
Kak Alan, Aku minta maaf, jika kehadiranku selama ini membuatmu dan Mbak Syntia tak nyaman, Aku akan pergi jauh dengan semua luka yang pernah kamu berikan, tapi demi apapun aku tidak akan pernah membalas semua perlakuan kamu padaku. Kita sama sama berdoa saja, semoga perpisahan kita adalah jalan yang terbaik, dan di saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada di sini lagi, jangan benci aku sebagai Dinda, orang yang masuk ke dalam kehidupan kamu tanpa sengaja, tapi kenanglah dan rindukan aku sebagai ibu dari anak kita. Selamat tinggal.
Isi surat itu seakan adalah sayatan pedang untuk Alan dari Dinda dengan perlakuannya selama mereka menikah, tak ada sedikitpun belas kasihan, dan tak ada sedikitpun kasih sayang yang di curahkan, hanya kebencian yang selalu di sajikan Alan untuk Dinda.
Tak mau membuang waktu lagi, Alan langsung menghubungi pihak kantor menanyakan alamat lengkap mantan sekretarisnya, karena waktu masih sangat cukup untuk ke kampung Dinda, Alan langsung bersiap.
''Bi, aku pergi dulu ya, jaga putraku dengan baik, dan doakan supaya aku bisa mengajak mamanya pulang. Bilang sama Syntia kalau aku keluar kota!"
Bi Romlah mengangguk dan tersenyum.
Semoga niat baikmu itu mendapatkan hasil yang baik.
Perjalanan yang memakan waktu tiga jam itu sangat melelahkan, kini mobil Alan sudah tiba di kampung tempat tinggal Dinda sebelum ke kota. Dari dalam mobil, Alan menatap rumah yang ber cat putih, terbilang mewah untuk rumah di area perkampungan, meskipun terlalu kecil dan sederhana bagi Alan.
Pasti mereka ada di rumah.
Setelah turun dari mobil, Alan menunduk ramah pada orang yang melintas di depan rumah mertuanya.
Apa ibu dan bapak masih mau menerima permintaan maafku setelah tau kelakuan ku selama ini.
Masih sedikit enggan, takut sesuatu yang tak di inginkannya terjadi, namun rasa ingin bertemu istrinya semakin mendalam dan ini sudah tak bisa di bendungnya lagi.
''Permisi.'' sapa Alan sembari mengetuk pintu.
Tak ada jawaban, namun terdengar sebuah isakan dari dalam.
Siapa yang nangis, Ibu atau Dinda.
Ingin rasanya Alan menerobos masuk dan memeluk erat jika itu Dinda, namun jika Ibunya Alan ingin bersimpuh meminta maaf di depannya, namun semua itu hanya angan angannya semata.
Alan kembali merogoh kantong celananya memastikan kalau alamat yang di dapat dari kantor itu benar.
Benar ini alamatnya.
''Permisi.'' Alan kembali meninggikan suaranya.
Masih tak ada yang menjawab atau menyapanya, terlihat di depan matanya beberapa mesin jahit berjejer di sana, dan beberapa kain menumpuk, Alan jadi teringat di mana ia melarang Dinda untuk meletakkan mesin kesukaannya di ruang keluarga.
Bukankah rumah suami adalah rumah istri, tapi dengan bodohnya aku melarangmu untuk menaruh mesin jahit kamu di tempatku, Andai aku tau akan seperti ini, aku tidak akan semena mena kepada kamu, semoga kamu baik baik saja.
"Permisi." sekali lagi Alan meninggikan suaranya.
Penghuni rumah yang mendengar teriakan Alan itu pun keluar, bukan Dinda, mertua, ataupun abang iparnya, melainkan gadis cantik seumuran istri keduanya.
Gadis yang tau status Alan itu tersenyum, karena bagaimana pun juga Alan masih menjadi kerabatnya.
"Silahkan masuk!" ucapnya dengan ramah.
Sepertinya dia saudara Dinda yang waktu itu ikut ke rumah mama saat tujuh bulanan.
Tak berkata sepatah kata Alan masuk dan duduk di ruang tamu.
"Sebentar aku panggilin paman!" ucapnya lagi.
Alan mengangguk dan bersiap dengan apa lagi yang akan di hadapinya kali ini.
Setelah menunggu beberapa menit, bukan orang yang di bilang paman yang datang melainkan gadis itu lagi membawa secangkir kopi hitam.
"Silahkan di minum!" meletakkan kopinya di meja.
"Bapak dan Ibu kemana?" tanya Alan saat suara isakan yang tadi tak terdengar lagi.
"Ada di dalam." jawabnya menunjuk kamar yang sedikit terbuka.
Gadis itu kembali masuk menuju dapur melawati kamar Paman dan Bibinya.
Jenuh, itu yang di rasakan Alan yang butuh kepastian dari kedua mertuanya, sesekali pria itu menilik jam yang melingkar di tangannya dan ternyata sudah senja.
Bahkan secangkir kopi sudah habis di teguknya, namun kedua mertuanya belum nampak ingin menemuinya.
Bukan hanya itu, banyak yang merasuki jiwanya saat menatap seluruh ruangan yang di penuhi baju buatan Bu Tatik, persis kamar Dinda saat di rumahnya dan itu menggugah hatinya untuk segera bertemu Dinda dan mengembalikannya seperti semula.
Alan kembali melihat gadis yang dari tadi menyuguhinya minum itu membersihkan meja makan.
Di hampirinya, karena Alan tak mungkin berdiam diri di sana hanya menunggu yang tak pasti.
Di liriknya lagi pintu yang bertuliskan nama Dinda serta fotonya.
Tak menghiraukan jika di sebut pencuri Alan mengambil gambar itu dan di selipkannya di saku jaket sebelum mendekati gadis yang memang mirip sekali dengan Dinda.
"Maaf, Sebenarnya bapak dan Ibu mau nggak ketemu aku?" tanya Alan ragu, karena gadis itu kelihatannya pendiam seperti istrinya.
"Maaf, tadi Bibi nangis histeris, jadi mungkin saja beliau saat ini tidur," jawab gadis itu.
Alan manggut manggut mengerti.
"Kalau bapak?" tanya nya lagi.
"Paman menenangakan bibi karena semenjak pulang dari kota mereka sama sekali nggak keluar rumah." jelasnya lagi.
"Kalau bang Faisal sama Dinda?"
Gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya.
Itu artinya mereka nggak ikut pulang, tapi mereka tinggal di mana, apa bang Faisal membeli apartemen baru untuk menghindariku. terka-nya.
Alan yang sudah tak sabar dengan penantiannya itu pun menghampiri kamar mertuanya. Belum sampai mengetuk, Pak Yanto keluar dan mendaratkan jari telunjuknya dibibir, meminta Alan untuk tidak mengeluarkan suaranya.
Raut wajahnya terlihat suram saat menepuk lengan Alan.
''Mau apa kamu kesini?'' tanya pak Yanto yang notabennya adalah orang sabar.
''Mari!" mengajak Alan untuk duduk kembali di ruang tamu.
''Pak, aku yakin bapak tau masalahku dengan Dinda."
Pak Yanto hanya mengangguk tanpa suara.
''Aku minta maaf atas kelakuanku selama ini." ucap Alan menangkupkan kedua tangannya.
''Aku kesini ingin bertemu dengan Dinda." ucap Alan lagi.
Pak Yanto menghela nafas panjang, karena pria tua itupun tak tau kemana Faisal membawa adiknya.
Pak Yanto menggeleng. ''Bapak juga tidak tau Abangnya membawa Dinda ke mana, dia tidak memberi tau kami, Faisal cuma bilang kalau Dinda butuh ketenangan, dan belum bisa berkumpul dengan Bapak dan Ibu.''
Alan semakin bingung dengan pernyataan bapaknya.
''Jadi Dinda masih di kota?'' tanya Alan kembali memastikan kalau Istrinya masih tinggal di sana dan belum kembali pulang.
Pak Yanto mengangguk.
Aku harus pulang, aku harus mencari Dinda, se lelah apapun aku tidak akan berhenti sampai aku benar benar menemukannya dalam keadaan baik baik saja.