Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Di tolak


'Bangkit' mungkin hanya kata itu kini yang harus di lakukan Dinda, tak boleh terpuruk dengan masalah yang menimpanya, dan tak menoleh ke belakang untuk menatap masa buruk, harus ke depan mencari kehidupan yang lebih baik, Dinda menganggap masalahnya itu hanya sebuah kerikil kecil yang menyandung kakinya.


Setelah sampai, Dinda langsung menempatkan mesin jahitnya di ruangan yang mengarah ke taman, meskipun tak begitu besar, namun apartemen itu nyaman untuk singgah karena kasih sayang dari abangnya yang tercurahkan untuknya.


Dengan telaten Dinda kini bermain di dunia maya, dengan perutnya yang sudah membuncit wanita itu menyibukkan dirinya untuk beraktivitas, namun tetap ia selalu mengingat kata dokter Daka yang tak memperbolehkannya banyak duduk.


Setelah selesai, Dinda menatap ruangan yang kini di penuhi dengan barang miliknya.


''Abang nggak mungkin marah sama aku,'' merapikan kembali bajunya di dalam lemarinya.


Sama seperti Dinda yang sibuk dengan kegiatan barunya, jam makan siang Faisal tersenyum, lalu keluar dari ruangannya membawa berkas yang kemarin di buatnya.


Namun posisinya yang masih anak buah di perusahaan Alkana Grup, sekretaris itu ke ruangan Alan untuk minta izin sebelum keluar.


''Permisi,'' ucap Faisal mengetuk pintu yang sedikit terbuka.


Tak ada sahutan, kursi Alan juga nampak kosong, padahal mereka baru saja selesai meeting.


Alan kenapa, apa dia ada di kamarnya, tadi juga kayaknya wajahnya kusut banget, batin Faisal.


Tak mau di anggap melanggar peraturan kantor, Faisal tetap masuk dengan mendengus.


''Permisi, ucap lagi Faisal, ternyata Alan membaringkan tubuhnya dikamar pribadinya.


Mendengar suara Faisal, Alan langsung saja beranjak.


''Ada apa?'' tanya Alan antusias.


''Maaf pak, saya mau keluar sebentar, nanti kalau bapak butuh sesuatu telepon saya, ucap Faisal ramah.


Alan hanya diam menatap map yang ada di tangan Faisal.


''Baiklah, cepat kembali, ucapnya lalu memutar tubuhnya dan duduk di tepi ranjang menatap punggung Faisal berlalu.


Dulu kamu orang pertama yang membantu jika aku dan Syntia ada masalah, tapi sekarang, jangankan untuk cerita, kita seperti orang asing, apa lagi nanti saat aku bercerai dengan Dinda, apakah kamu tak lagi mengenalku.


"Maafkan aku Al, aku seperti ini karena kamu, seandainya kamu tak menyakiti adikku, kita akan tetap seperti dulu, tapi tidak, aku tidak akan lagi mengorbankan adikku demi pekerjaanku, gumamnya saat di depan ruangan Alan.


Dengan sigap Faisal melajukan mobilnya, sepertinya ada lowongan kerja yang pas dengan profesinya saat ini, namun entah perusahaan itu menerimanya atau tidak yang penting Faisal sudah berusaha.


Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai keperusahaan itu, Faisal memarkirkan mobilnya di depan gedung tersebut, meskipun tak sebesar perusahaan Alan, setidaknya Faisal bisa pindah kerja, itulah menurutnya.


Dengan langkah gontainya, Faisal memasuki perusahaan di bidang otomotif yang baru beberapa tahun ini beroperasi.


"Permisi, mbak, apa benar perusahan ini membutuhkan sekretaris?" tanya Faisal pada resepsionis cantik yang bertugas.


"Benar pak, langsung saja bertemu pak direktur di lantai tiga," ucapnya ramah menunjukkan arah jalan.


Setelah berterima kasih, Faisal langsung menaiki tangga, tak perlu naik lift, itung itung olahraga.


Setelah mendapati ruangan yang bertuliskan Direktur utama, Faisal mengetuk pintunya, hanya butuh sekali, sahutan dari dalam menembus gendang telinganya.


Faisal membuka pintu ruangan itu dan membungkuk ramah.


"Kamu yang mau melamar kerja?" tebak pria itu yang berpangkat bos di perusahaan.


Faisal mengangguk.


''Nama saya Faisal pak, ucapnya berjabat tangan dengan pria di depannya.


"Panggil saja saya pak Harto, silahakn duduk!"


Faisal menyerahkan berkas lamarannya kepada pak direktur.


Sesekali pak direktur melirik ke arah Faisal yang kini menunduk, karena Faisal tau belum tentu ia di terima karena statusnya yang saat ini belum mengundurkan diri dari perusahaan Alan, dan itu akan membuat perusahaan baru berurusan dengan Alan jika mereka dengan gampangnya menerimanya.


Setelah rentetan pertanyaan itu dijawab Faisal, Pak Direktur menghela nafas panjang menatap wajah yang memang familiar itu. Sekretaris Alan dari Arkana grup.


"Kamu tau kan, kalau perbuatan kamu ini salah?" tanya pak Direktur menyerahkan kembali berkas Faisal dengan sopan.


Faisal mengangguk, "Tau pak." jawabnya.


"Kalau begitu maaf, saya tidak bisa menerima karena kamu masih bekerja di perusahaan Pak Alan, meskipun sudah keluar dari sana, kami juga harus berfikir ulang untuk menerima kamu, dengan terang terangan Direktur itu menolak lamaran Faisal.


Dengan sedikit kecewa Faisal keluar dari ruangan itu dengan membawa kehampaan karena tak membuahkan hasil.


Faisal menghembuskan nafasnya duduk sejenak di depan ruangan Pak Direktur itu.


Jika aku mengundurkan diri dari perusahaan Alan, bagaimana dengan Om Heru, pasti beliau tidak akan mengizinkan aku, tapi jika aku masih di sana, nggak mungkin ada perusahaan yang mau menerimaku, apa lagi kebanyakan perusahaan dikota ini bersangkutan dengan om Heru, aku harus bagaimana, apa aku harus cari usaha lain, sebentar lagi Dinda akan melahirkan, nggak mungkin aku berdiam diri dan tetap bekerja di perusahaan Alan, pasti Dinda akan kecewa sama aku, kalau minta bantuan Amel nanti dikira aku laki apaan, Ya Tuhan, tunjukkan jalan yang terbaik untuk aku dan Dinda.


Faisal yang merasa pusing itu sejenak menenangkan fikirannya sebelum kembali ke kantor Alan, tak mau terlihat kacau di depan Alan.


Setelah sedikit merasa tenang, Faisal kembali ke mobil untuk kembali bergulat dengan pekerjaannya di kantor, karena waktu istirahat sudah hampir habis, takut ada teguran dari Alan.


Jika Faisal bingung mencari pekerjaan, kini Alan pun bingung, bukan hanya Faisal yang terlihat menjauh, Dokter Daka pun kini tak mengangkat teleponnya, tak ada lagi teman curhat, Alan memilih untuk berada di dalam kamar pribadi ruangannya.


Masih teringat jelas bagaimana Syntia itu marah saat ia bertanya, padahal Alan hanya ingin tau, bukan menuduh, tapi wanita itu malah menganggapnya tak mencintai dirinya lagi.


"Kenapa seakan semua orang menjauh dariku, apa yang sebenarnya terjadi, Aku harus cari tau, sebenarnya siapa Rey itu, dan apa hubungannya dengan Syntia, jika tak ada hubungan khusus kenapa dia marah saat aku bertanya,'' gumam Alan.


Jika biasanya Faisal langsung menjadi orang pertama yang di perintahnya, kini Alan harus mencari orang lain untuk membantunya.


"Halo," sapa Alan saat teleponnya tersambung.


''Bisa kita ketemu, di cafe X, sekarang juga!" ucapnya lagi.


Setelah mendapat persetujuan dari sebrang sana, Alan langsung keluar dari ruangannya.


Tak sengaja ia berpapasan dengan Faisal yang terlihat lelah, bahkan Faisal mengendurkan dasi yang melilit di lehernya setengah hari itu. keduanya saling diam dan tak saling sapa dan lagi lagi, mata Alan tertuju pada map yang da di tangan Faisal.


Surat lamaran kerja, baca Alan dalam hati.


Namun Alan tetap melanjutkan jalannya meskipun banyak pertanyaan yang ingin di ajukan untuk sekretarisnya itu.


Berkas siapa yang di bawa Faisal, siapa yang akan melamar kerja? apakah Dinda? dia kan cuma lulusan SMA, dan sekarang kan dia hamil, memangnya mau kerja apa?