Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Keinginan Dinda


Seperti pada umumnya Ibu hamil, trimester pertama adalah hal yang sangat membosankan menurut Dinda, bahkan yang di alami Dinda begitu lengkap sampai muntah hingga ngidam, dan lebih terlihat manja, nafsu makannya langsung saja hilang saat menatap masakan Ikan laut.


Semenjak pulang dari rumah sakit, Bu Yanti selalu datang ke rumah Alan untuk sekedar mengecek keadaan Dinda saat di tinggal Alan ke kantor, tak hanya itu Bu Yanti memastikan kalau Alan tak mengabaikannya saat di rumah.


Kamu ingin makan apa sayang, itulah yang lalu di tanyakan Bu Yanti saat datang, namun lagi lagi hanya gelengan kepala jawaban Dinda, karena Ia begitu tak nafsu apapun termasuk makanan.


''Jangan siksa diri kamu dong,'' ucap Bu Yanti saat keduanya di meja makan.


Dinda malah makin menyengir, ''Tapi beneran Mah, aku nggak ingin makan apa apa, menyandarkan kepalanya di pundak Bu Yanti.


Apa jika aku katakan akan terjadi ma, apa kak alan mau mengabulkan permintaanku ini, batinnya.


Suara klakson menggema, dengan cepat Dinda berlari menuju teras karena Ia tau siapa yang datang.


Dinda menyambut dengan sebuah senyuman yang begitu manis saat menatap sosok yang di rindukan seharian ini melangkah mendekatinya bersama abangnya.


''Kak Alan, apa aku boleh memelukmu?'' tiba tiba aja suara itu meluncur dari mulut Dinda dengan lugas, entah mendapat keberanian dari mana yang pastinya itulah yang ingin dia lakukan.


Alan mengernyit, tak biasanya Dinda berani mengatakan seperti itu di depannya, jangankan minta peluk menyentuhnya aja tak berani.


Namun Alan tak bisa berbuat apa apa selain mengangguk tanpa suara, tidak bisa dong kalau Ia menolak, bisa runyam urusannya, belum lagi Faisal dan mamanya melihat keduanya.


Maafkan aku kak, aku yakin kamu akan memarahiku, tapi aku juga nggak tau, aku hanya ingin kita begini dan terus seperti ini.


Setelah puas memeluk Alan dengan erat, kini Dinda mengendurkan dan mendongak menatap wajah Alan.


Maaf, lirihnya sebelum menghampiri Faisal.


Kamu memanfatkan kehamilan kamu untuk membuat aku makin terjerat sama kamu, awas saja aku pastikan kalau kamu tidak bisa seenaknya menyentuhku lagi.


''Abang, aku kangen Ibu dan bapak.'' memeluk Faisal.


''Iya kita Vc ya, di sana, menunjuk kolam renang yang ada di belakang rumah besar tersebut.


Setelah nampak wajah yang di rindunya dari layar ponsel, Dinda kembali menitihkan air matanya, haru, kangen, ingin memeluk, semua menggebu jadi satu hingga membuat dadanya terasa sesak.


''Ibu, bapak, ucap Dinda terbata, wanita itu kembali terisak, kapan bisa seperti dulu saling peluk, kapan bisa berkumpul bersama lagi, itulah yang menderu ingin di ucapkan namun tidak mungkin, Dinda takut keluarganya itu khawatir dengannya.


Dinda sayang, kamu kenapa, jangan nangis, Ibu dan Bapak ikut sedih kalau lihat kamu kayak gitu, ujarnya dari sebrang sana.


''Akhir akhir ini Dinda memang dikit cengeng Bu, suka mewek, ingat aja dia waktu kecil, cicit Faisal menggeser hingga menampakkan wajahnya.


Ibu dan bapak Dinda terkekeh.


Di sana pasti nggak ada bukit untuk lihat Senja ya Bang, sampai kamu membuat Adik kamu nangis. Sang Ibu bernada mengejek.


Masih teringat jelas di memorinya, waktu kecil Dinda akan menangis tersedu sedu saat Faisal tak menggendongnya dan mengajaknya ke bukit untuk menikmati indahnya matahari tenggelam tersebut.


''Ibu jangan di ingat dong, Aku kan malu, untung disini hanya aku dan bang Faisal, kalau ada orang lain kan aku jadi bahan ledekan, ucap Dinda menyeka air matanya.


Mana suami kamu kok nggak ada disitu, tanya Bu Tatik antusias.


Dinda hanya bisa menyengir.


Ya sudah ya kalian hati hati di sana, ingat, terutama untuk kamu Dinda, kamu harus ada untuk suami kamu, jangan sampai membuatnya marah, dan untuk kamu Faisal, jika kamu sudah punya pacar cepat halalkan, jangan sampai kamu melewati batas bukan muhrim, pesan sang Bapak.


Dinda mengangguk tanpa kata, pedih itulah yang di rasakan saat mendapat wejangan dari bapaknya, namun itu pula yang harus di patuhinya sebagai anak yang baik.


Sedangkan Faisal hanya bisa cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah sambungannya terputus, Faisal menggiring Dinda untuk masuk ke dalam menghampiri Bu Yanti dan Alan yang ada di ruang keluarga.


''Ma, malam ini aku ingin makan diluar di temani kak Alan, kumat sifat manjanya, meskipun permintaannya itu membuat diri Alan terasa panas namun kali ini mulut Dinda tak bisa di rem.


Bu Yanti yang tadinya duduk di dekat Alan kini mendekati Dinda.


''Boleh, apapun yang kamu inginkan, katakan saja, jangan sungkan sungkan, Alan suami kamu, jadi kamu berhak minta apapun darinya, mengelus rambut Dinda.


Benar benar ngelunjak, dia fikir aku nggak capek apa habis kerja seharian, dan sekarang dia alasan pingin makan malam di luar, kalau bukan karena mama aku nggak akan meladeni sifat manja kamu.


Baru juga keduanya berada dipintu utama, Syntia datang dengan wajah yang masih berseri.


''Mau ke mana mas?'' tanya Syntia beralih menatap mama mertuanya dari jauh.


Untung ada Syntia, aku ajak aja dia sekalian.


''Oh... iya kamu sudah makan belum?'' tanya Alan mengedipkan satu matanya.


''Belum, jawab Syntia, karena Ia tau itu kode dari Alan


''Kita makan di luar yuk sama sama, ajaknya, tanpa menunggu jawaban istri pertamanya Alan langsung meraih tangannya dan membawanya ke mobil.


Nggak apa apa kak jika kamu tidak mau berdua denganku yang penting aku bisa makan malam di luar dengan kamu.


Di depan restoran mewah Alan memarkirkan mobilnya, itu adalah tempat favorit dirinya dan Syntia, namun tidak dengan Dinda saat menatap pajangan gambar besar di depannya.


Aku kan nggak suka ikan laut, apa kak Alan akan marah jika aku mengatakannya.


''Apa kamu akan berdiri disitu sampai pagi, celetuk Alan dengan ketusnya saat menatap Dinda yang masih mematung di samping mobil.


Dinda menggeleng.


''Tapi aku nggak suka ikan laut kak,'' ucap Dinda protes.


''Ngga suka, Alan mengulangi dan kembali mundur mendekati Dinda.


''Syn, kamu pesan dulu saja ya, titah Alan.


''Kamu dengar aku, Anak kita butuh gizi dan makanan yang cukup, bukankah ikan laut banyak proteinnya yang baik untuk Ibu hamil, dan di sini olahan salmon itu banyak varian kamu tinggal pilih, jangan macam macam, kalau sampai anak kita nggak sehat kamu harus tanggung akibatnya, jelas Alan sembari menunjuk wajah Dinda dengan jari telunjuknya.


Bukannya aku nggak suka dari dulu kak, semenjak aku hamil, aku nggak bisa makan ikan, bawaannya mual terus, namun kali ini Dinda hanya bisa protes dalam hati saat menatap mata Alan yang di penuhi dengan amarah, terpaksa Ia ikut masuk ke dalam.