Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Ibu datang


"Ibuuu..... Teriak Dinda saat mendapati wanita paruh baya itu di depan pintu rumah mertuanya, Dinda langsung berlari berhamburan memeluk sang Ibu dengan erat, tangisnya pun kembali pecah, rasa rindu yang selama berbulan bulan itu kini di terlampiaskan.


Bu Tatik hanya bisa tersenyum namun tetap air matanya ikut menetes bahagia, tak menyangka lima bulan menikah putri bungsunya itu sudah hamil.


"Sudah dong, kamu nggak malu sama yang lain, tutur Bu Tatik halus seraya mengelus rambut Dinda.


"Aku kangen, masih dalam dekapannya.


Alan yang sedari tadi di belakangnya itu pun ikut menyalami bapak Yanto dan Bu Tatik selaku mertuanya.


"Dinda, Ibu kan masih capek, biar istirahat dulu nanti kangennya, Bu Yanti ikut terharu melihat pemandangan di depannya.


Setelah melepas pelukan sang Ibu, Kini Alan yang memeluk dan mencium punggung tangannya.


"Apa dia merepotkan?" tanya Bu Yanti pada Alan.


Alan tersenyum dan menggeleng, mana dia tau selama ini Alan kan tak pernah peduli dengan Dinda.


''Ibu duduk dulu, pak, Silahkan masuk!" Dengan ramah Bu Yanti mempersilahkan besannya.


Seperti tak ingin lepas, Dinda terus saja bergelayut di lengan ibunya.


''Faisal mana?'' tanya nya mencari pria yang sudah menjadi tulang punggung keluarganya selama bertahun tahun.


''Maaf bu, Bang Faisal di kantor, karena aku nggak bisa datang jadi dia yang mewakili.'' jelas Alan.


''Maaf ya nak, Ibu nggak tau,'' ucapnya lembut.


Kini Bu Tatik kembali menatap lekat wajah Dinda yang begitu sendu, Ibu hamil itu seperti memendam sesuatu yang begitu besar dan itu dirasakan Bu Tatik saat pertama melihatnya.


''Kamu nggak apa apa kan?'' tanya Bu Tatik.


Dinda menggeleng tanpa suara.


Tapi Ibu tau kalau kamu ada masalah nak, semoga saja kamu di beri kekuatan untuk menjalaninya, doa ibu menyertaimu.


''Bapak sama Ibu gimana kabarnya?'' tanya Bu Yanti.


''Kami baik Bu, dan kami juga kaget, kenapa tiba tiba di jemput ke sini, nggak taunya Dinda hamil to, semua tertawa mendengar ucapan pak Yanto.


''Pak Heru mana?'' tanya Pak Yanto.


''Maaf pak, papanya Alan keluar kota tiga hari, belum bisa pulang,'' jelasnya merasa nggak enak nggak bisa menemui besan saat datang.


''Nggak apa apa Bu, yang penting keluarga disini juga sehat.'' imbuhnya.


Semuanya ngobrol, Bu Yanti memang sengaja mempertemukan mereka di rumahnya dan menyuruh Dinda untuk menginap di sana.


Bu Tatik beranjak mendekati Alan yang duduk di samping Pak Yanto.


''Nak, menepuk punggung tangan Alan yang saling bertautan.


Alan menoleh, masih canggung dengan ibu mertuanya tersebut.


''Dinda itu memang perempuan yang manja dan belum tau seluk beluk berumah tangga, dan ibu mohon kamu bimbing dia, luruskan jika dia itu berbelok, jangan biarkan dia melakukan kesalahan selama menjadi istri kamu, jika dia tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang istri tegur dia, Ibu pasrah sama kamu, karena dia adalah tanggung jawab kamu, tapi, ada satu yang nggak Ibu rela, jangan sakiti dia, jangan lukai hatinya, karena kami membesarkannya dengan kasih sayang, jika memang Dinda tidak bisa buat kamu jatuh cinta kami siap menerimanya kembali tapi dengan hati yang utuh seperti dulu. heemmm....


Alan diam, ucapan mertuanya sekaan merobek dadanya, bagaimana bisa ia melakukan pantangan dari mertuanya, menyakiti, ya Alan sudah terlanjur menyakiti Dinda, itu artinya dia sudah melakukan apa yang di larang ibu mertuanya.


''Ibu nginep kan?'' ucap Dinda mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas tentang dirinya dan Alan.


''Nginep semalam, karena ada pesanan baju dari perusahaan, jadi nggak bisa lama lama di tinggal, kata Bu Tatik.


Setelah puas mengobrol melepas rindu, Bu Tatik masuk ke dalam kamar yang memang sudah disiapkan, sedangkan Dinda pun membuntutinya dari belakang tak mau jauh dari wanita yang sudah melahirkannya itu.


''Loh kamu kok ke sini, istirahat sana sama suami kamu, kalau dia butuh sesuatu gimana?'' mencoba membujuk Dinda untuk kembali ke Alan.


''Kan jarang jarang aku sama Ibu, kalau sama kak Alan kan sudah setiap hari, pasti dia memaklumi kok, kini Dinda malah memilih untuk membaringkan tubuhnya di kamar Ibu dan bapaknya.


''Apa kamu bahagia hidup dengan Alan?'' tiba tiba suara hati ibu meluncur dengan lugas.


''Kenapa ibu bertanya seperti itu, Sekarang aku hamil, aku sangat bahagia, apa lagi mama dan papa serta kak Alan sangat menyayangiku,'' jelasnya sebisa mungkin mengelabui Bu Tatik untuk tidak curiga, bukan apa apa, Dinda takut kalau orang tuanya itu sok dengan keadaan rumah tangganya.


Tapi filing seorang ibu sangat kuat, rasa gelisah itu tetap menyelimuti Bu Tatik meskipun sudah di tepisnya.


''Aku tidur disini ya Bu, bentar saja,'' meraih tubuh Bu Tatik yang kini duduk di tepi ranjang, sedangkan pak Yanto kembali keluar menemani pak Sujad yang sibuk mencuci mobil setelah menjemputnya tadi.


''Iya sini, Ibu kelonin,'' memeluk perut yang sudah hampir setiap hari gerak.


Sebagaimana Dinda, Alan pun membaringkan tubuhnya dikamar miliknya, menatap langit langit kamarnya, fikirannya semrawut, ucapan mertuanya masih terngiang ngiang dengan jelas.


Bagaimana jika keluarga Dinda tau apa yang aku lakukan selama ini pada putrinya, apa mereka akan marah, dan kata ibu tadi, apa aku harus mengembalikannya, karena aku belum bisa mencintainya, tapi bagaimana dengan Faisal, apa dia juga setuju dengan Ibu, kenapa keadaan ini membuatku pusing.


Setelah bergulat dengan otaknya, Alan memilih untuk memejamkan matanya, namun kali ini ucapan Bu Tatik seakan akan terus menggema di telinganya.


Tapi ada satu yang ibu nggak rela, jangan sakiti dia, jangan lukai hatinya, jika dia tidak bisa membuatmu jatuh cinta, kami siap menerimanya kembali.


Seakan kata kata itu tak bisa pergi dan makin menggema.


Alan kembali keluar dari kamarnya menghampiri kamar Bu Tatik.


Dinda nggak ada di luar, dan pasti dia masih di dalam, apa dia cerita apa yang sudah aku lakukan sama dia selama ini, itu artinya ini adalah akhir dari segalanya, batin Alan sebelum mengetuk pintu.


''Dinda,'' panggil Alan tanpa mengetuk, Dinda yang sedang bercerita dengan ibunya itu pun menatap pintu yang tertutup, "Sepertinya suami kamu nak,'' ucap Bu Tatik.


''Apa benar itu kak Alan, ngapain dia panggil aku?'' gumamnya


Karena penasaran Bu Tatik membuka pintu kamarnya.


''Nak Alan, cari Dinda?''


Alan mengangguk dan menatap Dinda dari jauh yang sedang memeluk guling.


''Kakak butuh sesuatu?''


Alan mengangguk lagi.


Dengan sedikit susah payah Dinda turun dari ranjangnya menghampiri Alan dan mengikuti ke kamarnya.


''Kakak butuh Apa?'' tanya Dinda masih nggak ngerti dengan Alan yang belum mengatakan keinginannya.


''Maaf.'' ucap Alan singkat.