
Masih terasa canggung untuk bicara, itulah saat Dinda hanya berdua di dalam kamar. Wanita itu memilih untuk sembunyi di balik selimut setelah membersihkan diri. Sedangkan Alan duduk di kursi seraya memainkan ponselnya. Pria itu terlihat serius menanggapi beberapa kali deringan benda pipihnya, dan itu masih terlihat oleh Dinda dengan mata yang sedikit menyipit.
Kak Alan lihatin apa sih, apa saat ini dia sedang mengirim pesan ke Mbak Syntia, kelihatannya serius banget.
Dinda beralih memunggungi suaminya, berharap bisa secepatnya terlelap, namun tidak, meskipun kini matanya menghadap ke arah jendela, Dinda masih saja tak bisa tidur, pikirannya terus saja traveling, menerka kesana kemari tentang apa yang di lakukan Alan di belakangnya.
Katanya ingin memilih aku, tapi masih saja main chat dengan Mbak Syntia, apa dia tidak serius dan hanya pura pura supaya aku mau balikan.
Ehemm..... Akhirnya Dinda berdehem. Seketika Alan meletakkan ponselnya di atas meja rias lalu beranjak menuju ranjang.
''Belum tidur?'' tanya nya membenarkan selimut yang sedikit melorot.
''Sudah.'' jawabnya pura pura malas dan pelan.
Alan tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Dinda.
Sudah tapi kok masih dengar orang bicara.
Alan ikut membaringkan tubuhnya memeluk Dinda dari belakang, tak peduli dengan wanita itu yang selalu menyiku perut sispeknya, yang terpenting Alan bisa merengkuh tubuh istrinya.
''Kak... ngapain sih kamu disini, sempit,'' keluh Dinda mendorong tubuh kekar yang kini meringkuk dan melingkarkan tangannya di perut Dinda.
''Makanya diam biar nggak terasa sempit.'' kelakarnya.
''Aku teriak nih,'' Dinda meninggikan suaranya.
''Teriak saja, paling bapak dan Ibu ketuk pintu, terus aku bilang, Buka Bu, dan mereka lihat kita seperti ini nggak jadi deh masuknya.'' goda Alan.
''Kalau kakak masih disini aku nggak mau ikut pulang,'' cara terakhir supaya Alan pergi, dan berhasil, seketika Alan mengendurkan pelukannya lalu beranjak dari ranjangnya.
Dinda yang tak merasa sempit lagi hanya bisa tertawa kecil dari balik selimut.
Suasana hening, hanya dentuman jarum jam yang terdengar, Dinda kembali membuka mata, karena kedatangan Alan benar benar membuatnya tak bisa tertidur pulas.
''Kak...'' panggilnya dengan suara serak.
Heemm.... hanya jawaban itu yang terdengar.
''Kakak....'' panggilnya lagi.
Hemmm.... Lagi lagi Alan hanya menjawab dengan itu, yang membuat Dinda langsung beranjak menghampiri Alan yang beneran tidur di bawah dengan alas karpet kecil.
''Maafin aku,'' ikut membaringkan tubuhnya di samping suaminya.
''Kenapa minta maaf?'' jawabnya dengan mata terpejam, karena seharian lelah membuat Alan ngantuk.
''Aku egois, ya?'' mencubit hidung Alan hingga tak betah baginya itu untuk tetap memejamkan matanya.
''Kenapa nanya seperti itu?'' mengangkat kepala Dinda dan meletakkannya di atas lengannya.
Dinda menggeleng. Karena wanita itu pun tak tau kenapa tiba tiba bicara seperti itu.
''Kita VC ke mama yuk!" Alan kembali mengambil ponselnya dari atas meja.
Belum juga tersambung, Dinda merebut ponsel suaminya dan mematikannya.
''Kenapa, kamu nggak kangen sama mama?" heran.
''Bukan itu, aku kangen sama mama, tapi, aku takut bagaimana kalau mama nggak nerima aku lagi sebagai menantunya, itu artinya kita akan tetap bercerai kan?''
''Tidak ada kata cerai, kita akan selalu bersama, jangan khawatir, kalau kamu takut jangan bicara apapun ke mama.'' Pinta Alan mencium kening Dinda menguatkan wanita itu untuk tetap tegar menghadapi mamanya.
''Halo, ma.'' sapa Alan menjauhkan kepala Dinda darinya.
Halo, Al, kamu kemana saja, kenapa hari ini nggak ke rumah? tanya Bu Yanti, raut wajahnya sedikit khawatir saat melihat putranya.
''Maaf ya ma, aku lupa bilang, hari ini aku nginep di rumah,_ tak melanjutkan ucapannya, Alan menggeser ponselnya ke arah Dinda yang saat ini kembali tiduran di sampingnya.
Dinda....
Suara jerit bu Yanti membangunkan pak Heru yang sudah tertidur di sampingnya, sedangkan Dinda dan Alan ikut tertawa melihat ekspresi mamanya yang tak terduga.
Itu kalian di mana sih, Al, kenapa nggak bilang kalau Dinda sudah pulang, ucap lagi Bu Yanti dengan di iringi air mata bahagia.
''Dinda belum mau pulang, Ma, aku yang datang ke kampung, katanya nggak bisa tidur kalau nggak aku temenin.'' cicit Alan.
Dinda yang tak terima dengan ucapan Alan itu pun langsung menggigit tangannya, malu lah di katakan seperti itu di depan mama mertuanya.
''Kak Alan bohong Ma, dia yang kangen sama Aku, makanya dia kesini, tadi sudah aku usir tapi kakak nggak mau pulang.'' ucap Dinda sedikit merengek.
Siapapun yang kangen duluan tak masalah buat mama, mama seneeeng banget, Akhirnya kalian bersama lagi, cepat pulang ya nak, mama kangen sama kamu, kalau kamu nggak mau tinggal sama Alan, tinggal saja di rumah mama, ucap Bu *Y*anti.
Saking girangnya wanita itu mencengkeram lengan pak Heru hingga membuat sang empu meringis dan tak sanggup bicara karena menahan sakit.
''Papa kenapa tu, Ma?'' tanya Alan melihat raut wajah papanya yang memerah.
Bu Yanti menoleh, baru manyadari kalau dari tadi kukunya yang panjang itu sudah menancap di kulit pak Heru.
Maaf ya pa, sakit ya, meniup bekas cakaran kukunya.
Pak Heru menggeleng.
Al, Din, kalian cepat pulang, kalau nggak mau papa darah tinggi karena ulah mama kamu setiap hari, timpal pak Heru lagi.
Dinda menatap wajah Alan yang dari tadi senyum senyum melihat tingkah kedua orang tuanya.
''Ma, Dinda mengambil ponsel dari tangan suaminya.
Alan menggeleng kecil seakan melarang Dinda untuk mengucap sesuatu.
''Ma, sebelum aku pulang, aku ingin mengatakan sesuatu sama mama, dan aku akan terima apapun keputusan mama.'' ucap Dinda sedikit ragu, namun semua harus jelas sebelum terlanjur.
Apa, jangan bikin mama takut, kalian nggak cerai, kan?''
Dinda dan Alan menggeleng.
''Ma, rahim aku diangkat, itu artinya aku tidak bisa mengandung lagi, aku tidak bisa memberi cucu untuk mama. Dan sekarang semua keputusan ada di tangan mama, jika mama masih merestui hubungan aku dan kak Alan, aku akan pulang, tapi jika tidak, Aku akan tetap disini bersama Ibu dan bapak.'' ucap Dinda panjang lebar.
Aku nggak mau punya menantu yang nggak bisa punya anak. ucap Mama Yanti.
Seketika Alan terlihat marah, namun pria itu masih diam dan merangkul Dinda yang sesenggukan, sedangkan pak Heru yang masih setia di sampingnya ikut tercengang.
Tapi bohoong......Apapun keadaan kamu, mama sudah jatuh cinta sama kamu, kalian bisa adopsi, kamu perempuan yang baik, dan mama percaya kalau kamu dan Alan di ciptakan untuk bersama, cepatlah pulang sebelum mama yang ke sana untuk jemput kamu.
Mendengar ucapan Bu Yanti, sontak Alan mencium pipi Dinda di depan kedua orang tuanya.
''Kami akan pulang, tapi mama harus siapkan rumah baru untuk kami tinggal.'' ucap Alan, karena memang itu yang ia mau, memulai dari awal kehidupan yang baru dan di tempat yang baru pula.
Seminggu lagi mama pastikan rumah baru kalian sudah siap di tempati. jawab Bu Yanti dengan senyuman.
Setelah puas bicara dengan mamanya, Alan mematikan ponselnya dan kembali menarik selimut, hingga keduanya terlelap.