
Setelah susah payah melewati pintu yang sangat sempit, kini ranjang besar mewah yang baru saja datang itu sudah tertata rapi di dalam kamar Dinda, begitu juga dengan punya yang lain yang sudah terpasang di kamar masing masing. Alan hanya bisa mengumbar senyum lega dan berharap malam ini akan melewati malam panjang bersama sang istri di ranjang luas nan nyaman.
''Kamu suka?'' tanya Alan mengabsen kamar Dinda yang nampak lebih indah dengan barang barang yang mewah. Kini pria itu membaringkan tubuhnya mencoba seberapa empuk kasur mahalnya.
Dinda yang dari tadi merapikan meja rias barunya itu menghampiri Alan dan iseng duduk di atas paha sang suami.
Alan terbelalak dan menilik jam yang melingkar di tangannya, baru juga jam tujuh malam, masa iya, ia mau memulai aksinya saat ini, karena tanpa aba aba Dinda mengganggu senjatanya yang sedang tertidur pulas.
''Suka nggak suka sudah terlanjur.'' jawab Dinda mengerucutkan bibirnya, masih sebel dengan Alan yang mengubah kamar tanpa persetujuannya.
Belum puas duduk, Alan sudah menarik tubuh Dinda hingga jatuh di atas tubuhnya.
''Kak,'' cicit Dinda mencengkal tangan Alan yang sudah memeluk pinggangnya dengan erat.
''Apa?'' pura pura bodoh, padahal Alan tau kalau istrinya sudah terlihat malu malu takut.
''Kita keluar dulu, bentar lagi makan malam,'' pinta Dinda berharap bisa terlepas dari perangkap suaminya.
Tak semudah itu untuk meloloskan diri dari singa yang sudah kelaparan, Alan makin tak bisa menahan hasratnya saat tubuh Dinda yang menempel di tubuhnya itu terus bergerak.
''Bentar saja, aku janji nggak akan lama kok.'' Pinta Alan melas, suaranya serak menahan hasratnya yang sudah menggebu.
Dinda menyandarkan kepalanya tepat di dada bidang Alan, tak tau lagi harus ngomong apa, menolak kasihan, Alan terlihat sangat menginginkan dirinya, jika ia menurut, pasti Ibu dan bapaknya nunggu.
''Tapi,_ Dinda menghentikan ucapannya saat Alan menarik tengkuk lehernya dan membungkam mulut Dinda dengan sebuah ciuman manis.
Kali ini Dinda tak bisa berbuat apa apa selain menerima perlakuan Alan.
''Kak,'' bisiknya lagi saat Alan membuka kancing bajunya, wajahnya terlihat resah, ingatannya kembali saat pertama kali Alan bermain dengan cara kasar.
''Aku minta maaf, kali ini aku akan melakukannya pelan, jangan khawatir.'' meyakinkan Dinda untuk tidak takut.
Dinda mengangguk pelan tanda menerima, karena tak ada alasan lain untuk menolak keinginan suaminya.
Setelah mendapat lampu hijau Alan kembali melanjutkan aksinya dan tak memberi kesempatan buat Dinda untuk bicara, apa lagi untuk menghindar, namun Alan menepati janjinya, ia melakukannya dengan begitu lembut dan pelan seperti yang di inginkan Dinda, tak pernah terbayang, kalau malam ini akan menjadi malam yang indah bagi keduanya, setelah sekian lama menunggu, kini Alan benar benar memberi nafkah batin untuk istrinya, bukan hanya menyalurkan hasrat, namun berharap Dinda puas dengan kenikmatan yang di berikannya.
Tok.. tok.... tok.... tiba tiba saja suara ketukan pintu membuat Dinda dan Alan terbelalak.
Alan membungkam mulut Dinda dengan tangannya.
''Siapa?'' teriak Alan tak mau membuat gerangan yang mematung di depan pintu menunggu.
''Aku, semua nungguin kalian di meja makan.'' ternyata suara Faisal.
Alan tersenyum jahil dengan tangan masih di mulut istrinya.
''Nanggung bang, baru mulai ini, kalau kelamaan tinggalkan saja, nanti aku makan malam dengan Dinda.'' Jawab Alan sedikit meninggikan suaranya.
Faisal mengernyit dan mencerna ucapan Alan.
''Nanggung, baru mulai, memang lagi ngapain, jangan jangan.....
Alan tak melanjutkan terka nya saat pikirannya menjalar ke sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
''Dasar adik ipar sialan, awas saja kalau nanti keluar, aku gelantungin di pohon depan, biar di cium mak kunti.'' gerutunya saat kembali ke meja makan.
Dengan muka datar Faisal langsung duduk di tempatnya.
''Mana Dinda dan Alan?'' tanya Pak Yanto.
''Tinggal saja pak, katanya nanti mau makan malam sendiri, sekarang mereka lagi bersihin kamarnya.''
Semuanya hanya bisa manggut manggut mengerti.
Sedangkan di dalam kamar, Alan dan Dinda yang baru saja melakukan malam indahnya mengatur nafasnya yang sempat tersengal, bahkan Dinda ngos ngosan dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya.
''Terima kasih.'' ucap Alan saat mencium kening Dinda lalu memeluknya dari samping.
Ini bukan yang pertama mereka melakukannya, tapi Dinda merasa ini adalah yang terindah yang ia rasakan.
''Aku lapar,'' ucap Dinda pelan, setelah tenaganya terkuras habis untuk melayani suaminya.
''Bentar,'' Alan beranjak dan melangkahkan kakinya menuju pintu, lalu membukanya dan menyembulkan kepalanya keluar, ternyata sepi, lampu juga sudah di ganti dengan lampu remang, itu artinya semua sudah pada istirahat di kamar.
''Kita ke kamar mandi dulu ya, nanti aku siapkan makanannya.''
Setelah memakai baju dan mengambil baju ganti, keduanya berjalan menuju kamar mandi yang ada di belakang karena kamar mandi rumah Dinda hanya ada satu, jadi mau tidak mau mereka harus keluar dari kamarnya.
Setelah Dinda masuk ke dalam, Alan meraih gelas yang ada di rak, namun seketika pria itu terkejut saat ada sebuah tangan yang juga memegang gelas bersamaan.
''Abang.'' serunya, sejak dari kapan datangnya Faisal, Alan pun baru menyadarinya.
''Kenapa? Aku haus,'' tanpa melepas gelas yang ada di genggamannya.
Alan mengangguk, raut wajahnya sedikit malu saat Faisal terus menatapnya selidik.
''Ngapain disini?'' tanya Faisal setelah meneguk segelas air putih. Padahal Faisal sudah tau dari gemericik air pasti Dinda ada di dalam.
''Nungguin Dinda. dia lagi dikamar mandi,'' jawabnya sedikit gugup takut kalau Faisal akan mengimintidasi dengan jawabannya saat di kamar tadi.
''Sekarang aku sudah ikhlas melepasnya, jangan sakiti dia dan jangan buat dia menangis.'' menepuk pundak Alan.
Pria itu hanya mengangguk tanpa suara saat Faisal meninggalkannya.
Aku tidak akan menyakitinya lagi, maafkan aku sudah merepotkan abang, dan aku janji akan membuat Dinda se nyaman mungkin saat di dekatku.
Setelah keduanya selesai membersihkan diri, tak lupa Alan mengeringkan rambut Dinda sebelum keluar dari kamarnya, takut jika Faisal mengganggunya lagi seperti tadi, kan malu jika Dinda rambutnya masih basah.
''Kak.'' menarik lengan Alan yang hampir menyentuh tudung saji.
Alan menoleh menatap wajah Dinda.
''Kenapa, katanya lapar?'' tanya Alan.
''Aku pingin makan bakso di depan.'' pintanya manja.
''Ya sudah, kita beli.'' tanpa pikir panjang Alan mengajak Dinda keluar rumah.
''Mana baksonya, nggak ada deh kayaknya.'' ucap Alan saat menengok ke kanan dan kiri jalan yang ada di dekat rumah.
''Kalau jam segini sudah mangkal di ujung sana.'' menujuk ke arah kiri.
Akhirnya Alan dan Dinda memilih naik mobil untuk menghampiri penjual bakso, dari pada jalan di area gelap gelapan, takut Dinda kesandung dan jatuh, nanti Alan juga yang repot karena harus gendong.
Tak lama, hanya butuh lima belas menit, kini mobil Alan sudah terparkir di samping gerobak dorong kang bakso, ada juga beberapa pembeli yang makan di sana dan ada yang di bawa pulang.
''Biar Aku yang beli,'' menghentikan Dinda yang hampir saja turun.
Setelah memesan, Alan kembali mematung di samping mobilnya karena nggak ada tempat duduk yang kosong.
''Neng Dinda,'' panggil seorang pria paruh baya dari samping mobil saat Dinda membuka kaca mobilnya.
''Bapak,'' terpaksa Dinda keluar, nggak sopan jika menyapa orang yang lebih tua di dalam mobil.
Dinda menghampiri pria itu dan bersalaman.
''Bapak beli bakso juga?'' tanya Dinda.
''Iya ini cucu bapak minta di beliin.''
Alan mendekati Dinda yang masih bercakap dengan pria tadi.
''Ini suami, Neng?'' menunjuk ke arah Alan.
Dinda mengangguk dan memperkenalkan Alan ke pria itu yang ternyata adalah pak Lurah.
Sedangkan para pembeli hanya bisa melongo saat menatap penampilan Alan yang tersenyum seraya merangkul pundak Dinda dengan mesra, tak menyangka kalau Dinda anak pak Yanto diam diam sudah punya suami, untung saja pak Yanto melapor saat mau kawinan, jadi nggak salah paham dengan pernikahannya waktu itu.