Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Langkah cepat


Tak mau mengulur waktu dan tak mau bertele tele, Faisal menyetujui saran dari Bu Yanti untuk segera melamar Amel sang kekasih, jam makan siang Faisal datang ke sebuah restoran mewah setelah memberi pesan Amel untuk datang ke sana.


Saat Faisal masuk Ia langsung tersenyum simpul mendapati sosok wanita cantik sudah menunggunya.


''Sudah lama?'' tanya Faisal dari belakang.


Wanita itu mengulas senyum, ''Baru lima menit.'' jawabnya, meskipun sudah hampir satu jam, Amel tidak mau Faisal merasa nggak enak.


Faisal yang sedikit merasa gugup itu langsung meraih minuman Amel yang masih setengah.


''Mas itu kan punya aku, sisa lagi, aku pesenin ya?'' namun seketika Faisal menggeleng tanpa suara.


''Mel, pangilnya masih sedikit ada rasa berat untuk mengungkapkan kalimat yang dari tadi wara wiri di otaknya.


''Ada apa sih mas, kok kelihatannya kamu serius gitu, menepuk punggung tangan Faisal yang bersandar di meja.


''Aku mau melamar kamu,'' ucapnya membuat mata Amel bulat sempurna, darah gadis itu merasa berdesir tak menyangka di balik cuweknya Faisal ternyata pria itu tau apa yang di inginkannya.


''Beneran?'' Amel memastikan kalau apa yang di ucapkan Faisal itu bukanlah mimpi atau halu.


Faisal kembali mengangguk, kali ini di sertai senyuman manis.


Akhirnya Mas Faisal menepati janjinya, aku yakin dia akan memperjuangkan aku dan tidak akan menggantung cinta kami.


''Kapan?'' tanya Amel penasaran kalau rencana itu bukan cuma ucapan aja.


''Besok, sebuah hadiah bagi Amel, laki laki itu benar benar penuh kejutan, tak menyangka diamnya itu memendam seribu rencana yang membuat hatinya bahagia.


''Aku akan bilang sama papa dan Mama kalau besok Mas Faisal akan datang,'' ucapnya dengan penuh haru.


''Tapi,'' Ada kata itu yang kembali meluncur di bibir Faisal.


''Tapi apa, mas masih ragu,'' timpal Amel.


Faisal menggeleng, ''Besok yang datang ke rumah kamu bukan bapak dan Ibu, tapi tante Yanti dan Om Heru, mereka yang mau melamar kamu buat aku,'' ucapnya lagi menjelaskan.


''Nggak apa apa, kan bapak dan Ibu bisa datang nanti kalau kita sudah menikah, lagi pula kan kasihan jauh, kapan kapan kita nya aja yang ke sana.''


Amel yang begitu sabar menghadapi sikap bisu dari Faisal akhirnya kini mendapat sebuah jawaban yang memuaskan.


''Dan aku sudah punya rencana kapan kita menikah,'' jarang ketemu dan bicara, namun dalam kurang lebih satu jam Faisal mampu meluncurkan beberapa kata yang membahagiakan bagi sang kekasih.


''Kapan?'' tanya Amel lagi masih penasaran.


''Setelah Dinda melahirkan, dan di saat itu pula kita tentukan tanggal.''


''Aku mau.''


Keduanya saling pandang, meskipun Faisal jarang bertemu namun kesabaran Amel membuatnya luluh untuk bersanding gadis cantik putri milyader tersebut.


Faisal pun tak habis fikir dengan Amel, berapa kali di abaikan, dan beberapa kali Faisal meminta putus, namun gadis itu tetap keukeuh menerima dirinya yang apa adanya dan hanya sebagai sekretaris Alan.


Di saat Faisal bahagia dengan keputusannya, sang adik juga tak kalah bahagia, hari ini Ia mengunjungi sebuah pabrik kain milik mertuanya, berbagai bakal pakaian terpampanag jelas disana dengan bermacam macam, meskipun Dinda menunda belajarnya untuk menjadi seorang Desainer, setidaknya Ia mencari ilmu lagi untuk mengembangkan bakatnya di dunia itu, sedikit demi sedikit ia mulai mengorek lebih dalam lagi, dan ingin meneruskan cita citanya setelah melahirkan.


''Ma, kalau yang di sebelah sana tempat kain apa?'' menunjuk satu ruangan lagi yang belum didatanginya.


''Yang di sebelah sana tinggal kain batik sayang, tapi juga dari berbagai penjuru kota, tak hanya dari sini saja, kalau kamu ingin tau dari nol, di perusahaan suami kamu lebih detail.


Dinda mengangguk anggukkan kepalanya.


''Memangnya kamu sudah bisa bikin sketsa?''


''Bisa sih ma, dikit dikit, tapi kalau di kampung nggak pakai sketsa, cukup di ukur pakai meteran, soalnya kebanyakan mereka suka longgar, nggak kayak di kota yang jika pakai baju harus pas, jawabnya, seperti pengalanamannya selama ini, setiap orang yang membuat baju di konveksi ibunya yang memang selalu seperti itu, tidak harus melekat di tubuhnya.


''Ma, Dinda memegang tangan Bu Yanti yang dari tadi mematung di sampingnya.


Bu Yanti menoleh.


''Boleh nggak aku minta kainnya, Aku mau mau bikin baju bayi di rumah,'' jelasnya supaya tak banyak tanda tanya dalam hati Bu Yanti.


''Memang nya kamu punya mesin?'' tanya Bu Yanti yang tidak mengetahui.


Dinda mengangguk pelan. ''Kak Alan membelikan aku mesin jahit, katanya untuk hiburan sehari hari saja.''


Bu Yanti tertawa lepas, ''Mama nggak nyangka, ternyata dia peduli sama kamu, dan ternyata dia perhatian juga, ya sudah kamu tinggal pilih, nanti biar diantar supir ke sana.''


Maaf aku berbohong ma, aku nggak mau mama salah paham dan memarahi kak Alan jika aku jujur.


Setelah selesai dari tempat penyimpanan kain, kini kedua wanita itu kembali menuju restoran, jam makan siang sudah lewat, entah kenapa saat Ini Dinda pengin banget makan di restoran mewah yang pernah di kunjunginya bersama Alan dan Syntia waktu itu.


Setibanya, Dinda menatap tulisan yang terpampang seperti kala itu.


''Kamu kenapa, ayo masuk!" Bu Yanti meraih tangan Dinda.


Keduanya berjalan bersejajar ke dalam.


"Mama ke toilet bentar ya, kamu pesan aja." meletakkan tas di samping Dinda.


Baru juga waitress datang, Mata Dinda terbelalak saat mendapati sepasang suami istri yang baru saja masuk restoran tersebut.


Kenapa aku harus ketemu Kak Alan dan Mbak Syntia disini, mereka kelihatan begitu mesra, kapan aku ada di samping kamu seperti mbak Syntia kak, kapan aku kamu anggap sebagai seorang istri, dan kapan aku bisa meluluhkan hati kamu, jika memang semuanya itu tidak bisa, aku akan pergi jauh darimu setelah ini, batin Dinda pilu.


"Loh kok belum pesan?" ucap Bu Yanti tiba tiba, entah dari kapan datangnya, yang pastinya saat ini Dinda gugup dan menyeka air matanya yang baru saja luruh.


"Nungguin mama, bingung makan apa, mendingan kita pindah restoran aja deh ma," kembali merapikan tampilannya dan berbalik.


"Kenapa?"


"Kayaknya dedeknya udah nggak mood, ingin makan vegetarian." jawabnya.


Bu Yanti yang paham akan kondisi ibu hamil itu langsung saja mengikuti kata Dinda tanpa banyak tanya.


Keduanya keluar menuju mobilnya.


"Pak ganti restoran jalan X, ucap Bu Yanti, di mana restoran itu banyak menu yang baru saja di ucapkan menantunya.


''Tunggu pak!" menepuk pundak pak Sujad, dan kembali membuka kaca mobilnya.


"Itu kayak mobil Alan," ucapnya lantang.


"Mana ma, Dinda pura pura nggak tau, padahal Dia memang sudah lihat dengan mata kepalanya kalau suami dan istri pertamanya ada di dalam.


"Tu, menunjuk sebuah mobil mewah yang sangat familiar.


"Ma, mobil di kota ini kan banyak yang sama, mungkin saja kebetulan, udah kita pergi saja, takut dedeknya nggak mood lagi.


Meskipun masih menjanggal, Bu Yanti tetap mengalah dengan ucapan menantunya.