
Tawa menggema di salah satu ruangan Cafe yang Faisal pesan, rasanya kembali mengulang masa remaja mereka, di mana selalu menghabiskan malam di sana sebelum mengenal seorang kaum hawa yang masuk dalam kehidupannya, Faisal dan Alan serta Daka tak pernah bisa untuk bersama, meskipun tak ada pembahasan yang serius namun tidak lengkap jika sehari tak berkumpul.
''Abang tadi jemput Daka?''
Tanya Alan heran, padahal mereka tak memberi tau Daka, tapi abang iparnya malah datang dengan dokter somplak itu.
''Tidak, tadi ketemu di depan,'' jawab Faisal meneguk jus yang sudah tersaji di depannya.
Alan hanya manggut janggut mengerti.
''Gi mana keadaan Dinda?''
Kini giliran Daka buka suara, mengingat Dinda yang baru saja di bawa pulang.
''Baik, dan aku pastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.''
''Kan Syntia sudah ada di sarang burung yang berbisa, pastilah satu menit di sana ia sudah di patok dan tak bisa ke mana mana.'' Cetus Daka yang mendapat cerita dari Faisal tentang persidangan mereka.
Ketiganya hanya bisa bergelak tawa.
Meskipun masih membingungkan dengan pernyataan abang iparnya tentang burung berbisa, Alan tak perlu khawatir lagi dengan munculnya mantan istrinya tersebut.
Dua jam ketiga serangkai itu menghabiskan waktunya di cafe, meskipun hanya obrolan konyol nyatanya mereka terlihat bahagia, apa lagi Alan kini tak se kaku saat bersama Syntia.
Ting tung, tiba tiba aja bunyi notif ponsel Daka membuyarkan suasana.
Pria itu merogoh saku celana dan membuka benda pipihnya.
''Gawat.'' Menepuk jidatnya setelah membaca pesan chat yang masuk.
Tanpa berpikir panjang Daka meneguk minuman yang tinggal sedikit dan menyambar jaketnya lalu beranjak.
Alan dan Faisal hanya memandang aneh ke arah sahabatnya yang kini terlihat panik.
''Ada apa?'' tanya Faisal penasaran, tak biasanya Daka segugup itu.
''Aku tadi di suruh beli popok, lupa, bisa kena omel nih.''
Daka langsung berlari keluar, pikirannya sudah terbang ke rumah membayangkan apa yang akan di terimanya jika melakukan kesalahan.
Tiga puluh menit Daka meninggalkan cafe dan kedua sahabatnya, kini Daka sudah tiba di depan rumahnya.
Segera pria itu berlari menuju pintu utama.
''Sayang, aku datang.'' Berpura pura untuk tidak gugup menghadapi Salma yang saat ini sudah di ambang kemarahan.
Tak ada sahutan, Daka langsung menuju kamarnya mencari sosok yang menemani hidupnya selama empat tahun.
Setelah membuka pintu Daka mengulas senyum menatap istrinya yang sibuk memberi ASI bayi kecilnya, sedangkan Saka sudah tertidur pulas.
''Sayang, ini popoknya.'' mendekati Salma.
Masih juga tak ada jawaban, Daka mencium kening Salma yang terlihat cemberut.
''Maaf aku lama ya,'' masih dalam pura pura Daka merengkuh tubuh Salma dari samping.
''Nggak sekalian saja tidur di luar,'' ucap Salma ketus.
Udah kayak emak emak berdaster kalau lagi marah, tapi jangan sebut dokter Daka jika tak bisa meluluhkan hatinya.
''Kalau di luar kan dingin, nanti siapa yang peluk kamu.'' ucap Daka menimpali.
Setelah si kecil terlelap Salma segera menidurkannya dan kembali mendekati suaminya yang kini duduk di tepi ranjang.
''Nggak mungkin kan macet?'' imbuhnya lagi sebelum Daka memberi alasan yang tidak masuk akal.
''Ke cafe, dengan Alan dan Faisal.'' Akhirnya ia memilih jujur dari pada harus banting otaknya mencari alasan yang tepat.
''Pantas lupa istri dan anak.'' Mendorong tubuh Daka dan memilih untuk membaringkan tubuhnya seraya memeluk Saka yang malam itu memang sengaja tidur di kamar nya.
Tak ikut ikutan marah, Daka tersenyum licik saat menatap mesum lekuk tubuh istrinya yang kini mulai seksi.
''Kayaknya kita harus sudah mulai produksi lagi deh,'' bisiknya menarik selimut yang di pakai istrinya.
Salma terbelalak mendengar ucapan suaminya.
''Maksud mas apa?'' tanya Salma memiringkan tubuhnya menatap wajah Daka yang nakal.
''Produksi dedeknya Manda, kan dia sudah hampir dua bulan, masa iya aku harus puasa terus.'' mengiba.
Namun kini Salma mulai pintar menghadapi suaminya yang jago merayu, wanita itu kembali memeluk Saka dan memunggungi Daka.
''Nggak ada produksi produksi, karena mas sudah membuat kesalahan, malam ini jadi libur.'' tegasnya.
Gawat, istri ku sudah mulai pinter nolak, kuliah di mana dia, apa Amel dan Dinda yang menjadi gurunya.
Daka sedikit heran dengan perubahan Salma, jika dulu wanita itu selalu saja mudah di perdaya, kini Daka harus memutar otak untuk bisa meluluhkan hati istrinya.
Daka membuka kemeja yang di pakainya lalu meringsuk tubuhnya hingga menempel dengan tubuh Salma.
''Sayang aku kedinginan nih,'' ucapnya pelan.
Buaya di kadalin, nggak mempan.
''Selimut kan banyak di lemari ngapain kedinginan bilang bilang.''
Buaya betina harus dijinakin.
Sepertinya kedua pasangan ini bicara lewat bahasa kalbu mereka hingga membuat Daka maupun Salma tak menyerah begitu saja dan terus berusaha mempertahankan ego masing masing.
Daka kembali berkelana memikirkan cara apa lagi untuk membuat Salma jatuh ke dalam dekapannya malam ini, padahal janji Salma tadi akan memberikan apapun yang Daka minta jika mau membelikan popok, namun karena sebuah kesalahan Salma mengingkari janjinya karena Daka sudah membuatnya kesal.
''Sayang, aku kan sudah minta maaf, ayolah, kamu nggak kasihan, aku sudah puasa empat puluh hari lebih ini, nanti karatan gimana?''
Masih dengan rayuan recehnya Daka memelas. tak hanya itu Daka terus saja menggelitik pinggang Salma yang ada di balik selimut.
Karena kegelian dengan tangan Daka yang jahil, akhirnya Salma tak bisa menahan tawanya, dan itu membuat Daka merasa menang sudah meruntuhkan amarah Salma.
''Sudah bisa tersenyum, itu artinya aku di izinin dong?'' tanya Daka. Bagaikan pengantin baru, Daka begitu lembut dalam bersikap demi sebuah misi yang memang sudah di pendamnya semenjak lahirnya Manda.
Keduanya saling menatap manik mata pasangan, tak ada alasan bagi Salma untuk menolak, toh selama menikah Daka adalah laki laki idamannya, tak pernah membuat hidupnya susah dan selalu memberi apa yang diinginkannya.
Akhirnya mengangguk adalah jalan satu satunya bagi Salma untuk keluar dari masalah malamnya bersama sang suami, mungkin dengan menuruti kemauan Daka, Salma bisa tertidur setelah melakukan kewajiban sebagai seorang istri.
Rupanya malam itu tak hanya Daka yang harus bersusah payah merayu istrinya, Alan dan Faisal pun sama, bahkan Dinda dan Amel bersekongkol untuk membuat kedua laki laki itu jera, karena mereka lebih parah dari pada Daka yang hanya menghabiskan waktu dua jam, Alan dan Faisal hingga empat jam di cafe. Kayak pria lajang yang tak punya tanggung jawab saja. Padahal di rumah Dinda di repotkan dengan si kembar yang tak mau di urus sama mbak, nenek, maupun omanya.
''Lain kali aku tidak akan keluar lagi.'' Seperti bocah SD yang sedang terkena hukuman, Alan menjewer kedua kupingnya dengan mengangkat satu kakinya di depan Dinda.
''Makanya, lain kali harus ingat waktu, kakak tau nggak, aku itu khawatir, apa lagi ini sudah larut malam.''
Alan mengangguk dan memeluk renggang Dinda yang mematung di depannya.
Namun berbeda dengan Daka yang masih engeh dengan hasratnya yang menggebu, kali ini nyali Alan menciut dan tak berani meminta jatah saat melihat wajah istrinya yang di tekuk.
Libur libur libur, ini gara gara bang Faisal yang tidak mau di ajak pulang, awas saja besok.