
''Maaf, Mel, Aku tidak bisa menikahi kamu, kita putus!"
Ucapan lewat telepon itu seakan petir yang menyambar tubuh Amel. Gadis yang tiba tiba merasa kakinya lentur itu memilih duduk seketika, tak bisa berkata lagi, Air mata yang tersimpan di pelupuk mata itu kini lolos membasahi pipinya.
''Ini nggak mungkin, Mas Faisal nggak mungkin memutuskan aku.'' ucapnya lagi masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Pak Samuel yang baru masuk melihat keadaan anaknya itu pun terkejut dan menghampiri Amel, begitu pun mamanya.
''Kamu kenapa, Mel?" tanya pak Samuel memungut benda pipih di sampingnya yang sudah mati, sedangkan Bu Yola sang mama hanya bisa menenangkannya.
Gadis itu malah makin terisak, ucapan Faisal masih terngiang ngiang di telinganya, seakan membakar tubuhnya saat ini.
''Jawab pertanyaan papa, kalau kamu diam kayak gini, mama dan papa nggak tau permasalahan kamu!" Bu Yola mendesak Amel untuk menceritakan kejadian yang membuatnya kacau.
"Ma." masih dengan terisak Amel mulai membuka suara.
''Mas Faisal mutusin aku," ucap Amel, masih dengan tangisnya saat di pelukan mamanya.
"Apa?" Tanya lagi pak Samuel dengan wajah yang sudah merah padam, kemarahan menyelimuti dirinya begitu saja, karena pria paruh baya itu menganggap Faisal sudah mempermainkan putrinya.
"Kenapa dia nggak kesini langsung dan bilang sama kami, itu namanya dia tidak menghormati kami sebagai orang tua kamu, Mel.'' timpal sang mama yang juga tak terima dengan keputusan Faisal tanpa sepengetahuan mereka.
''Dia akan datang besok untuk memutuskan secara resmi,'' ucap Amel seperti yang di ungkapkan Faisal tadi, karena saat ini ia harus menjaga Dinda.
Meskipun alasan Faisal membatalkan pernikahan sudah jelas, namun Amel masih tak bisa terima dengan semua itu, dan Amel masih ingin berjuang mempertahankan Faisal, bukan karena saking cinta atau obsesi, Faisal adalah laki laki yang di kenal dengan sifatnya yang ramah, jujur dan pantang menyerah, tak pernah mengandalkan Amel walaupun kaya. Kepribadian itulah yang Amel cari, dan semua itu ada di diri Faisal.
''Baiklah, kalau gitu papa akan jodohkan kamu dengan anak sahabat papa.'' ujarnya.
Dengan emosi pak Samuel tiba tiba teringat akan perjodohan yang waktu itu tertunda.
Seketika Amel menggeleng. ''Enggak, aku nggak mau.'' Amel menarik baju mamanya meminta pertolongan suapaya membatalkan perjodohannya.
Bu Yola menangkup kedua pipi Amel.
''Mel, dengarkan papa, jika dulu Faisal adalah alasan kamu menolak permintaan papa, sekarang pun kamu juga harus memberi alasan yang tepat untuk menolaknya,'' ucap Pak Samuel lalu meninggalkan Amel yang masih betah memeluk mamanya.
Kasihan, itulah Bu Yola sebagai seorang ibu melihat anaknya yang terpuruk dengan masalah yang menerpa.
''Sekarang mendingan kamu istirahat, pasti seharian ini kamu capek.'' membantu Amel untuk berdiri.
Besok aku harus bicara dengan mas Faisal, aku nggak mau di jodohkan dengan orang lain.
Jika Amel merasa kacau dengan keputusan Faisal, pria itu pun sama, bahkan impiannya untuk menjalin rumah tangga bersama orang yang di cintainya itu harus di buang jauh jauh, Karena bagi Faisal saat ini tak ada yang lebih penting selain sang adik yang butuh dirinya.
''Aku berjanji, sebelum adikku bahagia, aku tidak akan menikah.'' menggengggam erat tangan Dinda yang saat ini memejamkan matanya.
Tiba tiba saja air mata Faisal menetes membasahi punggung tangan sang adik, dan itu berhasil membuatnya terusik.
Wanita yang beberapa hari ini selalu histeris dengan seorang pria itu pun membulatkan matanya dengan sempurna, mengabsen ruangan, dan kali ini pandangannya berhenti di wajah abangnya.
Dengan cepat Faisal mendekap Dinda ke dalam pelukannya sebelum wanita menjerit tak jelas, itulah saran dokter.
''Besok kita akan melihat senja di bukit.'' ucap Faisal mengelus rambut Dinda mencoba mengalihkan otak Dinda sebelum teringat dengan kejadian yang menyakitinya.
Masih sama, gadis itu mencengkeram erat baju Faisal, dan memilih membenamkan wajahnya di dada abangnya.
Ada rasa takut, sedih, dan gusar, semua bercampur jadi satu hingga membuat Dinda hilang kesadarannya.
Termasuk abang Din. Faktanya itu hanya bisa di ungkapkan dalam hati Faisal.
''Iya, abang akan bawa kamu pulang, tapi kamu harus sembuh dulu, makan yang banyak, dan abang akan gendong kamu ke bukit,'' ucapnya lagi, karena selama beberapa hari Dinda makan dengan porsi sedikit, Faisal juga selalu mengingatkan masa bahagia Dinda.
''Malam.....'' suara renyah menyapa dari balik pintu.
Faisal tersenyum, ternyata dokter spesialis yang menangani adiknya datang.
Namun tidak dengan Dinda yang terlihat marah jika melihat pria asing yang mendekatinya.
''Abang, aku mau pulang, aku nggak mau ada dia disini.'' seperti kemarin, Dinda menunjuk dokter itu, bahkan sering menimpuknya dengan bantal, namun Dokter yang ahli dalam bidang kejiwaan itu tak pantang menyerah untuk menyembuhkan pasiennya.
''Yeee.... aku kesini cuma mau ambil ini.'' meraih stetoskop dan memasangnya untuk memeriksa Dinda.
''Diperiksa dulu ya, setelah ini dokter pergi?'' berdiri di samping Faisal yang masih merangkul Dinda.
Faisal merenggangkan pelukannya memberi ruang Dokter Andra untuk memeriksa adiknya.
Jantungnya mulai stabil, tapi aku rasa Dinda memang banyak memendam sesuatu yang begitu buruk dalam hidupnya.
Dokter Andra tersenyum.
''Dinda sudah sembuh lo, nanti bisa jahit lagi.''
Ucap Dokter Andra mencoba mengingatkan hobi Dinda sebelum depresi.
Dinda menggeleng, sepertinya di wajahnya masih belum ada harapan untuk melakukan apapun, dan terlihat dari sorot matanya, wanita itu masih tenggelam dalam kesedihannya.
''Kalau gitu lihat senja, mau nggak?'' tanya Dokter Andra lagi, mencoba mengambil hati Dinda.
Kali ini wanita itu mengangguk pelan tanpa suara, tak seperti kemarin yang terus marah marah tak jelas saat di tanya.
''Ya sudah, sekarang Dinda santai dulu, dokter mau makan Pizza lo, Dinda mau?'' mencoba membujuk Dinda untuk makan makanan kesukaannya.
Seperti mengingat nama makanan yang tidak asing itu, makanan yang selalu di bawa abangnya saat pulang dari kota, dan Dinda akan marah jika Faisal lupa membelikannya.
''Bang, aku mau pizza.''
Semoga ini awal yang baik.
''Baiklah abang akan belikan, kamu kan adik kesayangan abang.'' menyelipkan rambut yang menutupi pipinya.
Syukurlah, akhirnya dia sudah bicara dengan baik.
''Sus, tolong ambilkan pizza di ruangan saya!" bisik dokter Andra pada suster yang ada di belakangnya.
Setelah menunggu beberapa menit, kini pizza berukuran jumbo itu tiba di depan Dinda.
Tanpa menunggu tawaran lagi dari dokter Andra, Dinda langsung saja mengambil sepotong dan melahapnya.
"Pelan pelan, Dokter nggak minta kok, habiskan saja, sepuasnya." ucap Dokter Andra sembari mengambil obat dan menyodorkannya ke arah Faisal.
"Di minum juga ya vitaminnya, biar cepat pulang dan melihat senja di bukit," cetusnya lagi lalu meninggalkan Dinda yang mulai tenang.
Faisal tersenyum, meraih sisir dan merapikan rambut Dinda, tak hanya itu, Faisal juga menceritakan masa kecil Dinda yang penuh kebahagiaan, mungkin dengan itu Dinda bisa lupa akan kesedihan yang melandanya, dan bisa cepat membawanya pulang kampung untuk kembali hidup dengan normal.