
Jika Dinda tak bisa menembus dinding hati Alan dan bersemayam di sana, kini Ia lebih memilih untuk mundur dan hidup sendiri tanpa ketergantungan, Dinda tak mau menghiraukan pasangan susmi istri yang memang selalu pamer di depannya tersebut.
Dengan keterampilannya kini Dinda mempunyai aktivitas baru di saat suaminya berangkat kerja, tak mau menjadi beban yang akhirnya akan menjadi bahan olokkan, Ia berubah untuk menjadikan tangannya itu pundi pundi uang seperti saat di kampung.
Seperti pagi ini, Ia menyemangati dirinya mengawali paginya dengan memilah milih kain yang akan di jadikan berbagai macam baju.
''Mendingan aku suruh Mas Budi untuk nganterin pesananku kali ya?'' mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya.
''Nggak ah, kalau aku suruh dia kesini nanti dia jadi tau kalau aku bersuami, mengurungkan niatnya dan kembali menjewer kain yang di potongnya.
Dinda menjadikan kamarnya itu sekaligus ruangan kerjanya meskipun merasa tak nyaman karena banyaknya barang, Dinda tak perlu mengeluh yang penting juga bersih dan bisa leluasa untuk menjahit.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Namun sama sekali Dinda belum keluar kamarnya, sekadar untuk menemui bi Romlah, malas jika harus bertemu suaminya, pasti hanya cuwek yang di dapat.
Tapi saat ini Dinda tak bisa diam dan dikamar karena kerongkongannya itu kering, terpaksa Dinda harus keluar dari kamarnya untuk mengambil minum.
Ceklek, pintu terbuka, Dinda bergegas untuk segera ke dapur, di sana Bi Romlah sudah sibuk dengan peralatan dapur, begitu juga yang lain sudah terlihat sibuk dengan pekerjaan masing masing.
''Bi, kak Alan belum turun?'' tanya nya menuang air dari botol ke dalam gelas.
''Belum non,'' tadi malam Nyonya Syntia juga nggak pulang, jawab Bi Romlah.
''Nggak pulang, memangnya ke mana?'' tanya Dinda penasaran.
''Bibi juga nggak tau Non, mungkin nginep di rumah keluarganya, jawab Bi Romlah yang memang tidak mengetahui di mana Syntia singgah.
Itu artinya tadi malam kak Alan tidur sendirian, batinnya.
Sebenarnya bukan sifat Dinda yang harus cuek dengan tanggung jawabnya, tapi Alan sendiri yang menanamkan dan menegaskan jika Dinda tak boleh menyentuh sesuatu apapun yang berhubungan dengannya, itu yang membuat Dinda harus mengeraskan hatinya yang selembut sutera itu.
Dinda kembali ke kamarnya dengan roti dan susu di tangannya, wanita itu tak mau merepotkan Bi Romlah yang harus naik turun untuk memberikannya makanan.
Setelah tiba di depan kamar Alan, tak sengaja Ia berpapasan dengan alan yang baru saja keluar dari kamarnya dengan piyama tidurnya sembari menempelkan ponsel di telinganya.
Keduanya saling tatap, meskipun tak saling sapa Dinda tau kalau wajah suaminya saat ini sedang gusar, dan itu membuatnya ikut khawatir.
Sebenarnya mbak Syntia ke mana, kenapa Kak Alan terlihat resah, apa terjadi sesuatu dengannya, Ah... tidak, Mbak Syntia pasti baik baik aja, kasihan kak Alan jika istri yang di cintainya itu terluka.
Dinda langsung masuk ke dalam kamarnya melewati suaminya tanpa menyapa, namun tidak untuk Alan yang masih mematung dan menatap punggung Dinda menghilang.
Ada rasa kasihan dalam hatinya saat menatap wanita itu dalam kesusahan, namun Alan selalu saja menepis perasaan itu dan tak mau peduli dengan Dinda.
*********
''Tu kan aku ketiduran, wanita itu terlihat buru butu merapikan baju dan rambutnya, lalu meraih ponsel yang ada di nakas untuk menghubungi suami tercintanya, siapa lagi kalau bukan Syntia yang semalam terlalu menikmati pesta temannya hingga membuatnya lupa diri, terpaksa Ia harus mengikuti saran temannya untuk menginap di hotel, takut terjadi sesuatu saat Syntia menyetir dalam keadaan mabuk.
Telepon tersambung hanya menunggu beberapa detik telepon sudah diangkat.
Halo, Syn, kamu di mana, kenapa semalam nggak pulang? tanya pria di seberang sana yang tak lain adalah Alan suaminya.
''Sorry mas, aku ketiduran di rumah Bibi,'' alasannya, takut kalau Alan marah saat tau Ia tidur di hotel bersama sahabatnya.
Ya sudah nggak apa apa, aku khawatir aja, aku telepon nggak kamu angkat, sekarang kamu pulang, ya!" pintanya.
"Iya ini aku sudah siap siap mau pulang, maaf ya mas, I LOVE YOU. ucapnya mengecup layar ponselnya.
Alan tersenyum setelah menutup sambungannya, ternyata istrinya baik baik saja, dan itu kembali membuatnya lega, dan bersemangat untuk segera bergelut dengan laptopnya di kantor.
Syntia kembali duduk di tepi ranjang di mana Jenita sang sahabat masih bersembunyi di balik selimut, namun cepat cepat wanita itu membuka matanya karena terusik.
"Kamu sudah mau pulang Syn?" tanya Jenita dengan suara seraknya, khas bangun tidur.
"Belum sih, palingan mas Alan juga sudah mau ke kantor lagi." ucapnya menilik jam dari layar ponselnya.
"Kamu tu sudah gila, suami di rumah, kamu malah nginep di hotel, untung sama aku, kalau tadi malam Rey maksa kamu untuk tidur dengannya gimana?" cetusnya, mengangkat kepalanya yang masih pusing karena kebanyakan minum.
Masih teringat jelas dalam ingatan Jenita, bagaimana Rey itu menatap wajah Syntia penuh nafsu, untung semua sahabat Syntia baik dan mencoba melindunginya, kalau tidak mungkin saat ini Syntia sudah menyesal karena sudah berani mengkhianati suaminya.
Syntia tersenyum lebar, "Nggak mungkin bisa, gini gini aku tau batasan, jangan ngaco deh," meremehkan.
"Kamu memang tau batas, tapi Rey, dia itu laki laki normal, dan nggak mungkin dia mau di gantung sama kamu terus menerus, coba kamu fikir pakai logika, laki laki juga butuh kepastian, begitu juga dengan Rey, dan aku nggak tau sampai mana batas kesabarannya, tegas Jenita yang dari awal sudah mengingatkan Syntia untuk tidak terjerumus cinta terlarang.
"Tapi aku hanya menganggapnya teman dekat Jen, nggak lebih." Syntia membantah karena memang itu yang di rasakannya, bahkan sepenuhnya cintanya hanya untuk Alan seorang.
"Itu kamu, bukan Rey, jadi kalau kamu mau pernikahan kamu itu aman, jauhi Rey dari sekarang, sebelum kamu menyesal." tutur lagi Jenita, sahabat yang selalu ada untuk Syntia di saat susah maupun senang.
Aku nggak tau, Rey memang baik, mana mungkin aku bisa melepasnya begitu aja, lagi pula dia kan cuma sahabat nggak lebih, sedangkan mas Alan adalah suami yang aku cintai, pastilah dia juga ngertiin pergaulanku dan aku yakin mas Alan tidak akan mempermasalahkan ini, Jenita saja yang terlalu lebay.''
''Ya sudah aku pulang, aku mau istirahat di rumah saja, pusing,'' meraih tasnya dan beranjak meninggalkan Jenita setelah berpelukan.
Kalau Alan sudah bertindak tau rasa tu anak, ngelunjak saja sama suami, udah nggak bisa ngasih anak kebanyakan petengseng.