
Seperti ucapannya kemarin, dengan atau tanpa Alan, Dinda akan tetap periksa kandungannya ke rumah sakit, demi mengetahui keadaan sang buah hati, jika biasanya sang mertua yang menemani, kali ini Bi Romlah yang siap untuk mengantarnya sampai tujuan.
''Sudah siap Non?'' Bi Romlah masuk dengan membawa susu dan roti, seperti biasa Dinda selalu makan itu di pagi hari.
Dinda tersenyum menatap bayangan Bi Romlah dari pantulan cermin.
''Siap Bi, kita berangkat sekarang ya,'' menghampiri Bi Romlah dan meminum susunya, karena Dinda tak mau mengecewakan pembantunya yang sudah susah payah meladeninya setiap hari.
Tak lama lama Dinda langsung saja keluar bersama Bibi, tak menghiraukan suaminya yang kini bersama istrinya di ruang keluarga.
Bahkan Dinda pun tak pamit kepada mereka, nggak ada gunanya, ujung ujungnya juga cuwek dari sang suami yang di terima.
''Pak, nanti mampir ke apartemen bang Faisal dulu ya!" pintanya sebelum pak Tedi menancapkan gasnya.
"Baik Non, Bapak siap mengantar Non ke mana pun pergi, keujung dunia sekalipun." ucapan pak Tedi membuat Dinda terkekeh, ternyata supirnya itu lucu juga.
Mungkin kesedihan Dinda masih melanda, buktinya sepanjang perjalanan Dinda hanya bisa menatap luar dan menyandarkan kepalanya seperti tak ada semangat, namun Bi Romlah mampu membuat Dinda tersenyum, begitu juga dengan pak Tedi.
Tak butuh waktu lama, kini mobil yang di tumpangi Dinda sudah tiba di depan apartemen Faisal, Dinda langsung turun, kangen dengan tempat itu, tempat yang pertama kali memberi keteduhan saat di kota.
''Abang,'' panggilnya seraya mengetuk pintu, tak perlu mengulang, Bang Faisal sudah membukanya, Dinda langsung berhamburan memeluk laki laki yang sudah menjaganya dari kecil.
''Hai, kamu kenapa nangis?'' mengelus punggung Dinda yang bergetar.
''Kangen.'' jawabnya manja, masih merangkul erat tubuh kakaknya.
''Abang juga kangen, rencananya nanti pulang kantor abang mau ke rumah kamu,'' cicitnya mengajak Dinda masuk.
Keduanya ngobrol, namun tak jauh dari bahasan biasa, karena Dinda memang tak pernah menyangkut rumah tangganya.
''Kamu mau kesini doang, apa mau ke tempat lain?'' menatap penampilan adiknya yang sangat rapi, tak mungkin kalau Dinda sekedar ke apartemennya.
''Aku mau periksa ke dokter sama Bibi, kata Dinda, karena Bi Romlah memang nggak ikut masuk.
''Kenapa nggak sama Alan?'' tanya nya menyelidik.
Dinda menghela nafas.
''Aku nggak bilang, kasihan dia kan juga capek bang,'' mode pelan.
Faisal hanya mengangguk saja.
''Ya sudah bang aku pergi ya, takutnya kesiangan.
''Hati hati, jangan ceroboh, maaf abang juga nggak bisa temani kamu,'' kembali mengelus pucuk kepalanya, tak menyangka gadis yang dulu sering di gendongnya itu kini akan menjadi seorang ibu.
Pamit sang adik dengan sebuah pelukan hangat, namun kali ini entah kenapa Faisal merasa ada yang tidak beres dengan Dinda, namun laki laki itu menepisnya, mungkin cuma perasaannya saja dan tak mau membesar besarkannya.
''Sudah lepas kangennya Non?'' celetuk Bi Romlah yang saat ini membukakan pintu.
''Sudah Bi, Bang Faisal juga mau kerja, nggak enak kan kalau telat.
Pak Tedi kembali melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang memang menghabiskan waktu beberapa menit saja.
Di rumah sakit, dengan hati hati Bi Romlah menggandeng Dinda menuju ke ruangan dokter kandungan.
Dinda mengernyit setelah tiba di depan ruangan dokter Daka, di sana sudah ada beberapa ibu yang menunggu, padahal Dinda sudah merasa paling pagi, nyatanya malah ada yang lebih pagi darinya.
''Duh, bi, kok banyak banget ya, bakalan siang nih,'' gerutunya menilik jam yang melingkar di tangannya.
Dinda menggeleng. ''Nggak usah Bi, kita tunggu saja.''
Setelah menyapa satu persatu ibu ibu, Dinda duduk di tempat yang kosong, dan sesekali melirik ke sampingnya di mana seorang Ibu yang sudah hamil besar itu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya, begitu juga dengan pria itu yang selalu mengelus perut buncit sang istri.
Sedangkan yang lain lagi, si suami itu terus menceritakan dongeng tepat di perut istrinya sembari tersenyum kecil.
Kapan aku di manja seperti mereka, jangankan menyentuh bertanya keadaanku saja tak pernah.
Iri, ya Dinda merasa sangat iri saat menatap ibu hamil di sekelilingnya, para suami berlomba lomba memanjakan sang istri dengan cara masing masing, namun berbalik dengannya di saat sudah hamil pun Ia masih saja tak di anggap oleh suaminya.
''Non, kira kira bayi non cewek apa cowok ya?'' Bi Romlah membuyarkan lamunan Dinda.
Calon ibu itu tersenyum, ''Cewek atau cowok sama saja Bi, yang penting sehat, jawabnya pelan.
''Berapa bulan neng?'' tanya Ibu di sampingnya. ''Hampir lima bulan Bu,'' jawabnya.
''Suaminya ke mama?'' tanya yang lain ikut penasaran.
''Kerja bu, dia sibuk banget, jadi nggak bisa menemin,'' jawabnya mencoba sesantai mungkin dan tidak menampakkan kegundahannya.
''Memangnya kerja apa, kok sampai nggak sempat nganterin periksa?''
''Suami non saya itu presdir Bu, dan hari ini dia ada meeting dengan klien dari luar negeri, jadi hanya bisa mantau dari kantor,'' jawab Bi Romlah asal, yang penting Dinda tidak merasa terpojok.
''O.....semua hanya ber O ria.
Selang beberapa menit berlalu, semua bumil itu sudah selesai, kini tinggal Dinda dan Bi Romlah yang sudah beranjak saat Ibu yang terakhir itu keluar.
Dinda dan bi Romlah membuka pintu mendapati Dokter Daka sibuk dengan map di depannya sampai tak menyadari Dinda masuk.
''Permisi Dok,'' sapanya Dokter Daka mendongak menatap wajah yang familiar.
''Hai, kenapa nggak bilang mau kesini, menghampiri Dinda dan menarik kursinya.
''Nggak sengaja juga Dok, kan kasih kejutan ke dokter,'' canda Dinda.
''Alan ke mana kok nggak pernah menemin?'' tanya lagi Dokter Daka, karena setiap periksa Alan tak pernah menemaninya.
''Biasa dok, sibuk, jawabnya.
''Bodoh sekali dia, masa nggak mau melihat momen penting seperti ini, gila duit dia dari pada istri.'' cibir sang dokter.
Dokter Daka tersenyum menggiring Dinda menuju ruang periksa.
''Nggak apa apa kok, lagi pula kak Alan kan juga kerja untuk Aku dan Mbak Syntia, jawabnya.
Aku saja belum nemu satu pun, nah Alan sudah dua, kenapa juga laki laki sinting itu bisa dapatin Dinda yang cantik dan sabar, Tuhan kapan jodohku nongol, suara hati Dokter Daka.
Pemeriksaan di mulai, seperti pada umumnya, setelah mengoles gel, Dokter Daka pun mencari detak jantung seraya menatap layar di depannya, begitu juga Dengan Dinda yang terus mengikuti Dokter untuk menatapnya.
Meskipun belum begitu jelas Dinda bahagia saat mendapati sang buah hati dari layar tersebut.
Dokter Daka tersenyum. ''Anak kamu cowok, jelasnya.
Dinda hanya bisa mengukir senyum, akhirnya Ia bisa memberi keturunan untuk kelaurga Sudrajat.