Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Mengetahui


"Kenapa harus buru buru, tunggu bayiku pulang." itulah kata yang keluar dari mulut Alan saat Faisal menanyakan kelanjutan perceraian Dinda, seakan pria itu mengulur waktu, padahal Faisal sudah siap untuk pulang bersama adik serta kedua orang tuanya.


Tiga minggu di rawat secara intensif, kini kondisi bayi mungil itu sudah membaik, dan dokter Karlina sudah memperbolehkan Alan untuk membawa pulang dengan beberapa syarat tertentu untuk merawatnya.


Seperti halnya seorang Ibu, Syntia merasa bahagia bisa menggendong bayi tampan itu, kebahagiaan itu benar benar nyata di depannya.


Semoga dengan hadirnya bayi itu Syntia menjadi wanita yang lebih baik lagi, Dinda anakku mama akan merindukan kamu.


Bu Yanti menangis di depan ruangan bayi saat menatap punggung Alan dan Syntia berlalu.


"Tante yang sabar ya!" Daka mendekati Bu Yanti yang terlihat sedih.


Bu Yanti mengangguk dan menyeka air matanya.


''Tante pulang sama siapa?'' celingak celinguk mencari Pak Heru yang memang tidak ikut menjemput cucunya, biasa, keluar kota.


''Ada pak Sujad di depan.''


Bu Yanti menepuk bahu dokter yang memakai jas putih kebanggaannya itu.


''Daka, sebentar lagi Faisal dan Dinda akan pulang kampung, mereka akan meninggalkan tante, kamu tau kan kalau tante sudah menganggap mereka seperti anak tante sendiri?''


Daka mengangguk tanpa suara.


''Tante tidak akan memutus hubungan baik, meski dia bukan menantu tante lagi, tante tetap menganggap Dinda keluarga, kamu mau kan menjaga Dinda buat tante?'' memohon.


Daka diam, pria itu mencerna ucapan Bu Yanti, Menjaga, mencari arti kata itu dalam bentuk apa.


Akhirnya laki laki itu tersenyum menanggapinya dengan santai.


''Aku akan jaga Dinda buat tante, jadi tante nggak usah fikirin lagi, takutnya darah tinggi tante kumat.'' cetus Daka membuat wanita itu terkekeh, di saat sedih masih saja bisa bercanda.


Bu Yanti memeluk dokter itu seperti putranya sendiri sebelum meninggalkan Daka.


Orang tua, di iya-in begitu saja sudah senang, biarin saja deh yang penting lega.


"Oh... iya, hari ini aku kan ada seminar, sampai lupa gara gara bayi tampan itu." menilik jam yang melingkar di tangannya.


Setelah mempersiapkan keperluan yang di bawa, Daka langsung pergi.


Lagi lagi Dinda di uji dengan kesabarannya, rasa hatinya tak sanggup lagi dan ingin bertemu dengan bayinya secara langsung setelah minggu kemarin bisa mencium kedua pipi gembulnya, seakan candu baginya dan ingin mengulanginya lagi.


"Bang,'' panggilnya saat apartemen itu terlihat sepi.


Bukan Faisal yang muncul melainkan bapaknya.


"Ada apa, kamu cari abang, dia nganterin Ibu belanja." cicit pak Yanto.


Dinda mendengus dan duduk di ruang makan.


Terlambat deh, aku kan juga mau minta anterin abang, tapi kebetulan juga, mendingan aku ke rumah sakit sendiri.


Dinda mendekati pak Yanto yang saat ini sibuk membaca koran.


"Pak, aku keluar sebentar ya, nanti kalau abang pulang dan nanyain aku, bilang saja aku ke rumah sakit." ucap Dinda sedikit ragu, pasti bapaknya tak begitu saja mengizinkannya.


"Apa nggak nunggu abang kamu pulang, paling juga sebentar lagi." benar saja, Dinda makin jengkel saat Pak Yanto melarangnya.


"Pak, aku cuma sebentar saja kok, lagi pula kasihan abang pasti capek."


"Kalau gitu bapak antar, ya?" menawarkan diri.


Baru saja beranjak, Dinda mendudukkan kembali pak Yanto.


"Aku kan naik ojek, pak, nggak usah, lagian aku sudah hafal kok jalan ke rumah sakit, nggak mungkin bingung." Meskipun merasa sedikit resah, namun pak Yanto mengangguk saat Dinda mengiba di depannya.


"Hati hati ya!" melepaskan pelukan Dinda.


Baru juga beberapa menit keluar dari apartemen, Faisal datang dengan belanjaan di kedua tangannya, begitu juga dengan Bu Tatik yang tak kalah berbondong membawa sayuran.


''Dia keluar, katanya mau ke rumah sakit.''


Deg, Faisal menghentikan aktivitasnya dan mendekati pak Yanto yang masih duduk di ruang makan.


''Ke rumah sakit?'' ulang Faisal, Bu Tatik ikut tercengang dengan mulut terkunci.


Pak Yanto mengangguk.


Aku harus susul dia, jangan sampai Daka menceritakan masalah rahim Dinda, ini belum waktu yang tepat untuk Dinda tau keadaannya.


Tak bicara lagi, Faisal langsung berlari keluar dari apartemennya.


Sementara di rumah sakit, Dinda yang baru saja membayar ojek yang di tumpanginya itu tersenyum.


Anakku mama menjengukmu, ucap dalam hati.


Dengan penuh semangat Dinda melangkahkan kakinya, kali ini ia langsung ke tempat tujuan, yaitu ruang perawatan bayinya yang minggu lalu di kunjunginya bersama Faisal.


''Permisi, sus, Saya mau ketemu anak saya yang di rawat di ruangan ini.'' ucap Dinda langsung pada suster yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


''Maksud Ibu anak Pak Alan?'' tanya suster yang ada di depannya.


Dinda mengangguk dan mengulas senyum.


''Maaf, Bu, anak pak Alan sudah di bawa pulang tadi sama istrinya.''


''Apa?'' tanya Dinda memastikan kalau yang di dengar saat ini adalah nyata.


''Iya bu, ini saya baru merapikan ruangannya.'' jelasnya.


Dinda merasa lemas, kakinya lentur dan ia memilih untuk duduk sejenak merelasasikan tubuhnya untuk bisa bangkit.


Dokter Daka, aku harus temui dia.


Dinda kembali melangkahkan kaki ke ruangan Dokter sekaligus sahabat abangnya.


''Dok.'' panggil Dinda sembari mengetuk pintu ruangan.


Tak ada sahutan dari dalam, Dinda yang sudah terbiasa dengan Dokter itu memaksakan untuk membuka pintu yang tak di kunci, siapa tau Dokter Daka masih bertugas sehingga meninggalkan ruangannya. terka-nya.


''Aku tunggu disini saja deh, paling sebentar lagi balik.'' ucapnya menarik kursi di depan meja kerja Daka.


Surat pernyataan keluarga Dinda larasati.


Setelah membaca amplop putih yang ada di atas map paling atas, wanita itu mengambil amplop serta map yang ada di bawahnya.


''Ini surat apa ya, apa ini keterangan saat aku operasi?'' gumamnya.


Tak membuka isi amplop, namun Dinda penasaran dengan isi map yang bertuliskan namanya, siapa tau juga penting.


Dengan perlahan wanita itu membukanya dan mulai membacanya.


Setelah beberapa detik membaca, Dinda menjatuhkan map itu ke bawah lantai, matanya membulat sempurna, dadanya merasa sesak setelah mengetahui isinya.


Seketika itu juga tubuhnya merasa panas dingin mendominan dengan gemetar yang menguasai tubuhnya.


''Nggak mungkin, ini nggak mungkin.'' mencoba mengelak, tak percaya, itu pasti saat melihat pernyataan hitam di atas putih, air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


''Kenapa abang nggak bilang sama aku?'' dan kini di ruangan itu Dinda mulai terisak dan menyandarkan kepalanya di atas meja.


Kacau, pikirannya kalut, jangankan untuk berdiri dan menopang tubuhnya, untuk menyangga kepalanya saja tak kuat.


Itu artinya aku nggak bisa punya anak lagi, dan aku sudah menyerahkan anakku ke Mbak Syntia dan Kak Alan, apa yang harus aku lakukan? aku harus ketemu kak Alan, setidaknya aku masih bisa melihat bayiku.


Setelah puas bicara dalam hati, Dinda kembali keluar dari ruangan Dokter Daka.


Faisal hanya bisa memukul setirnya karena macet parah di jalanan, sedangkan jarak ke rumah sakit masih sedikit jauh, menghubungi Daka tak di angkat dan itu semakin membuatnya pusing.