
Sebuah rencana untuk memabangun mahligai rumah tangga bersama suaminya itu kini pupus sudah, tidak ada lagi harapan, dan tidak ada lagi yang Dinda fikirkan tentang Alan, baginya hidupnya saat bersanding dengan pria itu adalah sebuah ujian hidup yang harus di lewatinya, kini dengan tinggal bersama Faisal, Dinda merasa lebih nyaman, bagaimana tidak, kasih sayang yang sempat hilang itu kini tumbuh kembali, Bahkan Faisal memperlakukannya dengan begitu istimewa.
Seperti pagi ini, jika Biasanya Faisal itu malas untuk bangun, kini sang abang itu sudah menyiapkan sarapan pagi untuknya, meskipun hanya telor ceplok dan nasi yang penting Dinda makan.
Namun wajah Dinda memang masih tak bersahabat, buktinya setelah makan Dinda langsung kembali ke kamarnya menarik gorden lalu duduk di tepi ranjang.
Faisal yang juga khawatir itu pun mengikuti sang adik masuk ke dalam kamarnya.
''Jangan ngelamun!" cetus Faisal saat Dinda terlihat bingung menatap arah luar jendela.
Wanita itu tersenyum menoleh ke arah abangnya yang saat ini duduk di sampingnya.
"Nggak melamun, cuma mikirin Bapak dan Ibu saja, bagaimana jika dia tau keadaanku, kembali Dinda merasa terpuruk dengan keadaannya saat ini.
"Maafin abang, jangan di fikirin itu urusan abang, lagi lagi Faisal hanya bisa meminta maaf dengan apa yang terjadi padanya.
"Sekarang abang mau kerja, nanti katanya Amel kesini kok, jadi kamu punya teman, mengacak rambut sang adik lalu mengelus perut buncitnya.
"Paman pergi dulu ya sayang, kamu harus jaga mama, jangan bikin Mama kesel ya, bicara ala anak kecil seraya mendekati perut buncit Dinda.
Dinda hanya mengangguk dengan senyuman.
Baru juga meninggalkan Dinda, Amel sudah datang.
"Mas sudah mau berangkat?" tanya Amel mencium punggung tangannya,
Faisal mengangguk, "Kamu jaga Dinda ya, hibur dia, aku yakin dia pasti masih memikirkan masalahnya, pinta Faisal dengan sungguh sungguh.
"Tenang mas, Aku pasti akan jaga Dinda sebagaimana diriku sendiri."
Faisal yang sudah merasa tenang dengan kedatangan Amel itu pun langsung meninggalkan Apartemen.
Meskipun hatinya kini mulai goyah dengan persahabatannya dengan Alan, Faisal masih sesantai mungkin, meski ia masih menjadi sekretaris Alan namun Faisal sudah mencari pekerjaan yang lain, sebelum menyerahkan surat kemunduran dirinya.
"Sudah makan, Din?" tanya Amel.
"Sudah Mbak, tadi dengan abang, jawab Dinda memeluk Amel dan ikut keluar.
Amel tau bagaimana perasaan wanita yang sedang kecewa, karena ia pun pernah merasakannya, apa lagi Dinda sedang hamil pasti hatinya seperti tercabik cabik.
"Kita belanja yuk, kayaknya baju kamu sudah mulai nggak muat," menatap baju dibagian perut yang begitu sempit.
"Ini gara gara dedeknya nih yang tumbuh, ucap Dinda mulai tersenyum karena ia pun tau itu.
Di kantor, seperti biasa Faisal selalu datang lebih awal dari pada Alan, jika biasanya ia langsung menyambut dengan canda dan tawa, kini Faisal langsung ke inti apa lagi kalau bukan kerja di ruangannya.
Tak lupa untuk menyambut bosnya yang baru datang.
''Pagi pak, sapa Faisal ramah dan sopan.
Sedangkan Alan malah mengernyit, bingung dengan ucapan Faisal yang begitu ramah dan menunduk.
''Pagi, jawab Alan langsung masuk ke dalam ruangannya. Faisal yang ingin menyampaikan jadwalnya itu pun mengikuti langkah Alan.
"Apa bapak butuh sesuatu?'' tanya Faisal.
Alan menggeleng.
''Kalau begitu saya permisi dulu, Faisal kembali membuka pintu ruangan Alan.
Setelah punggung Faisal menghilang, kini Alan mulai berfikir keras tentang perubahan sikap Faisal padanya.
Apa sikap Faisal ada hubungannya dengan masalahku dan Dinda.
Alan yang masih bergelut dengan otaknya itu menatap dua cincin kawin yang bertumpuk di jari manisnya.
''Mulai saat ini aku akan melepas cincin pernikahanku dengan Dinda, menarik cincin yang dulu di sematkan oleh istri tuanya, setelah cincin pernikahannya dengan Syntia terlepas, Kini Alan memegang Cincin yang dulu di sematkan oleh Dinda, istri mudanya.
Kok nggak bisa di lepas,'' batin Alan.
Alan kembali mencoba melepas cincin yang dengan enaknya angkring di jarinya, dengan seluruh tenaga Alan menariknya, namun nihil, cincinnya memang sulit untuk di lepas, bahkan jari Alan terlihat memerah.
Perasaan dulu nggak sempit banget, kenapa sekarang jadi seperti ini.
Alan terus membolak balikkan jarinya menatap cincin yang tak bisa di ambilnya.
Terpaksa Alan kembali memakai cincin dari Syntia tanpa melepas milik Dinda saat pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" sahutnya.
Ternyata Faisal yang kini datang membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Maaf pak, ini ada yang perlu bapak tanda tangani," meyodorkan di depan Alan.
Sebelum menggerakkan jari lentikanya, Alan membaca terlebih dahulu isi map tersebut.
"Apa kamu yakin kalau setiap bahan yang kak akan datang naik sepuluh persen?" tanya Alan yang langsung paham dengan isinya.
"Iya pak, saya sudah bandingkan dengan perusahaan lain, dan ternyata sama. bahkan mereka masih berani dengan harga yang jauh lebih tinggi, kalau kita nggak ambil kita bisa nggak punya bahan untuk pengolahan," jelasnya, karena Faisal tak hanya sekretaris tapi pekerjaannya serabutan, dan itu lah yang membuat Alan tak pernah kuwalahan dengan kerjaannya.
"Ya terserah kamu saja, yang penting perusahaan ini tak mengalami kerugian."
Setelah tanda tangan, Faisal pun langsung kembali dan tak seperti biasa yang dulu untuk membahas hal yang konyol.
Alan mendesah, ternyata sikap Faisal barusan membuat tak nyaman, namun ia bisa apa selain menerimanya.
Kini tak ada lagi Faisal yang penuh canda dan menggodanya, tak ada Faisal yang selalu membantunya dengan masalah pribadi, dan tak ada Faisal yang lalu menyelonong masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.
Kini hanya ada Faisal sang sekretaris yang begitu serius dengan kerjaannya yang sopan pada bosnya.
"Ternyata masalahku dengan Dinda membuat Faisal menjauh, terus bagaimana saat nanti aku bercerai dengan Dinda, apakah Faisal akan membenciku? dan apakah dia akan keluar juga dari kantor ini dan akan bekerja di perusahaan lain." gumamnya menyandarkan punggungnya di sandaran dan memejamkan matanya menelusuri setiap masalah yang datang dalambrumah tangganya silih berganti.
Maafkan aku Al, bukan maksudku untuk bersikap seperti ini padamu, tapi aku sangat kecewa dengan sikap kamu, tak seharusnya kamu menyakiti adikku, jika kamu memang tak suka, kenapa kamu nggak jujur sama aku, dan di waktu itu aku bisa menjemputnya, tidak dengan hati yang sudah terluka seperti ini, jika suatu saat kamu sudah sadar dengan kesalahanmu, aku tidak akan pernah mengizinkan adikku untuk kembali padamu kecuali dia sendiri yang meminta, selamat tinggal. sahabatku, dan terima kasih untuk kebaikan kamu selama ini.