Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Pasrah


Ingin mendapatkan cinta Alan bagaikan menggapai sang surya itulah menurut Dinda, wanita itu kini membuang jauh jauh keinginannya untuk bisa merebut hati suaminya, mungkin kemarin adalah yang terakhir dirinya mengharapkan sebuah keinginan dari Alan, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, karena ia tak mau kecewa untuk yang ke sekian kali.


Agak terlambat, itulah Dinda pagi ini karena semalam asyik membuka kado dari mertua dan abang serta calon kakak iparnya.


''Pagi kak, Mbak,'' menarik kursi dan mengambil piring, Dinda mencoba melupakan kejadian pahit kemarin dan menampakkan senyumnya yang memamerkan gigi gingsul serta lesung pipitnya.


Menatap Dinda kesusahan Bi Romlah langsung saja berlari membantunya mengambil lauk.


''Ma kasih Bi,'' kembali tersenyum, sedangkan Syntia maupun Alan yang melirik saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Kenapa aku merasa bersalah sama Dinda, batin Alan.


Pria itu mengunyah makanannya dengan pelan sembari menatap Dinda yang makan dengan lahapnya, tak memperdulikan Syntia yang dari tadi mengamatinya.


''Ada yang aneh denganku?'' ucap Dinda tanpa menghentikan makannya.


Alan tak menjawab hanya berdehem, entah apa maksudnya Dinda tak mau terlalu peduli dengan suaminya.


''Mas, aku pergi dulu ya,'' mencium pipi Alan dan berlalu, kini tinggal Alan dan Dinda yang ada di meja makan, hening, keduanya tak saling bicara, hanya dentuman sendok dan piring yang terdengar.


''Kamu kenapa?'' tanya Alan tanpa menatap.


Seketika Dinda meletakkan sendok dan garpunya pelan.


''Kenapa kakak mesti tanya, aku nggak kenapa napa, aku hanya bahagia saja menadapat kado spesial dari mama, papa, Bang Faisal dan juga mbak Amel, bi Romlah dan yang lain,'' ucap Dinda dengan santainya.


Alan yang mendengar merasa tersindir karena di antara orang terdekat Dinda hanya dirinya yang tidak memberikan apapun di hari ulang tahun istrinya bahkan Alan membatalkan permintaan yang begitu sederhana dari Dinda.


''Aku berangkat,'' tanpa menatap lagi Alan melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


''Mau sampai kapan hubungan kita seperti ini kak, aku juga ingin seperti wanita lain yang di sayang jika suaminya mau kerja, dan menyambut di saat kamu pulang, tapi apa, selama ini aku hanya menjadi patung di rumah ini.''


''Bi,'' panggil lagi Dinda saat semua pergi, dan kini hanya tinggal dirinya dan asisten rumah tangganya.


''Iya non, butuh sesuatu lagi?''


''Nggak, aku cuma mau minta bibi menemani aku di kamar, aku ingin menyelesaikan jahitan baju yang sudah terlanjur aku potong,'' ucapnya meraih tangan Bi Romlah.


''Baik non, dengan senang hati, akan Bibi bantu, kalau Non membutuhkan bibi untuk membeli sesuatu Bibi juga siap,'' Bi Romlah sengaja menawarkan diri kasihan lihat Dinda yang tak pernah menemukan kebahagiaannya.


Setelah keduanya di kamar, Dinda kembali membongkar baju yang setengah jadi dari kantong kreseknya, sedangkan Bi Romlah mencari sisa manik manik yang akan di pasangnya.


''Non, kok nggak ada yang sama ya, menempelkan kancing dan kainnya?''


''Kemarin aku nggak jadi beli Bi, soalnya Mbak Amel buru buru, apa bibi bisa belikan sekarang?'' mengambil dompet di dalam laci, untung uang sisa masih ada, jadi Dinda tak perlu repot repot mengambil di ATM.


''Bisa non, yang kayak gi mana?'' tanya Bi Romlah serius, takut salah.


Dinda menatap layar ponselnya lalu menyodorkan ke arah Bi Romlah.


''Bentar ya Non, Bibi akan segera kembali.'' menerima uang dari Dinda.


Seperginya Bi Romlah, Dinda menelpon bang Faisal memberi tau kalau Ia mengambil uang darinya.


Meskipun berulang kali bang Faisal bilang tidak apa apa, faktanya Dinda pun merasa nggak enak, karena saat ini Ia bukan lagi tanggung jawab Faisal, melainkan sepenuhnya tanggung jawab Alan.


Setibanya di kantor Alan sedikit linglung dengan apa yang di katakan Dinda tadi, benar apa kata wanita itu, di usia pernikahan yang hampir lima bulan itu Alan sekali pun tak pernah memberi sesuatu untuk Dinda, dan ucapan sang istri tadi pagi membuatnya sadar, kalau Ia sudah mengabaikan wanita itu.


''Al,'' suara Faisal dari belakang mengejutkan Alan yang sedang berkelana dengan otaknya.


''Kamu, kirain siapa,'' dengan nada gugup Alan menjawab.


Faisal mengernyit, ''Kamu kenapa, sakit?'' menempelkan punggung tangannya di kening Alan.


''Nggak, cuma capek saja,'' mengelus tengkuk lehernya.


Mendengar penjelasan Alan, Faisal malah tertawa lepas.


''Iya, Dinda juga bilang gitu, capek katanya, jalan ke mana saja, pasti Dinda merepotkan kamu, dia itu manja, tapi aku salut, ternyata di balik kepolosannya dia begitu dewasa, bahkan dia juga bisa menjadi istri kamu dengan baik.'' ucap Faisal yang kini malah duduk di depan Alan.


Apa maksud Faisal, apa dia nggak tau kalau kemarin aku sama Dinda nggak jadi jalan, apa jangan jangan Dinda yang bilang dan menutupi semuanya.


Alan yang tersenyum kikuk bingung mau jawab apa, karena seharian dia pun tak keluar kamar, apa lagi keluar rumah dan Alan pun tak melihat batang hitung Dinda kala itu.


''Muter muter saja di jalan raya,'' akhirnya jawaban itu yang meluncur, lumayan untuk mengelabuhi kakak iparnya.


''Itu sih memang sukanya dia, jalan, kalau di kampung dia lihat sunset di bukit, sehari aja tak melihat, pasti aku yang jadi korban amukannya.'' Kini Faisal malah mengingat masa itu, masa di mana adiknya sangat ceria, tiada masalah yang menerpa, dan tiada kesedihan yang melanda.


Namun kini berbeda, semenjak menikah gadis itu selalu saja bermandikan air mata yang tiada satu pun keluarganya yang tau.


Mau sampai kapan aku menyembunyikan ini semua, bagaimana jika Faisal tau, kalau kemarin aku tidak jalan dan hanya menunggu Syntia di rumah.


Makin pusing aja Alan, namun tetap, pria itu terlihat biasa di depan Faisal.


''Ini aku bawa laporan kemarin saat kamu nggak masuk, ada pengiriman bahan dari luar negeri, dan nanti akan ada penyetoran kain ke perusahaan Tante Yanti.'' Menyodorkan beberapa map yang dari tadi mengisi tangannya.


Tak mau membuang waktu, Alan langsung mengecek dokumen dari abang ipar sekali gus sekretarisnya itu.


''Baiklah, kalau gitu nanti siang agendakan rapat, kita akan menggaet perusahaan mama untuk menjadi dukungan kita, sekarang kamu keluar aku ingin sendiri,'' beranjak dari kursinya menuju kamar pribadinya.


Sedangkan Faisal yang tak curiga sedikit pun langsung keluar menuju ruangannya.


Alan menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya, otaknya semrawut antara menyesal dan merasa bersalah pada Dinda.


''Apa selama ini aku keterlaluan, apa dia sangat menderita dengan perlakuanku, tapi tidak, dia hanya orang ketiga yang berani masuk ke kehidupanku dan Syntia, dan itu yang harus di tanggungnya.''


Tak mau larut dalam otaknya yang kesana kemari, Alan kembali bangun untuk fokus bekerja.