Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Kabar buruk


Hari ini adalah hari terakhir Alan dan Dinda di kampung, seperti hari sebelumnya, keduanya menyibukkan diri membantu Bu Tatik dan pak Yanto, tak ada yang ganjil, semua baik baik saja, hanya saja Alan membaca ada perubahan di raut wajah Faisal sang abang yang tak mau kembali bersamanya.


Akhir akhir ini Alan melihat kalau abang iparnya itu cenderung melamun saat sendiri, tak seperti biasanya yang banyak celoteh, kini Faisal hanya bicara saat di tanya.


''Abang kenapa?'' tanya Alan menghampiri Faisal yang duduk di bale samping rumah.


''Enggak kenapa napa,'' jawabnya singkat.


''Kenapa abang nggak ikut balik, kantor membutuhkan abang. Kalau apartemen alasan abang, aku bisa cari, tapi aku nggak bisa cari sekretaris sehebat abang.'' ucap Alan dengan serius.


Faisal tertawa walaupun hatinya ter-iris, bukan masalah kerjaan atau apartemen, itu gampang, baginya ini masalah Amel yang masih bersemayam di ruang hatinya.


''Tapi beneran, Al, aku nggak bisa ikut kamu lagi, aku akan bantu bapak dan Ibu disini.'' jawabnya menepuk lengan Alan.


''Apa ini semua karena Amel, apa dia yang membuat abang tidak bisa ikut?''


Faisal menunduk, tak mungkin ia menjelaskan pada adik iparnya tentang hatinya yang kini sakit tanpa catu.


''Kalau abang disini, itu artinya abang nggak mau berjuang untuk Amel,'' ucap Alan mencoba membujuk Faisal ikut.


''Amel memang sudah tunangan, tapi dia belum menikah, dan selama janur kuning belum melengkung Abang masih bisa memilikinya.'' Jelasnya lagi.


Faisal tersenyum getir seraya menggeleng.


''Itu namanya pecundang karena merebut milik orang lain,'' katanya dengan jelas.


''Apakah abang tau, kalau Amel juga terluka, dia sangat mencintai Abang, tapi bagaimana perasaannya jika tau kalau abang menyerah dengan keadaan. Bahkan sedikitpun abang tak memperjuangkannya. Aku yakin dia akan lebih kecewa sama abang, pikirkan itu semua, karena di sana masih ada yang mengharapkan kehadiran abang.'' ucap Alan terakhir lalu pergi, memberi kesempatan Faisal untuk berpikir lebih keras lagi.


Faisal diam mencerna setiap inci kata dari Alan, ternyata kali ini pria itu lebih dewasa dari pada dirinya.


Baru juga di bahas. Ponsel Faisal berdering, panjang umur ternyata nama Amel yang berkelip.


''Halo,'' sapa Faisal dengan hati yang berbunga bunga, setelah sekian lama ini pertama kalinya Amel menelpon dirinya.


Tak ada jawaban, hanya tangis yang terdengar oleh Faisal, itu kembali menyurutkan senyumnya yang sempat merekah.


''Mel, kamu kenapa?'' tanya Faisal sedikit khawatir saat Amel makin sesenggukan.


Besok aku akan menikah, jawab Amel di sela sela tangisnya.


Seketika ponsel Faisal terlepas dari tangannya, pria itu tercengang dengan ucapan Amel, namun Faisal mencoba untuk kuat menerima kenyataan, dengan cepat Faisal kembali memungut benda pipihnya yang sempat tergeletak di atas rerumputan.


''Selamat ya, Mel, akhirnya kamu mendapatkan laki laki yang tidak hanya mengumbar janji, aku yakin pasti pilihan Om Samuel adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, tidak sepertiku yang hanya bicara tanpa membuktikan,'' ucap Faisal, matanya berkaca kaca mengingat masa indah bersama gadis yang ada di seberang sana.


Lagi lagi tak ada jawaban, hanya suara tangis yang Faisal dengar.


''Hai, jangan nangis, besok hari bahagia kamu, kamu harus tampil cantik, Aku tidak mau kamu terlihat sembab di depan kamera,'' ucap lagi Faisal mencoba menenangkan Amel.


''Aku tidak bisa memberi kado apa apa, aku hanya bisa berdoa semoga kamu bahagia dengan suami kamu,'' ucap Faisal.


Tapi aku nggak mau menikah dengan orang lain, Mas Faisal harus datang, bawa aku pergi kemanapun mas mau, kita bisa hidup di kampung, kita bisa menikah disana.


"Aku nggak bisa bawa kamu, apa lagi menikah tanpa restu orang tua, aku akan datang, tapi aku nggak janji akan menemui kamu, sekarang berhentilah menangis, sekali lagi aku minta maaf."


Faisal menutup teleponnya, sudah tak sanggup untuk berkata apapun selain pasrah kepada jodoh.


Dengan langkah yang sedikit lemas Faisal melewati Dinda yang kini duduk bersama Alan di ruang tamu.


"Abang..." panggil Dinda lantang, namun sedikitpun pria itu tak menoleh untuk menatap adiknya.


Baru dua langkah ingin mengejar, Alan meraih tangan istrinya, akhirnya Dinda kembali duduk.


"Lihat ini!" Alan menunjukkan pesan yang baru saja di terimanya.


"Mbak Amel mau menikah," ucap Dinda setelah membaca undangan online dari ponsel Alan.


"Pasti ini semua gara gara aku kan, kak, karena aku abang nggak jadi nikah sama Mbak Amel, dan gara gara merawat aku mbak Amel memilih orang lain dari pada abang." Ucap Dinda menyalahkan dirinya.


Alan memeluk Dinda dengan erat, sedangkan Bu Tatik dan pak Yanto ikut mendekati Dinda dan Alan yang terdengar heboh.


"Ini bukan salah kamu, jika ada yang salah putusnya Bang Faisal dan Amel, itu semua karena aku, aku yang salah, karena aku yang membuat kamu menderita."


"Dinda," Bu Tatik menghampiri putrinya yang masih berada di pelukan Alan.


"Setiap manusia itu hanya bisa berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan, mungkin Mbak Amel memang bukan jodoh abang, jadi kamu nggak usah menyalahkan diri kamu sendiri, semua sudah di atur, dan bagaimanapun nantinya, itu pun sudah takdir, sekarang kamu fokus sama rumah tangga kamu, Dan Ibu nggak mau kamu sedih lagi."


"Iya, abang nggak apa apa kok," sahut Faisal dari depan kamarnya.


Seketika Dinda berlari menghampiri dan memeluk Faisal.


"Sudah, besok kan kamu pulang, abang harap kamu bisa menjalani kehidupan baru kamu, jangan pikirin abang, karena dalam hidup abang yang terpenting adalah kebahagiaan kamu.


Dinda mengangguk, dan Kali ini dalam hati Dinda berjanji tidak akan merepotkan Faisal lagi.


"Tapi abang ikut kan?" mendongak menatap wajah Faisal, entah, rengekan Dinda bagaikan hipnotis yang membuat Faisal seketika mengangguk.


"Permisi," tiba tiba saja suara familiar membuyarkan suasana yang baru saja damai.


Belum ada yang mempersilahkan masuk, namun Alan dan Faisal sudah berdecak melihat penampilan pria khas dengan jas putihnya yang saat ini mematung di ambang pintu.


"Maaf pak Dokter, disini tidak ada yang hamil, jadi bapak silahkan pulang, karena nggak ada yang mau periksa kehamilan.'' teriak Alan yang membuat seluruh penghuni rumah tertawa.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Faisal menimpali.


Tamu yang masih di tempat celingukan, seperti mencari sesuatu.


"Nyari Dokter Tono, dimana ya dia, beberapa hari ini aku nggak lihat kumisnya." jawabnya asal sekalian mencari gadis yang beberapa waktu lalu selalu hadir dalam mimpinya.


"Sudah tamat riwayatnya pak, kumis sama jenggotnya sudah aku buang ke tong sampah." jawab Dinda yang kembali membuat semua bergelak tawa.