Mencoba menguatkan diri sendiri, itulah Dinda setiap hari.
''Bi,'' panggilnya membuat semua menoleh termasuk Alan dan Syntia yang terpaksa melepas pangutannya.
''Iya non, Bi Romlah mengelap tangannya yang basah mendekati Dinda.
''Ini baju Bibi, maaf baru jadi, soalnya kan aku tinggal di rumah mama,'' menyodorkan baju yang sudah di lipat rapi.
''Kenapa Non repot repot, Non kan lagi hamil, harusnya nggak usah juga nggak apa apa,'' mengelus lengan dan merangkul Dinda.
''Aku suka Bi, dan selamanya akan menjadi profesiku, ujarnya, membuka lemari pendingin, mencari cari apa yang di inginkan, namun nihil, tak ada satu pun yang selera dengan isinya, ingin minta tolong bibi belikan juga sungkan masih ingat ucapan Alan waktu itu, dan Dinda nggak mau merepotkan asisten rumah tangganya demi urusan pribadinya.
''Terima kasih ya Non, semoga apa yang Non inginkan terkabulkan.
''Amiiin.....semua pembantu dan Dinda serentak menjawab.
''Non perlu sesuatu?'' tanya Bibi lagi saat Dinda hanya menatap masakan saja.
Dinda menggeleng.
Doaku, aku hanya ingin di anggap sebagai seorang istri Bi dan semoga terkabul.
Sedangkan Alan dan Syntia hanya bisa mendengarkan tanpa menyahut sepatah katapun.
Tok.... tok... tok...
Saat asyiknya ngobrol, semua penghuni rumah di kejutkan dengan ketukan pintu.
Siapa itu, semua bertanya tanya.
''Biar aku aja yang buka Bi, menghentikan Bi Romlah yang hampir saja melangkahkan kaki, sedangkan Alan beranjak untuk siap ke kantor.
''Mbak Amel,'' serunya bahagia, memeluk wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
''Wah, perut kamu sudah makin buncit saja, memegang perut Dinda dengan lembut, Alan ikut menyambut tamunya yang memang orang yang di kenalnya.
''Iya nih Mbak, udah tiga bulan,'' jawabnya lembut.
Amel sedikit membungkuk mendekati perut Dinda.
''Dedek, ini Aunty, kamu yang sehat ya di dalam, ucapnya menirukan gaya anak kecil.
''Iya aunty, pasti dede sehat, timpal Dinda yang juga menirukan seperti suara Amel.
Faisal hanya tersenyum simpul melihat pemandangan di depannya, begitu juga dengan Alan yang hanya bisa mengulas senyum melihat ke akraban dua wanita itu.
''Kalian nggak masuk dulu,'' Ucap Alan menyapa.
''Nggak usah Al, aku cuma nganterin Amel saja, dia pengin ngajakin jalan Dinda katanya, jadi nggak apa apa kan kalau aku berangkat ke kantor bareng kamu?'' tanya Faisal, karena tadi Ia naik mobil milik Amel, nebeng.
Alan mengangguk tanpa suara.
''Iya Din, aku pingin ngajak kamu jalan, katanya kamu pingin jadi desainer, aku mau nunjukin kamu beberapa fashion yang lagi trend saat ini. ucapnya serius menggengam dua tangan Dinda.
Amel mengangguk. ''Aku bisa memperkenalkan kamu dengan model aku juga,'' tawarnya.
Dinda menoleh menatap Alan yang mematung di belakangnya.
''Kak, boleh ya aku keluar sama Mbak Amel?'' Dinda meminta izin dengan lembut berharap Alan akan memenuhi permintaannya.
Tak perlu berfikir sungkan jika harus melarang.
''Boleh, tapi ingat, kamu harus jaga kandungan kamu baik baik, dan jangan ceroboh, aku nggak mau terjadi sesuatu dam kalian,'' ucap Alan, entah dari hati atau tidak Dinda merasa tersanjung, seakan akan Alan mengkhawatirkan dirinya, dan itu adalah ucapan yang membuatnya terbang.
Seandainya ini sikap kamu setiap hari, aku akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.
Dinda langsung berlari ke kamarnya untuk bersiap.
Seperti biasa gadis itu hanya mengganti baju dan memakai make up tipis, tak perlu muluk muluk, baginya itu sudah cukup.
Dinda mengerutkan alisnya saat menatap tampilannya yang benar benar kayak orang kaya, tapi biarlah Amel sudah terlalu lama menunggunya.
Ternyata Mbak Amel sangat baik, ini kesempatan aku untuk membeli manik manik dan belajar lagi, siapa tau Mbak Amel bisa membantu aku untuk menjual baju yang aku buat nanti, batinnya.
Dinda terlihat begitu manis mengenakan dress hijau botol serta sepatu yang senada, baru kali ini Ia memakai baju pemberian Bu Yanti.
Semua mata terpana menatap wajah ayu yang selama ini terpendam.
Dinda bingung dan menatap penampilannya sendiri sembari menjewer dressnya ke bawah.
''Kenapa Mbak?'' tanya Dinda heran.
Amel geleng geleng kecil, waktu pernikahan saja Dinda masih cantikan saat ini, itu menurutnya.
''Din, ini kamu pantasnya mah jadi model nggak cuma desainer, ucap Amel lantang memutari tubuh Dinda.
Dinda tersenyum, ''Mbak bisa saja,'' menepis omongan Amel yang menurutnya nggak perlu di bahas.
Kenapa lama lama aku lihat wanita ini belagu, apa dia juga anak orang kaya, sok sokan menilai. Syntia.
Karena sudah siap untuk meluncur bersama calon kakak iparnya, Dinda kembali mendekati Alan.
''Kak aku berangkat dulu ya?'' meraih dan mencium punggung tangan Alan.
Alan yang masih terpaku dengan tatapannya itu hanya mengangguk dan tak melepaskan Dinda untuk pergi.
Jangan bilang kalau mas Alan mulai jatuh cinta dengan gadis itu, aku nggak rela, bagaimana pun caranya mas Alan milikku dan akan menjadi milikku.
Dengan kuat Syntia menarik lengan Alan yang masih bersentuhan dengan istri keduanya tersebut, bahkan pria itu sampai tersentak kaget dengan apa yang terjadi.
Dinda berlalu setelah tangannya terlepas dari suaminya.
''Ya sudah aku berangkat dulu ya Syn,'' sedikit gugup.
Setelah Faisal masuk ke dalam mobil, Syntia kembali memanggil Alan.
''Ada apa lagi?'' Alan mendekati Syntia yang masih mematung di ambang pintu.
''Kamu nggak lagi jatuh cinta sama Dinda kan mas?'' tanya Syntia menyelidik.
''Kamu apaan sih, ya nggak lah, lagi pula aku menikahi dia itu atas keinginan mama, bukan karena cinta, jadi kamu nggak usah khawatir, kamu adalah istri yang aku cintai, jadi jangan berfikir macam macam.''
Setelah yakin dengan jawaban Alan, Syntia masuk ke dalam rumah setelah Alan naik mobil bersama Faisal.