Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Jalan jalan


Tiga bulan bukan waktu yang singkat bagi Alan menjalani masa trimesternya, masa yang tak pernah terlintas akan di hadapinya, namun siapa sangka, itu terjadi tiba tiba tanpa di minta. Seolah olah balasan untuknya dengan apa yang sudah di lakukannya saat pertama berumah tangga dengan istri keduanya, menyedihkan, rahang yang kokoh itu kini menonjol, tubuh Alan kurus karena makan tak teratur, berbeda dengan Dinda yang makin berisi, perut yang semakin membuncit itu kembali menutup pinggang seksinya.


''Boleh mambah, dek?'' kembali menyodorkan piringnya ke arah Dinda.


Wanita itu terpaku, entah kenapa pagi ini tak seperti kemarin yang masih lesu.


''Boleh,'' meraih piring dan mengambilkan nasi untuk suaminya.


''Kakak sudah nggak mual lagi?'' Tanya Dinda, karena tadi pagi Dinda pun tak menyaksikan suaminya muntah.


Alan berpikir sejenak mengingat terakhir ia mual.


Akhirnya pria itu menggeleng.


''Kemarin juga sudah enggak,'' jawabnya kembali memasukkan satu sendok nasi beserta lauknya ke rongga mulutnya.


''Itu artinya ngidam papa sudah selesai?'' Fana ikut menyahut.


Alan memutar bola matanya lalu tersenyum ke arah putra putrinya.


''Iya dong, dan papa sudah siap jalan jalan sama kalian semua,'' itu janjinya, karena selama ini Alan benar benar tak bisa ke mana mana, kantor pun di serahkan sepenuhnya ke Faisal.


Kedua bocah itu berlonjak kegirangan mendengar ungkapan sang papa.


''Aku mau beli mainan yang buaannyak.'' ucap Tama mendekati Alan, padahal setiap hari Pak Heru tak henti hentinya membawakan hadiah, tapi masih saja kurang.


''Kalau aku mau beli boneka yang cantik, nanti aku kasih ke dedek bayi.''


Fana pun tak kalah gembira karena ia menanti kehadiran sang jabang bayi yang di gadang gadang perempuan seperti dirinya.


''Baiklah, baiklah, apapun yang kalian mau papa akan belikan.''


''Kak,'' Dinda memegang tangan suaminya.


''Fana, Tama, dengarin mama. Kalian boleh beli sesuatu yang kalian mau, tapi jangan beli yang tidak berguna, maksud mama, jangan beli yang di rumah sudah ada, nggak baik menghamburkan hamburkan uang, kalian lihat kan kemarin?'' Mengingatkan Fana dan Tama akan anak yatim piatu di mana kemarin mereka datangi.


Kedua bocah itu mengangguk. Masih mengingat anak anak penghuni yayasan yang sangat bahagia saat kedua bocah itu memberikan makanan dan mainan serta uang.


Tiga tahun sudah cukup untuk Fana dan Tama mengerti arti hidup dan sosial, meskipun mereka belum di masukkan ke sekolah, Dinda tak pernah lepas untuk mengajarkan norma norma kehidupan khusus anak.


''Mereka saja cukup dengan satu mainan, harusnya kalian juga seperti mereka. Jangan berlebihan, oke!" Dinda mengangkat jempolnya.


"Iya mama," jawab keduanya serempak.


"Aku sudah nggak lapar, aku juga mau dong di ceramahin." goda Alan menarik kursinya hingga keduanya tak ada jarak.


"Khusus untuk Papa, jangan sering memanjakan anak anak kita secara berlebihan, karena itu akan menjadi boomerang buat mereka nantinya, aku tau kita banyak uang, tapi, jangan tuntun mereka hanya berpegang pada satu benda, mereka juga harus berusaha, bukan hanya menengadah dan minta.''


Alan menyandarkan kepalanya di pundak Dinda.


''Iya mama.'' menirukan kedua anaknya.


Semua hanya bisa bergelak tawa mendengar ucapan Alan.


Setiap mama pasti memberikan yang terbaik untuk anaknya, begitu juga dengan mama, dia sudah memberikan yang terbaik untukku, terima kasih mama, tanpa dirimu yang selalu campur tangan dalam kehidupanku, aku tidak akan bisa meraih kebahagiaan yang haqiqi.


Baru saja suasana ruang makan hening sejenak, kini sudah di ramaikan dengan kedatangan Saka dan Elfas serta Amel dan Faisal, sedangkan Daka tak datang karena harus menemani Selma yang baru melahirkan sebulan yang lalu.


''Kalian sudah siap jalan jalan?'' tanya Alan.


''Siap, Om,'' jawab serempak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota, kini bocah bocah itu sudah berada di toko mainan yang ada di dalam, mereka memilah milih mainan yang di suka, sedangkan Endah yang menjadi pengawalnya di dalam untuk membantu mereka, meskipun statusnya pegawai di konveksi, Endah sangat dekat dengan si kembar hingga ke mana mana harus ikut karena permintaan Fana dan Tama.


''Baik, Bu.''


Dinda keluar memberikan tasnya ke Alan, semenjak kandungannya berumur tiga bulan, wanita itu sering buang air kecil.


Setibanya Dinda hanya bisa mondar mandir di depan toilet, apes, karena ia harus ngantri.


Lama banget sih,


Dinda menilik jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah lima menit ia menunggu, akhirnya wanita itu beralih di bagian paling pinggir yang kini terbuka.


Namun Dinda kembali membulatkan matanya saat menatap seseorang yang baru saja keluar.


''Mbak Syntia.'' Dinda fokus dengan seragam yang di pakai wanita yang saat ini mematung di depannya. Sedangkan wanita itu menghentikan pandangannya di perut Dinda yang sedikit membuncit.


Sekarang Mbak Syntia menjadi pelayan.


''Kenapa kamu kaget gitu, bukankah ini yang kamu inginkan, melihatku hancur, sedangkan kamu merebut semua yang aku punya.'' Ucap Syntia.


Dinda menggeleng, ''Bukan maksud aku, _


Dinda menghentikan ucapannya saat Syntia mengangkat tangannya.


Syntia menoleh menatap beberapa orang yang sudah keluar, Ia meraih tangan Dinda dan membawanya masuk ke toilet.


''Aku pikir kamu wanita yang baik, tapi ternyata kamu juga licik yang ingin memiliki mas Alan sendirian, aku tau kamu yang meminta mas Alan untuk menceraikan aku.''


Setelah mengucapkan isi hatinya, Syntia terisak, tak bisa menahan air matanya yang sudah di pelupuk, mengingat masa indah bersama Alan, namun itu semua tinggal kenangan, begitu juga dengan Dinda yang tak bisa untuk tidak menitihkan air mata melihat nasib mantan istri pertama suaminya. Tak menduga kehidupan Syntia yang glamour itu kini turun drastis menjadi pelayan.


''Maafkan aku, Mbak,'' Dinda merasa bersalah karena memang apa yang di katakan Syntia benar adanya.


Tak menjawab, Syntia mendorong tubuh Dinda ke belakang, Wanita yang sedang mengandung itu tersentak kaget saat tubuhnya terhempas di dinding.


''Maaf tidak akan mengembalikan semuanya. Tapi ini,'' menarik tangan Dinda hingga jatuh tersungkur.


Aawww.... seketika Dinda memegang perutnya yang terasa nyeri.


''Mungkin akan sedikit membalas kan dendamku pada orang yang merebut suami dan kebahagiaanku.''


Dinda sudah tak peduli dengan omongan Syntia, karena saat ini Dinda merasakan sakit pada perutnya, wanita itu terus mendesis dan mencengkeram bajunya.


Mulutnya mulai terasa kering, dan matanya mulai berkunang kunang.


''Mbak, tolong aku!" Meranggeh tangan Syntia, namun tidak bagi wanita itu yang malah berdiri dan keluar.


Seketika Dinda memejamkan matanya dan tak mengingat apapun.


Dua puluh menit Dinda meninggalkan tasnya, Alan yang sedari tadi menanti mulai gelisah, bahkan pria itu tak lagi fokus dengan abang iparnya yang membahas kerjaan.


Alan langsung menghampiri Amel yang masih bersama anak anak.


"Mbak Amel, tolong Mbak lihat Dinda di toilet, sudah dua puluh menit kok dia belum balik ya, nggak mungkin kan aku yang ke sana."


Amel mengangguk dengan permintaan Alan.


Baru saja beberapa menit berlalu, Alan menerima sebuah panggilan dari Amel.


"Iya Mbak," jawabnya diiringi senyuman.


Kamu segera kesini. Dinda pingsan.


Menden-'---gar ucapan Amel yang ada di seberang telepon, Alan beranjak dan berlari, tak peduli dengan Faisal yang berteriak memanggilnya.