
''Aku nggak nyangka, ternyata kamu juga bisa selingkuh.''
Dinda makin tak mengerti dengan ucapan Syntia. Bagaimana bisa wanita itu mengucapkan kata kata yang tak pernah di lakukannya. Jangankan selingkuh, mengenal laki laki pun hanya Daka, itupun sahabat dari suaminya. Dan Alan tak pernah membiarkannya melayani laki laki lain saat di konveksi maupun butiknya. Lalu darimana Syntia tau?
''Maksud mbak apa?''
Dinda beranjak, hingga keduanya saling tatap. Ingin sebuah penjelasan yang tak di mengerti.
Sedangkan Alan hanya diam, menurutnya nggak penting menanggapi wanita yang sudah sah berstatus mantan tersebut. Selagi dia tak macam macam pada Dinda, Alan pun tak mau turun tangan.
''Jangan pura pura sok polos." Syntia kembali menegaskan seraya menatap Alan yang masih betah duduk.
Maksud Mbak Syntia apa sih, selingkuh dari mana, keluar saja baru kali ini, dan setiap keluar perasaan aku selalu sama kak Alan.
''Terserah mbak deh, mau bilang aku selingkuh main serong, atau tidur dengan laki laki lain, aku nggak peduli. Dan kedatangan Mbak sangat mengganggu nafsu makanku.''
Dinda kembali duduk dan meraih tangan Alan. Moodnya sudah hilang, bahkan makanan pesanannya masih setengah pun tak di habiskan.
''Apa dokter tau siapa suami wanita ini?''
Alan mengangguk tanpa suara. Dari lubuk hatinya yang terdalam ingin sekali tertawa lepas, namun itu hanya bisa di tahannya.
''Kenapa Dokter masih juga jalan sama dia?''
Masih saja kekeh tak mau pergi, padahal Dinda sudah tak mau meladeninya lagi.
Melihat Syntia yang terus saja ngotot, Dinda kembali berdiri dan berkacak pinggang. Darah tingginya naik dan ingin sekali menampar wajah Syntia, namun itu semua di urungkannya saat Alan menggenggam tangannya dengan erat.
''Ini itu, _ ucapan Dinda mengambang saat ia menoleh ke arah suaminya.
Oh... iya pantesan mbak Syntia nganggap aku selingkuh, jadi dari tadi kak Alan nggak ganti baju. Lucu juga, geli aku lihat kumisnya. Itulah suara hatinya.
Alan yang melihat mantan istrinya marah marah nggak jelas itu menarik pinggang Dinda dan membawa ke pangkuannya. Lalu menciumi wajahnya bertubi tubi, seolah olah menantang Syntia yang sudah tersulut emosi.
''Silahkan di poto, Mbak, nanti kirimin saja ke suaminya, biar di kurung dia.'' Akhirnya Alan membuka suara sebagai dokter Tono.
Alan memeluk tubuh Dinda dengan erat, menunjukkan kemesrananya di depan Syntia saat menatapnya beberapa kali dengan hati yang cekikikan.
"Oh.. iya Mbak, jangan lupa segera kirim ya!" Imbuh Dinda menepuk lengan Syntia.
Mereka ini nggak waras apa ya, selingkuh tapi di pamerin, awas kamu Dinda, jika aku tak bisa di sisi mas Alan, kamu pun juga tak bisa.
''Ada apa ini?'' Tiba tiba ada Dokter Daka membuyarkan drama antara Dinda dan Syntia.
''Ini, Mbak Syntia datang tiba tiba saja bilang kalau aku selingkuh.'' Dinda merasa jengkel, suasana yang di kira akan baik malah jadi buruk.
Daka hanya manggut manggut saja lalu menarik kursi untuk Duduk.
"Dari pada kamu bikin ribut, mendingan pergi dari sini, jangan sampai aku panggil satpam!"
Tak mau peduli dengan Syntia, Daka segera memesan makanan, sedangkan Syntia dan Rey yang merasa tak di anggap pun pergi setelah mendapatkan gambar Dinda saat di pangkuan Alan.
Tak mau berlama lama, tujuan Daka datang untuk menjelaskan masalah Dinda saat operasi, tak panjang lebar karena Alan juga mungkin nggak ngerti, Karena ia hanya memastikan kalau Alan tak boleh khawatir dengan kehamilan sang istri.
''Apa nggak apa apa jarak yang begitu dekat?'' Masih saja Alan terlihat khawatir, karena bayangan itu masih menghantuinya, belum lagi Putranya yang harus meninggal karena penyakit.
''Mulai sekarang kamu harus jaga dinda, jangan sampai kejadian yang dulu terulang lagi.''
Setelah menunggu Daka yang menghabiskan makanannya hampir tiga puluh menit, Alan pergi, kali ini bukan ke rumah melainkan ke rumah sakit, memastikan bayi yang ada di rahim istrinya itu baik baik saja.
Seperti pada umumnya, Dinda langsung saja berbaring di atas brankar ruang perawatan, di temani Alan yang mematung di samping dengan menggenggam erat jemarinya.
Tak banyak bicara karena Alan pun tak mengerti dengan gambar layar monitor, baginya hanya bisa menunggu Daka yang begitu lama memeriksa perut sang istri.
"Kamu sengaja berlama lama untuk terus menyaksikan perut istriku?" nada sewot, saat Daka belum juga selesai.
"Iya, habisnya seksi." bualan yang tak berfaedah membuat Alan seketika menoyor jidatnya.
Bukan Daka jika tak membuat hati Alan kesal dan terus memarahinya.
"Kamu lihat deh ini!" menunjuk dua buah gambar yang membulat dari layar.
''Apaan?'' Alan tak mengerti dan malah takut saat Daka terus mencari layar itu kembali.
''Anak kalian kembar.'' ucapnya Seketika lalu menutup baju Dinda.
Alan melongo, begitu juga dengan Dinda yang masih tak percaya dengan ucapan Daka.
''Maksud kamu?'' tanya Alan memastikan.
''Bayi Dinda ada dua, dan kamu sebagai bapak harus lebih waspada lagi, jangan sampai dia kelelahan, dan kerja berat, aku nggak mau terjadi sesuatu dengan calon keponakanku.''
Dengan pedenya Daka mengakui janin yang masih sebesar biji kacang polong itu keponakannya. Karena sebentar lagi pria yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu akan menghalalkan Salma.
Alan menitihkan air mata lalu memeluk Dinda yang baru saja bangun.
"Tuhan mengembalikan putra kita.'' ucap Dinda di sela sela tangisnya.
Alan mengangguk, membenarkan apa yang di ucapkan Dinda, bahwa Tuhan begitu baik padanya dan mengembalikan Aldianysah ke pelukan mereka. Sebuah anugerah yang tak pernah terlintas, kalau mereka akan menimang dua bocah sekaligus.
''Iya, dan aku akan menjaga kalian dengan baik.'' menangkup pipi Dinda lalu kembali merengkuhnya.
Terima kasih Tuhan, Engkau mengembalikan anak kami, dan aku berjanji akan menjaga titipan Mu.
Sedangkan Daka ikut tersenyum dari balik gorden saat melihat keduanya. Akhirnya sahabatnya itu bahagia bersama wanita yang di cintainya dan mencintainya apa adanya, bukan karena harta belaka.
''Daka.'' panggil Alan saat ia kembali ke ruangan Dokter Daka.
''Anak aku cewek apa cowok?'' Sebuah pertanyaan yang konyol itu pun meluncur dengan spontan.
Daka tak menggubris, baginya sahabatnya itu terlalu bodoh dengan hal begituan.
''Kenapa kamu nggak jawab?'' tanya lagi Alan terlihat serius.
''Kak.'' kini Dinda lah yang menjawab.
''Ini kan baru satu bulan, dan jenis kelaminnya baru bisa di ketahui setelah umur empat bulan nanti.'' Jawab Dinda lembut.
''Bikinnya saja pintar, masalah begituan oon banget suami kamu.'' Cecar Daka.
Setelah mendapat resep dari Daka, Alan pun kembali keluar dari ruangan sahabatnya tersebut.
Sedangkan seperti biasa Daka menelepon sang kekasih saat tak ada pasien. Pacaran jarak jauh membuatnya selalu merasakan kerinduan yang mendalam.