
Pintu ruangan Dinda terbuka lebar, semua mata yang ada di ruangan itu menatap dua pria yang mematung di ambang pintu termasuk Dinda.Tak sesuai ekspektasi Alan yang akan baik baik saja saat ia menatap wajah istrinya, nyatanya saat ini ia hampir rubuh, untung saja Daka menarik lengannya, seakan mengingatkan dengan situasi yang di hadapinya, sedangkan Dinda seperti menyelidik pada kedua laki laki itu, dan kembali mencengkeram baju Faisal.
''Itu Dokter Tono yang akan menggantikan Dokter Andra,'' jelas Faisal dengan pelan dan lembut, tak mau membuat adiknya ketakutan.
Tak menjawab, Dinda malah menatap dari jauh, sedangkan Daka dan Alan yang saat ini bernama Dokter Tono itu mendekati sekeluarga yang memutari ranjang Dinda.
''Kayaknya sudah makin baik nih.'' Cicit Daka, seperti biasa laki laki itu langsung membuat canda di ruangan tersebut.
''Kenapa Dokter memakai masker, aku bau ya?'' tanya Dinda polos menatap wajah Alan yang sedikit menunduk.
Alan melirik ke arah Daka yang langsung mengedipkan mata.
Akhirnya Alan memilih untuk menggeleng tanpa suara, darahnya terasa berdesir menatap wajah yang saat ini ada di depannya, namun tak bisa di sentuhnya, ingin rasanya Alan mendekap tubuh Dinda dengan erat, tak ingin melepaskannya lagi namun semua itu hanya angan angan yang mungkin tak bisa ia raih.
''Bagaimana dengan hari ini, pak?'' tanya Alan sedikit ragu dengan suara khas Dokter Tono.
''Lebih baik Dok, bahkan semalam sudah normal, hanya saja dia masih marah jika teringat nama suaminya.''
Alan yang namanya tersangkut itu meloloskan air matanya, meskipun pria itu sudah menahannya dengan kuat, tapi tidak dengan hatinya yang ikut hancur saat di depan Dinda.
''Dokter tidak apa apa?'' tanya Faisal saat Alan menyeka air matanya.
''Kelilipan pak, Tersenyum renyah dan makin mendekati Dinda.
''Dinda, mulai sekarang kamu jangan ingat nama dia lagi, kalau perlu anggap saja kamu nggak pernah kenal dia, atau anggap saja dia sudah mati,'' Ucap Alan mulai berinteraksi dengan dirinya yang di kenal sebagai Dokter Tono.
''Kita kenalan yuk, kayaknya dokter belum kenal sama pasien cantik ini.'' Alan mengulurkan tangannya.
Dinda melirik wajah Alan yang masih tertutup masker, kemudian tangannya yang sudah siap berjabat tangan.
''Dinda, kenalan sama Dokter baru ya!" cicit Daka dengan pelan, karena apapun yang di ucapkan Daka itu selalu saja di dengar oleh Dinda.
"Dinda Larasati, ucap Dinda meraih tangan Dokter Tono, seperti biasa Dinda masih saja mencium punggung tangan seseorang yang kelihatan lebih tua darinya.
"Bentar, Dokter ke toilet dulu." setelah melepaskan jabatan tangannya Alan langsung saja masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu, sedangkan Daka hanya geleng geleng saat menatap punggung Alan yang menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat.
Ternyata kamu tak seperti yang aku kira, baru begini saja sudah lemah, aku nggak tau apa yang terjadi saat kamu lihat Dinda waktu pertama kali, batin Daka menyiapkan obat yang akan di konsumsi Dinda.
Sedangkan Di dalam kamar mandi Alan segera melepas masker yang beberapa menit menutupi mulutnya, laki laki itu benar benar tak kuasa untuk sekuat baja saat di dekat istrinya.
"Harus berapa lama lagi kamu seperti ini, aku nggak akan sanggup jika ini terlalu lama, maafkan aku, Tapi aku janji, Aku akan menemani kamu sampai kamu sembuh dan aku akan membuat kamu seperti dulu sebelum mengenalku, Dinda istriku," mengelus tangannya seakan ciuman Dinda masih terasa melekat di sana.
"Cepat sembuh istriku, dan aku akan mengabulkan apapun permintaan yang membuat kamu bahagia, termasuk bercerai dariku." gumamnya.
Tak mau berlama lama takut yang lain curiga Alan memasang kembali maskernya setelah mencuci muka menyamarkan matanya yang memerah.
Alan keluar dari kamar mandi dan kembali mendekati semua yang ada di sana.
Di saat suasana hening, seorang suster datang membawa makanan, namun dengan cepat Dinda menggeleng seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya tanda nggak mau makan.
''Loh, kok nggak mau?" tanya Daka seketika.
''Nanti gimana kalau di rebut Salma?'' melirik ke arah gadis cantik yang ada di samping Dinda.
Sedangkan Faisal hanya diam dan sesekali melirik ke arah Alan yang ada di samping bapak dan Ibunya, bukan tanpa alasan dengan tatapan Faisal kali ini, karena pria itu memang sedikit curiga dengan dokter yang menggantikan Dokter Andra.
Mendengar nama Salma, Dinda langsung memeluk boneka yang dari tadi sedikit di acuhkan.
Lagi lagi Dinda menatap lekat wajah yang masih tertutup masker itu.
''Tidak usah takut, Dokter Tono baik kok, jadi Dinda berteman saja sama dia.'' pinta lagi Dokter Daka menepuk tangan Dinda.
Akhirnya wanita itu mengangguk tanpa suara meskipun masih canggung karena menurutnya orang di sampingnya itu asing.
''Sekarang Bapak dan Ibu istirahat dulu, biar aku dan dokter Tono yang jaga Dinda, pasti kalian juga capek.'' ucap Daka, kasihan melihat kedua orang tua Dinda yang terlihat lesu.
Beda dengan Faisal, meskipun ia capek karena umur yang masih muda membuatnya masih kuat, namun tetap Ia juga harus santai sejenak.
Alan yang sudah memegang bubur itu menarik kursi dan duduk di samping ranjang, dengan tangan yang sedikit gemetar Alan mulai menyuapi Dinda.
Sedangkan Bu Tatik dan pak Yanto serta Faisal dan Salma pindah ke kamar samping untuk istirahat setelah semalaman berjaga.
A.... suara Alan sembari menyodorkan satu sendok di depan mulut Dinda yang masih tertutup.
Wanita itu tak langsung membuka mulutnya malah meneteskan air mata saat menatap sebuah cincin yang ada di jari manis Alan.
''Kenapa?'' tanya Alan menurunkan kembali sendoknya dan menggenggam erat tangan Dinda yang terasa dingin.
''Dokter sudah menikah?'' tiba tiba tanya Dinda dengan lugas.
Setelah menatap Daka di sampingnya, Alan mengangguk tanpa suara.
Dinda menunduk menilik jari manisnya.
''Aku juga pernah menikah Dok,'' ucapnya tanpa sadar, Seakan wanita itu ingin curhat pada laki laki yang ada di sampingnya.
''Tapi pernikahanku,_ ucapan Dinda menggantung saat Alan mendaratkan jarinya di bibir Dinda.
Wanita itu menoleh menatap Alan yang menggeleng. ''Jangan di ingat, sekarang kamu harus makan, nanti aku akan ajak kemanapun kamu mau, tapi ingat kamu harus sembuh dulu.'' Ucap Alan mencoba membujuk Dinda untuk segera melahap buburnya.
Dinda tersenyum penuh arti.
''Dokter pernah ke Paris?'' tanya Dinda sembari mengunyah makanan yang baru saja masuk ke mulutnya, kini ia kembali dengan keceriaannya.
Alan mengangguk, namun Dinda malah terlihat sedih.
''Apa hanya aku yang nggak bisa kesana karena nggak punya uang, padahal aku ingin melihat menara eiffel secara langsung, bukan di gambar.'' ucapnya dengan cemberut ingat saat Faisal menyuruhnya untuk menunggu supaya bisa ke tempat yang di gadang hadang dengan menaranya.
Tiba tiba saja Alan menjatuhkan sendok yang di pegangnya hingga membuat Dinda kaget. Hati Alan merasa tercabik cabik saat mendengar keinginan istrinya. Tapi kali ini bukan saatnya Alan untuk lemah, ia harus sekuat mungkin menghadapi Dinda.
Meskipun tak nampak, Dinda tau kalau Dokter Tono tersenyum.
''Paris, cepat sembuh ya, setelah itu aku akan ajak kamu ke sana, kita akan sama sama lihat menara itu.''
Tak merasa senang, Dinda malah makin mendengus kesal.
''Sekarang aku nggak butuh janji, tapi bukti, karena beberapa kali kak Alan berjanji, tapi dia selalu mengingkarinya, dan aku nggak mau kalau orang lain pun sama seperti dia. Dinda kembali terisak dan menjambak rambutnya.
Seketika Alan mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.
''Halo, sapa Alan pertama kali.
''Kamu pesankan tiket ke Paris untuk tujuh orang.'' titahnya.