
Waktu terus bergulir, dalam beberapa minggu Dinda mampu membuat beberapa stel baju, meskipun tak se menarik yang ada di butik Amel maupun Bu Yanti, setidaknya ia bisa menyalurkan hobi yang sudah bersemayam di dalam dada.
Kini ia hanya bisa tersenyum sembari menatap baju yang bergantung rapi, tak menyangka kesibuakannya yang sampai lupa waktu itu membuahkan hasil yang sudah maksimal menurutnya, bahkan untuk makan saja Bi Romlah sering mengingatkan.
''Sayang juga kalau di anggurin, mungkin di jual di butik mama laku kali ya,'' memotretnya berapa kali.
Dinda terus mengukir senyum saat tiba tiba saja ide konyolnya melintas.
Apa aku jual online saja ya, kan lebih mudah, tapi gimana kalau bang Faisal tau, apa dia akan marah.
Masih mikir mikir risiko yang akan di ambil jika ia memaksakan untuk bekerja, meskipun tak terlihat berat dan pantas untuk ukuran istri Alan Sudrajat, Dinda harus berfikir ulang supaya tidak membuat suaminya marah.
Setelah membereskan kembali peralatan jahitnya, Seperti biasa Dinda menghabiskan waktunya dengan asisten rumah tangganya yang selama ini menjadi pendukungnya dari belakang.
Baru saja membuka pintu, Syntia muncul dari balik kamar dengan suaminya, keduanya saling pandang namun tak saling bicara, meskipun beberapa bulan menempati rumah itu Dinda masih saja merasa asing di depan suaminya, terkadang Dinda pun sempat berfikir apakah selamanya akan seperti itu.
Dinda mengurungkan niatnya untuk turun dan memilih untuk kembali masuk, menunggu suami dan istri pertama nya itu pergi, baru Ia bisa leluasa untuk melakukan aktivitasnya di bawah, bosan jika melihat kemesraan mereka yang selalu pamer di depannya.
Dinda membuka buku catatan kehamilan, ternyata hari ini waktunya periksa dan itu membuatnya mengulas senyum karena kata dokter hari ini janin dalam kandungannya sudah bisa di prediksi jenis kelaminnya.
Nanti aku akan minta kak Alan menemaniku periksa, biar dia tau langsung keadaan anak yang aku kandung, batinnya memasukkan buku ke dalam tas.
Dinda kembali keluar, ingin memberi tau suaminya yang mungkin saat ini sedang sarapan bersama Syntia.
Namun setelah sampai di sudut tangga paling bawah, Dinda hanya bisa celingak celinguk tak mendapati Alan maupun Syntia di sana.
Ternyata kak Alan sudah pergi, tapi nggak apa apa deh kan bisa besok.
Baru juga memutar tubuhnya ingin ke kamar ketukan pintu menggema.
Bi Romlah di sana sedang membukanya. ternyata Amel calon kakak iparnya yang datang, seperti biasa Amel hanya sekadar ngobrol dan sesekali membahas tentang fashion seperti keinginan Dinda.
''Mbak Amel,'' serunya menghampiri wanita cantik tersebut.
''Maaf ganggu,'' basa basi, padahal Amel tau kalau Dinda itu pasti kesepian.
''Enggak kok Mbak, Lagi pula aku juga sendirian saat kak Alan kerja, menggandeng Amel dan mengajakanya duduk di ruang keluarga.
''Gimana dengan kandungan kamu, sehat?''
''Sehat Mbak, malah akhir akhir ini sudah bisa gerak lo,'' menempelkan tangan Amel ke perut buncitnya.
''Wah, itu artinya nanti juga bisa datang ke pernikahan Aunti dong, canda Amel sedikit konyol namun itu bisa membuat Dinda tersenyum.
''Iya dong aunty, aku juga ingin di foto dengan pengantin cantik seperti Aunty, ucap Dinda menirukan gaya anak kecil.
''Kita jalan yuk, kamu nggak bosan di rumah?'' menatap setiap sudut rumah Alan yang begitu sepi hanya pembantu yang berlalu lalang dengan kerjaannya masing masing.
Kesepian sih Mbak, tapi bagaimana lagi, kak Alan juga nggak mengizinkanku keluar.
''Halo, suara Alan menyapa dari sebrang sana.
''Halo Al, ini aku Amel, aku mau ngajak Dinda jalan boleh kan?'' tanya Amel dengan lugas dan lantang.
Alan yang baru saja berhenti di depan gedung miliknya itu sedikit mendengus kesal, bisa nggak sih istrinya itu nggak pakai orang lain untuk alasan keluar, meskipun Amel calon kakak iparnya Alan tetap nggak suka dengan sikap Dinda yang kini selalu sembunyi di balik saudaranya.
''Boleh, tapi ingat Dinda jangan terlalu capek kasihan bayinya, dengan nada datar Alan menjawab.
''Tenang aja, aku akan menjaga mereka, timpal lagi Amel lalu menutup sambungannya.
''Aku sudah izin Alan, katanya boleh.''
Tak butuh waktu lama, Dinda yang sudah rapi cukup mengambil tas dan pergi.
Seperti biasa Amel menghabiskan waktu laungnya hanya jalan jalan ke mall dan tempat hiburan lainnya yang penting hapy, jika dulu ia sering bersama temannya se profesi, kini ia lebih memilih bersama Dinda, karena selain kesibukan yang tak beraturan, semua sahabatnya pun sudah bersuami dan itu membuat dirinya menjadi tembang bibir di antara yang lain.
Di restoran...
''Mbak Amel kok sabar sama bang Faisal sih?'' cetus Dinda karena ia tau tak mudah menggoyahkan hati abangnya tersebut.
Amel menghela nafas sebelum menceritakan perjuangannya selama ini untuk membuka hati Faisal sang kekasih.
''Kamu tau nggak di mana pertama kali aku kenal dia?'' ucapnya mengaduk aduk jus yang di pesannya.
''Di mana?'' Dinda ikut penasaran.
''Di kantor papa, waktu itu dia nabrak aku, nggak minta maaf malah pergi, aku lempar dia pakai sepatu, e... kena tu kepala abang kamu,'' baru separu saja sudah membuat Dinda bahagia.
''Terus?'' makin kepo kan Dinda.
''Ya terus aku mendekatinya saat dia mengelus kepala dan menoleh ke arahku, wajahnya merah berapi api, karena aku takut, akhirnya aku minta maaf, tapi sepertinya dia tetap marah dan mengancam akan melaporkan aku ke polisi karena sudah menganiayanya.''
Kini tak hanya mengukir senyum, Dinda bahagia mendengar kisah abang dan calon istrinya itu.
''Terus dia meminta aku membeli salep dan mengobati kepalanya, padahal itu mah modus abang kamu saja, karena aku sudah sebel di suruh nyari luka di kulit kepalanya, Aku bilang aja kalau di rambutnya ada kutu, malu dia, dan di saat itulah aku mulai dekat dengan laki laki angkuh itu, sampai kini bongkahan es itu mencair dan bisa mencintaiku.'' merasa bangga karena perjuangannya tak sia sia.
''Wah, lucu banget, aku salut sama bak bisa menghadapi bang Faislal, Dinda meminum jus jambu yang tinggal sedikit.
''Dan aku lebih beruntung karena bapak dan Ibu langsung menyetujui hubungan mas Faisal dengan Mbak, jadi sekarang nggak ada lagi alasan bang Faisal untuk menolakku,'' jelasnya.
''Pasti bapak dan Ibu juga bangga punya menantu seperti Mbak, sudah cantik, baik, sukses lagi, ucap Dinda memuji.
Saat keduanya asyik ngobrol, kini mata Dinda kembali menangkap wajah laki laki yang sangat familiar.
Itu kan pria yang bersama mbak Syntia waktu itu, apa itu istrinya, mereka kelihatannya mesra banget, itu artinya laki laki itu cuma teman Mbak Syntia. terka Dinda dalam hati.