Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Cemburu


Al, aku mau cuti selama seminggu, soalnya Amel nggak mau di tinggal.


Ucapan Faisal lewat ponsel makin membuat Alan marah, bagaimana bisa abang iparnya bilang seperti itu di saat hatinya yang tak bersahabat gara gara istrinya yang meminta untuk menjauh. Bukan hanya itu bahkan alasan Faisal seakan meng iming iminginya, Jika ngidamnya Dinda ingin menjauh, Amel justru ingin terus berada di samping suaminya. Tak adil bukan?


''Apa dia sengaja, dasar abang ipar nggak ada akhlak, sudah tau aku merana gara gara adiknya, di pamerin kemesraannya segala.''


Berbicara di depan benda pipihnya sebelum menancapkan gas mobilnya, tak lupa sebelum benar benar meninggalkan kediamannya Alan memandang rumah sang mama, karena tiga hari tiga malam Dinda memilih tinggal di sana.


Apa dia begitu benci sama aku, sampai melihat wajahku saja tidak mau.


Kali ini Alan benar benar mempercayai kalau ia kena karma dengan apa yang pernah ia lakukan dulu.


Baru saja mobil Alan belok ke sebuah tikungan, Dinda muncul dari pintu bu Yanti membawa rantang yang sudah tersusun rapi.


Dengan wajah beseri seri Dinda memasuki gerbang rumahnya, namun seketika wanita itu menghentikan langkahnya saat tak melihat mobil suaminya.


Tu kan, giliran aku pulang sudah main pergi saja.


Dengan hati dongkol Dinda menghampiri pak Tedi dan memintanya untuk mengantarkan ke kantor suaminya.


Di depan kantor Alan sudah di sambut oleh wanita cantik bernama Bella kepala staf yang selalu menggantikan Faisal di saat tidak masuk.


''Pagi pak.'' sapanya, lalu mengikuti Alan ke dalam sembari memberikan jadwalnya.


"Kamu bantu beresin dokumen di lemari ruanganku!" titahnya sebelum masuk ke dalam ruangannya. Karena kemarin Alan lembur dan tak sempat menyuruh pelayan untuk beberes, karena mereka pun tak sembarang ke ruangan Alan jika tak ada perintah.


Alan segera memeriksa dokumen yang ada di meja kerjanya, sedangkan Bella pun sibuk merapikan lemari.


"Bella, anak kamu berapa?" tanya Alan yang tak berfaedah sama sekali.


Bela mengernyit, namun tetap wanita itu menjawabnya.


"Dua pak." Jawabnya tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Saat kamu hamil kamu ngidam apa?" Bela masih diam. Mengingat ingat di masa beberapa tahun lalu.


"Rujak pak." jawabnya singkat.


Kenapa Pak Alan bertanya seperti itu, apa istrinya saat ini sedang hamil juga.


Alan beranjak mendekati Bela dan menyadarkan punggungnya di tembok samping lemari.


''Istriku hamil, tapi dia ngidamnya ingin jauh dariku, apa itu normal?'' tanya Alan karena penjelasan dari satu orang saja tak cukup. Dan ia harus menanyakan pada orang lain lagi.


Terpaksa Bela menoleh menatap Alan. ''Wajar pak, itu sudah biasa, bentar lagi juga nggak, bapak tunggu saja waktu yang tepat.''


Sontak Alan mengukir senyum dan mengulurkan tangannya, hingga keduanya berjabat.


''Terima kasih.''


Praaannggg..... Suara dari arah pintu mengejutkan Alan dan Bela.


Seketika Alan melepas tangan Bela dan berlari.


''Sayang, kamu kesini di antar siapa?'' tak menjawab Dinda kembali memutar tubuhnya.


Namun dengan cepat Alan merengkuh tubuh Dinda dari belakang.


''Kenapa lagi sih, apa aku punya salah lagi?'' tanya Alan.


Dasar laki laki, sudah ketangkap basah masih saja pura pura bodoh.


Dinda menitihkan air mata. ''Tujuanku ke sini mau memberi kejutan untuk kakak, tapi ternyata aku di kejutkan dengan kelakuan kakak dengan perempuan lain.'' mencengkal tangan Alan yang masih merengkuhnya.


Alan makin tak mengerti maksud dari kata kata istrinya.


''Maksud kamu apa?'' tanya Alan lagi.


"Lepas!" Teriak Dinda, karena tak mau membutat istrinya makin marah Alan mengendurkan pelukannya.


Setelah Alan benar benar melepaskan pelukannya Dinda kembali turun.


"Pak, tutup jalur untuk keluar dan pastikan istriku masih di dalam." ucap Alan pada orang di balik telepon.


Dengan sigap pria itu berlari untuk mengejar Dinda.


"Kenapa pak Tedi di suruh pulang sih." ucap Dinda dengan lantang di depan satpam yang saat ini mengunci pintu gerbang.


Satpam itu hanya bisa mengernyit, padahal pria itu mendengar dengan jelas kalau Dinda sendiri yang nyuruh pulang, tapi kenapa dia yang di salahkan.


"Maaf, Bu." hanya kata itu yang terlontar dari bibirnya. Karena mau membantah seperti apapun bawahan tetap lah kalah.


"Kalau gitu, anterin aku pulang!" menarik sabuk pria itu dan membawanya ke arah mobil Alan.


"Dia mana bisa nyetir, yang bisa itu cuma aku.'' Dengan nafas ngos ngosan Alan menyahut dari depan pintu kaca.


"Tapi aku nggak mau di antar kakak, aku maunya di antar orang lain." lagi lagi Dinda masih terlihat marah.


Tanpa aba aba Alan mengangkat tubuh Dinda dan membawanya masuk.


Meskipun menjadi sorotan para karyawan Alan sudah tak punya malu lagi. Malah Dinda yang merasa malu dan memilih membenamkan wajahnya di dada Alan.


"Kakak, turunin nggak!" mencubit lengan kekar suaminya.


"Nggak." jawabnya. Meskipun di dalam lift, Alan pun tak menurunkan tubuh Dinda sedikit pun hingga tiba di ruangannya lagi.


Setelah keduanya berada di dalam, Alan mengambil rantang yang masih utuh dan mengunci pintu ruangannya.


"Sekarang katakan, ada apa sih?" mengelus rambut Dinda yang masih memasang bibir yang cemberut.


"Ngapain kakak pegang tangan wanita tadi?" tanya nya seraya melengos.


Jadi dia cemburu, itu artinya dia nggak benci sama aku.


"Jangan bilang kalau kakak sudah nggak cinta lagi sama aku.'' Lagi lagi Dinda menyelak dan tak memberi kesempatan Alan untuk menjelaskan.


"Kalau tau kayak gini mendingan kita cerai dari dulu, sudah cukup kesabaranku selama ini, dan aku nggak mau tersakiti lagi."


Entah kenapa Alan merasa pilu mendengar ucapan Dinda saat ini.


"Dengerin dulu!" Tegas Alan, tak mau masalah sepele itu berkepanjangan.


"Tadi aku hanya berterima kasih saja, nggak lebih, lagian tadi aku kan salaman." jelasnya dengan serius. Karena memang itu kenyataannya.


Dinda menatap manik mata Alan, dan tersorot olehnya kalau saat ini suaminya memang tidak berbohong.


Aku harus buat dia percaya sama aku, dan aku nggak boleh buang momen ini.


"Kita makan dulu yuk!" Alan membuka rantangnya.


"Jangan, itu kan sudah jatuh."


"Tidak apa apa masih rapi kok, lagi pula isinya juga masih di dalam, nggak berantakan."


Semoga saja dia lupa dengan ngidamnya untuk menjauh dariku.


''Ini siapa yang masak?'' tanya Alan basa basi sebelum menyuapi Dinda.


''Mama, jawabnya lalu membuka mulut.


''Nanti malam kita sudah bisa tidur bareng kan?'' Tanya Alan pelan dan sedikit ragu, takut akan sebuah jawaban yang tak sesuai keinginan hatinya.


Dinda menghentikan kunyahannya lalu mengangguk.


Ya Tuhan, akhirnya dia kembali juga. Dan aku pastikan ngidamnya seperti itu nggak akan terulang lagi.