Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Beda rasa


Tumbang, itulah Alan saat ini, tubuhnya benar benar merasa lemas tak berdaya, jangankan untuk ke kantor, keluar kamar saja tak bisa dan itu membuat Syntia panik.


Dengan cepat wanita itu memanggil Dokter untuk memeriksa suaminya yang terlihat makin pucat, apa lagi Alan tidak mau makan karena mulutnya merasa pahit.


''Tapi kalau kamu nggak makan, nanti juga nggak bisa minum obat dan tidak akan sembuh,'' ucap Dokter Didik, yang juga salah satu sahabatnya.


Terpaksa Alan memakan kue yang dari tadi di ambil oleh Syntia.


''Aku nggak nyangka, ternyata kamu bisa sakit juga, Aku kira tulang kamu baja, ternyata sama kayak aku juga, yang butuh tulang rusuk, celetuknya mengejek sembari membereskan peralatannya, dengan cepat Alan melempar bantal ke arah Dokter yang dari tadi cerewetnya minta ampun.


Sialan kalau aku nggak sakit sudah aku lempar kamu dari balkon.


''Sorry, aku cuma bercanda,'' ucap Dokter lagi saat menatap wajah Alan yang sudah berapi api.


''Kalau begitu aku permisi,'' ucapnya lagi menunduk sopan di depan Syntia yang masih setia menemani Alan di atas ranjang.


Baru juga membuka pintu, Dokter Didik Di kejutkan dengan penampakan wanita cantik yang juga baru keluar kamarnya, siapa lagi kalau bukan Dinda yang dari tadi tertidur setelah pulang dari rumah Bu Yanti.


Siapa itu, kenapa ada wanita cantik di rumah ini, apa dia saudaranya Alan, atau saudaranya Syntia, kenapa aku nggak pernah lihat.


Keduanya saling tatap, namun Dinda sedikit menunduk.


Kenapa ada Dokter di kamar Kak Alan, apa dia benar benar sakit, kenapa aku sampai nggak tau, apa Aku perlu tanya pada Dokter tentang keadaannya,.


Karena makin merasa cemas, Dinda menghampiri Dokter Didik yang masih mematung di tempat.


''Maaf dokter boleh saya menanyakan sesuatu?'' tanya Dinda ramah.


Tak menjawab sang dokter malah mengulurkan tangannya.


''Didik, ucapnya dengan tersenyum


Tak sopan jika tak menerima uluran tangan, akhirnya Dinda menerima uluran tangan itu.


''Dinda, jawabnya malu malu.


''Silahkan Dok, kita bicara di bawah saja.


Setelah keduanya sampai di ruang tamu, Dinda langsung saja memberondong Dokter Didik dengan berbagi pertanyaan.


''Dok, Apa kak Alan yang sakit? penyakitnya parah atau tidak? bisa sembuh kan dok? tanya Dinda antusias.


''Jangan khawatir itu, Alan baik, dia cuma kecapekan saja, perlu istirahat, ucapnya santai.


''Oh iya,'' Dokter Didik menjentikkan jarinya saat Dinda terlihat bengong seraya memegang dadanya yang terasa lebih lega setelah mendengar penjelasan Dokter Didik.


''Kamu siapanya Alan?'' tanya Dokter Didik menyelidik.


Aku harus jawab apa, kalau aku jawab aku istri keduanya takutnya kak Alan marah, sepupu mungkin lebih baik.


''Sepupu, jawabnya gelagapan.


Dokter Didik hanya manggut manggut saja menatap wajah Dinda yang begitu Ayu.


''Ya sudah, kapan kapan kita bisa ketemu kan?'' ucapnya lagi mengedipkan satu matanya, sok kecentilan tu Dokter.


Dinda hanya memasang wajah kaku, tak mungkin bicara panjang lebar pada pria lain di rumah suaminya.


''Ingatkan Alan jangan lupa minum obat, pintanya lagi sebelum meninggalkan rumah mewah tersebut.


Setelah punggung Dokter didik menghilang Dinda kembali masuk, namun kali ini tak ke kamar maupun santai di ruang TV, Ia langsung ke dapur menghampiri Bi Romlah yang sedang sibuk.


''Bi, Kak Alan sakit, aku mau masak bubur buat dia, siapa tau suka, ucapnya mulai mengambil peralatan masak.


Bi Romlah langsung membantu dan tak mau berkomentar apapun, karena menurutnya Dinda itu sudah benar.


Sedangkan di kamar, Alan mulai memejamkan matanya setelah meminum obatnya, mungkin efeknya hingga Ia terlihat begitu terlelap.


Baru juga berlayar, Alan merasa terusik saat lengannya merasa tersentuh.


''Kenapa?'' tanya Alan lemah saat Syntia mendekatkan wajahnya.


''Mas, aku keluar bentar ya, Bibi juga sakit, aku mau jenguk, ucapnya mengiba.


Alan menghembuskan nafasnya, rasa ingin mencegah namun Ia tak bisa untuk menolak permintaan istri pertamanya.


''Baiklah, cepat pulang, kamu lihat kan, aku nggak enak badan, tegasnya dengan tatapan sayu.


Syntia mengangguk dan mencium kening Alan dengan lembut sebelum keluar.


Selang beberapa menit, kini bubur yang di masak Dinda pun sudah matang, namun Ia masih diam menatap semangkuk bubur buatannya.


''Lo, kok belum di antar Non?'' tanya Bi Romlah yang sedari tadi menatap wajah malas Dinda.


''Bi, Dinda meraih kedua tangan Bi Romlah.


''Tolong Bibi yang antar, kalau aku yang ke sana pasti Kak Alan nggak mau makan, ucapnya melas, masih teringat jelas di otaknya saat beberapa kali masak namun Alan belum pernah mencicipi masakannya.


''Tapi Non, _Ucapan bibi menggantung saat Dinda menangkupkan kedua tangannya, memohon bantuan pembantunya.


''Baiklah Akan Bibi antar, tapi jika Den Alan nanya Bibi akan jawab kalau Bubur ini buatan Non, mengambil nampan dan berlalu.


Bukan hanya bibi yang ingin jujur pada kak Alan tapi aku juga, dan aku juga ingin menjadi istri yang di idamkan suaminya bisa melayaninya di saat sakit dan menjadi sandaran di saat terpuruk, tapi apa daya, aku tidak bisa memaksakan Kak Alan untuk menerimaku, Ya Tuhan, jika hubungan ini memang tidak bisa di teruskan lagi, aku ingin mundur dan kembali dengan kehidupanku yang dulu, tapi jika kak Alan memang jodohku bukalah pintu hatinya untukku.


Tak terasa Dinda menitihkan air mata saat duduk di ruang makan, tak kuasa untuk terus membatin nasib rumah tangganya yang tak kunjung membaik, meskipun hanya kesederhanaan dalam kebersamaan yang di minta faktanya itu tak di kabulkan Alan sang suami.


Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu menggema, Alan terpaksa membuka matanya kembali, dengan perlahan Ia bangun dan menghampiri pintu kamarnya.


''Iya Bi, ada apa?'' menyapa Bibi yang saat ini mematung di depan pintu.


''Ini Den Bubur untuk Aden,'' jawabnya.


Alan sekilas menatap bubur yang menurutnya menggugah selera, lalu menyuruh Bi Romlah untuk masuk ke dalam dan menaruh buburnya. di meja kamarnya.


''Langsung di makan ya Den, keburu dingin, nanti nggak enak, pinta Bi Romlah menghampiri tubuh lemas Alan yang saat ini duduk di tepi ranjang.


''Apa perlu saya panggil Nyonya besar Den?'' tawar Bi Romlah tak tega melihat Alan.


Alan menggeleng tanpa suara, ''Bentar lagi juga sembuh aku cuma kecapekan saja Bi.


Andai saja hubungan Aden dan Non Dinda baik, pasti saat Aden nggak akan kesepian.


''Ya sudah kalau gitu Bibi keluar dulu.


Setelah Bibi menghilang Alan mengambil buburnya dan mulai menyendoknya.


Di kunyahnya pelan makanan hambar itu, namun kali Ini ada yang berbeda, Alan begitu menikmatinya dan terus memakannya.


Tumben Bi Romlah masaknya seenak ini, biasanya juga nggak gini rasanya, apa dia belajar lagi sama koki di rumah mama, batin Alan.