Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Ulang tahun


Ada masa di saat kita sedih, ada masa juga di mana kita harus gembira, siang pun berganti dengan malam, matahari tenggelam tergantikan dengan rembulan yang kini menjadi penerang langitnya yang begitu gelap, banyak bintang bertaburan, seakan tau isi hati Dinda saat ini, gadis itu selalu mendongak menatap ke atas, satu tahun terlewati lagi, meskipun akhir akhir ini yang di rasakan lebih banyak kegundahan, namun Dinda tetap tegar untuk menjalaninya dan berharap kedepannya akan lebih cerah.


Apakah bulan dan bintang tau kalau malam ini adalah malam istimewanya?


Menggenggam layar ponsel ditangannya dan sesekali menatap layarnya, menunggu sebuah telepon dari Bapak dan Ibunya, seperti tahun lalu Dinda selalu saja mendapatkan ucapan selamat dan kue tart dari kedua orangnya, serta abangnya, meskipun sederhana Dinda tetap merasa bahagia, namun saat ini yang ia harapkan hanya ucapan dan doa.


Jarum jam sudah menunjukkan 23.30 malam, jantung Dinda makin berdetak tak karuan, menanti bertambahnya umur yang menginjak sembilan belas tahun, meski dirinya tak selalu bahagia, Dinda merasa bersyukur masih di beri kenikmatan jasmani dan rohani.


Bapak, Ibu, meskipun aku tidak dapat kado dan kue dari kalian, aku tetap bahagia karena di tahun ini aku memberi seorang cucu untuk kalian dan juga mama Yanti.


Mengelus perutnya yang mulai membuncit.


''Bang Faisal ingat nggak ya hari ulang tahunku?'' gumamnya lagi, sedikit jengkel karena sang abang selalu saja terlambat ngucapinnya, meskipun kadonya selalu paling mahal di antara keluarga yang lain, tetap datangnya terlambat dua hari, dan itu yang membuatnya gemes.


Dinda kembali menatap layar ponselnya, detik detik penantiannya tinggal menunggu menit, seperti biasa gadis itu selalu tidur setelah mendapat ucapan dari Pak Yanto dan Bu Tatik.


''Kenapa aku merasa deg degan sih, kini Dinda mengabsen lantai ke sana kemari dan belum menutup pintu yang menuju balkon kamarnya, angin malam makin sepoi menerpa, namun Dinda tak ingin menutupnya, dan selalu saja menyapa bulan yang tersenyum padanya.


Jam sudah menunjukkan hama 12 malam namun ponsel Dinda masih saja tak berdering, di tatapnya lekat lekat berharap nama Bapak berkelip, namun sampai sepuluh menit berlalu tak ada satu pun dari keluarganya yang menelepon membuatnya melemah dan memilih duduk di tepi ranjang.


Apa bapak sama Ibu lupa ya kalau hari ini adalah ulang tahunku, tapi nggak biasanya.


Namun Dinda langsung tersentak kaget saat mendengar bunyi petasan di balik balkon yang di bawahnya tepat dengan taman rumah Alan.


Tak bisa berkata Dinda malah menangis sesenggukan, apakah itu untuknya? siapa yang membuat kejutan itu? apakah suaminya? ataukah abangnya?


Dengan langkah kecilnya Dinda menghampiri balkon kamarnya dan tersenyum, betapa indahnya kembang api yang berkelip menghiasi malam serta bunyi petasan yang tak kalah menggema.


Luar biasa.


''Siapa yang membuat kejutan ini, apa bang Faisal, atau kak Alan, ucapnya di sela sela tangisnya.


Dinda jatuh cinta pada suasana itu dan rasanya tak ingin gemebyar lampu itu menghilang, betapa bahagianya hatinya, tak menyangka, ada sebuah kejutan yang tak terduga di malam ulang tahunnya.


''Kamu bahagia?'' suara dari bawah menggema membuatnya lagi lagi tersentak kaget.


Itu suara kak Alan, artinya dia yang mempersembahkan semua ini untukku, aku nggak nyangka dia tau hari ulang tahunku.


Dinda menghirup dalam dalam udara untuk lebih melangkah maju dan menunduk menatap bawah arah taman.


''Ba, _ ucapan Dinda berhenti, dadanya langsung sesak, bahkan Dinda harus menahan nafas, kakinya tiba tiba saja lentur saat mendapati pemandangan yang membuatnya lemas seketika.


Wanita itu mencoba mencari pegangan untuk tidak runtuh dan tetap berdiri kokoh seperti bangunan.


''Kamu mau kado apa?'' lagi lagi suara familiar itu menembus gendang telinganya.


''Aku sih terserah kamu saja, mas,'' kamu pasti taulah, kado apa yang aku suka,'' jawabnya dari pertanyaan itu kini membuat Dinda menitihkan air mata dan memilih untuk mundur jauh jauh dan menutup pintunya.


Dinda memilih untuk duduk di lantai di atas karpet.


''Kamu itu siapa Dinda, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah mendapat hadiah semua itu dari suami kamu, tidak usah berharap, nyanyi saja sendiri, jangan mengenaskan, apa tanpa kejutan kamu akan mati, tidak, teruslah lihat kedepan, mungkin ini bukan saatnya kamu mendapatkan itu, tapi tahun depan kamu pasti akan mendapatkannya,'' mencoba tersenyum lebar dan menyeka air matanya.


Namun kali ini Dinda memang tak bisa diam saat suara tepuk tangan dari bawah itu kembali mengonyak telinganya, penasaran seperti apa Alan merayakan ulang tahun istri pertamanya.


Dinda mematikan lampu balkon dan mematung di sana.


Ternyata Syntia sedang tiup lilin, dan di sampingnya sudah tersaji makan malam yang tak kalah romantis.


''Kamu itu sudah capek mas, masih saja kamu ingat ulang tahun aku,'' ucap Syntia memeluk tubuhnya di tengah dinginnya malam.


''Sesibuk apapun aku, aku tidak akan pernah lupa hari ini, dan ini adalah kado untuk kamu,'' menyodorkan sebuah kotak kecil di depan istrinya sembari mencium keningnya.


''Apa ini?'' tanya nya menerima kotak itu dan membolak balikkannya.


''Di buka saja, biar kamu nggak penasaran lagi,'' titahnya.


Dengan sigap Syntia membuka kado dari Alan, setelah menatap benda kecil yang berharga itu Syntia langsung saja loncat di pelukan Alan.


''Ini beneran, mas?'' tanya Syntia, masih tidak percaya, kalau suaminya akan memberinya sebuah mobil pengeluaran terbaru, di mana mobil itu idaman kamu hawa termasuk dirinya.


Alan mengangguk dan berbisik, ''Beneran, tapi malam ini kamu juga harus kasih kado ke aku yang special,'' tegasnya berbisik.


Syntia kembali mendaratkan sebuah ciuman lembut di pipi suaminya, ''Pasti, malam ini aku akan membuat kamu terbang sampai besok lupa akan kantor,'' balas berbisik, namun Alan masih bisa mendengarnya dengan jelas.


''Ya sudah, kalau gitu kita makan malam dulu, nanti di lanjut di kamar,'' membawa Syntia yang ada dalam gendongannya itu duduk.


Dinda yang masih dengan jelas menatap adegan itu tersenyum dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


''Mereka sangat romantis, dan aku harap keharmonisan mereka tidak akan pudar karena kecerobohan Mbak Syntia.''


Setelah puas bermonolog dan menyaksikan acara ulang tahun Syntia, Dinda membaringkan tubuhnya dan berharap memejamkan mata bisa melupakan kesedihan yang lagi lagi melanda.


Semoga mimpi yang indah Dinda, meskipun tak ada yang ngucapin selamat ulang tahun, kamu sudah mempunyai kado terindah, yaitu seorang bayi yang tidak akan bisa di miliki oleh Mbak Syntia.


Dinda mengelus perutnya dan membawanya ke alam fatamorgana berharap esok akan lebih baik.