Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Perdebatan kecil


''Yang ini gimana, Bi?'' menunjuk baju bayi yang baru jadi.


''Bagus non, apa lagi kalau sudah di pakai den kecil pasti tampan,'' jawab yang Bibi yang juga ikut mengamati baju berwarna navy tersebut.


Dinda jadi memvisualisasikan seorang bayi yang saat ini ada di ranjangnya dengan memakai baju buatannya, pasti sangat lucu.


Semenjak mengetahui jenis kelamin bayinya, Dinda lebih banyak membuat baju cowok ketimbang cewek, bahkan dalam beberapa minggu Dinda mampu menyelesaikan beberapa baju dengan berbagai bentuk.


''Kenapa di bersihin, Non?'' tanya bibi saat Dinda memasukkan kembali semua potongan kain maupun kain yang masih utuh dan Dinda juga menyuruh Bi Romlah untuk merapikan kamarnya kembali.


Dinda mengelus perutnya dan menghampiri Bi Romlah.


''Perut aku sudah makin besar, Bi, jadi mulai sekarang aku akan istirahat sampai nanti melahirkan, Dinda ikut duduk di samping Bi Romlah, masih ingat dengan pesan Dokter Daka kalau Dinda tak boleh banyak duduk karena itu bisa berpengaruh nanti saat melahirkan.


Baru juga di sebut namanya Sang Dokter menelepon.


''Iya Dok, ada apa?'' sapa Dinda mengawali percakapan.


Tak langsung menjawab sepertinya sang Dokter menahan sesuatu yang ingin di luncurkan.


''Dok,'' Dinda kembali menyapa saat tak ada sahutan dari sebrang sana.


''I... Iya, Din, maaf tadi nggak konsen.'' alasan yang nggak masuk akal.


''Mungkin fikiran Dokter lagi sama suster cantik kali, sampai lupa sekarang lagi nelpon aku.'' celetuk Dinda menggoda.


Dokter Daka hanya tersenyum simpul.


''Ada apa ya, dok,'' kembali ke pokok utama, tanya Dinda lagi barang kali ada yang penting karena kemarin Ia baru saja periksa dan Dokter terlihat sedikit ada keganjilan.


''Nggak kok, cuma pengin dengar suara kamu aja, kangen, sang Dokter lagi modus, meskipun ia tau apa yang di lakukan Alan jika tau kalau Ia menggoda istrinya.


''Kamu baik, kan?''


Dinda tertawa lepas bagaimana dokter kandungan itu menanyakan hal itu, padahal kemarin baru saja periksa dan dia sendiri yang mengatakan kalau Dinda dan bayinya memang baik baik saja.


''Dokter itu lucu ya, selalu aja bisa membuat aku tertawa seperti Salma, ucapnya selomot tiba tiba Dinda ingat sepupunya di kampung yang selalu kocak.


''Siapa itu Salma, boleh dong di kenalin.''


''Iya nanti kalau acara tujuh bulanan dia kesini kok, nanti aku kenalin.''


Sebenarnya belum cukup untuk bicara, tapi Dinda sudah mematikan ponselnya saat pintu di ketuk dari luar.


Bi Romlah yang sedari tadi di sana membuka pintunya.


''Aden, Bi Romlah menunduk lalu keluar tanpa izin Dinda.


''Kakak, seru Dinda, entah kenapa semenjak Ibunya datang waktu itu Alan tak terlalu cuek padanya dan sering menanyakan kabarnya.


''Alan mendekati Dinda dan duduk di sampingnya.


''Ini baju siapa?'' tanya nya mengambil tumpukan baju paling atas.


''Ini baju buat bayi kita nanti, aku membuatnya sendiri.''


Meskipun Alan memang tidak cuek, namun Dinda hanya menanggapinya biasa saja karena Dia takut kecewa dan terluka lagi seperti sebelumnya, karena harapannya selalu meleset.


''Kakak nggak kerja?'' tanya Dinda karena sudah jam delapan pagi, biasanya Alan sudah siap, tapi ini malah kekamarnya memakai kaos oblong.


''Enggak, aku pingin di rumah, kini Alan malah membaringkan tubuhnya dengan kaki yang ungkang ungkang ke lantai.


Setelah punggung wanita itu menghilang, Alan meringkuk menatap pintu yang kini tertutup rapat.


Kenapa akhir akhir ini dia lebih banyak pendiam, apa dia marah padaku karena aku sudah menyakitinya selama ini, tapi aku kan sudah mencoba baik padanya, batin Alan.


Dinda yang di dalam kamar mandi tidak berbuat apa apa, wanita itu hanya menatap bayangannya dari pantulan cermin dan menyalahkan kran saja, alih alih berbuat sesuatu.


''Maaf kak, kayaknya hubungan kita memang cukup sampai disini, aku akan pergi membawa luka yang pernah kamu torehkan, meskipun aku nggak bisa bawa anak kita, aku berharap kamu dan mbak Syntia bisa merawatnya dengan baik. mengelus perut buncitnya.


Meskipun Dinda masih nggak rela untuk menyerahkan bayinya pada Alan dan Syntia, Dinda tetap akan melakukan hal itu, karena Ia tau bagaimana Papa dan mama mertuanya itu sangat menginginkan bayi yang tidak akan pernah bisa di berikan oleh seorang Syntia.


''Maafkan mama, karena mama nggak bisa bawa kamu nak, mama ingin kamu menjadi cucu keluarga Sudrajat.'' Dinda kembali menumpahkan air matanya, tidak menyangka kalau hidupnya akan menderita.


Sudah hampir satu jam Dinda belum keluar dari kamar mandi, begitu juga dengan Alan yang masih membaringkan tubuhnya di ranjang milik Dinda.


Kali ini pria itu merasa heran dan mendekati pintu kamar mandi.


''Dinda...'' teriaknya sembari mengetuk pintu.


Tak butuh waktu lama Dinda langsung membukanya dengan wajah yang masih basah.


''Kamu nggak apa apa kan?'' ada ke khawatiran yang menyelimutinya.


Dinda menggeleng melewati Alan menuju meja rias.


''Tadi dokter Daka telepon aku, ucap Dinda menatap Alan yang masih mematung di depan kamar mandi.


''Apa katanya?'' melipat kedua tangannya tanpa mendekat.


Dinda mengherdikkan bahunya, ''Nggak bilang apa apa, tanya kabar doang.'' melirik lagi sembari memakai make up.


Ngapain dokter lapuk itu telepon Dinda, bukankah kemarin Dinda baru periksa ke sana, apa Dinda menceritakan sikapku selama ini sama dia, atau jangan jangan...


Batin Alan menggantung, dengan seketika pria itu memukul tembok lalu keluar dari kamar Dinda.


Kelihatannya kak Alan marah, apa dia cemburu, Dinda jangan menghayal terlalu tinggi, kalau nanti kamu jatuh kan sakit, bermonolog dalam hati.


Setelah selesai memakai make up, Dinda pun keluar karena Ia belum sarapan, dan kedatangan Bi Romlah tadi memang memanggilnya untuk makan.


Pemandangan yang tak asing lagi, Alan dan Syntia sudah ada di sana.


Kali ini Dinda memilih ke dapur mengambil makanan dari sana.


Sedangkan Alan langsung mengambil nasi setelah tau kalau Dinda tak ke ruang makan.


''Bi, temani aku makan, yuk!" ajaknya dari dapur, namun Alan dan Syntia masih bisa mendengarnya.


Seketika Alan meletakkan sendok dan garpunya lalu beranjak menuju dapur.


"Apa maksud kamu, kamu nggak lihat kalau aku dan Syntia nungguin kamu, ucapnya dengan wajah yang berapi api.


Dinda tersenyum, "Biasanya kan enggak," jawab Dinda agak santai, karena itu yang setiap hari di lakukan Alan, selalu meninggalkan Dinda saat makan.


"Jadi bukan salahku dong mau makan sama siapa saja dan dimana saja." tegasnya.


"Sekarang kamu mulai berani ya, mentang mentang akhir akhir ini aku ngebiarin kamu, kamu malah ngelunjak dan tidak menghargai aku, seperti tak menangkup sebuah kesalahan, itulah Alan saat memarahi Dinda.


''Sudahlah, kak Aku capek, lagi pula sebentar lagi kan kita pisah, jadi anggap saja aku orang lain, dan aku mohon,'' Dinda menangkupkan kedua tangannya. ''Jika kakak tidak bisa memberi aku kenangan indah, setidaknya jangan memberiku luka lagi, sudah cukup selama ini aku bersabar, terima kasih atas semuanya.


Setelah mengungkapkan uneg unegnya, Dinda langsung saja berjalan menuju kamarnya.