
Dengan mata yang masih membengkak, Dinda terpaksa harus keluar kamarnya karena rasa keroncongan di perutnya sudah tak bisa ditahan lagi, meskipun belum waktunya sarapan wanita itu langsung saja menuju dapur membuka lemari pendingin mencari makanan yang siap untuk dimakan.
''Cari apa non?'' tanya Bi Romlah saat mendapati Dinda membuka lemari pendingin, wanita itu menoleh kearah Bi Romlah yang mematung di belakangnya.
''Aku laper Bi, ada makanan kah?'' mengelus perutnya.
''Tunggu dimeja makan, bibi buatin makanan untuk Non,'' menggiring Dinda ke meja makan, meskipun Bi Romlah tau, namun Ia tak banyak tanya, pastilah Dinda habis nangis.
Selang beberapa menit, Dinda menunggu dengan menopang dagu dengan kedua tangannya, roti bakar dan susu bu mil sudah siap di hidangkan.
''Silahkan, Non,'' meletakkan roti bakar di depan Dinda yang sepertinya masih melamun.
''Non, panggil Bi Romlah lagi, sedikit meninggikan suaranya.
''Iya Bi, maaf nggak lihat tadi,'' mulai menyentuh makanan dan melahapnya.
''Kayaknya trimester non sudah selesai, setelah ini makan yang banyak ya Non, biar Ibu dan dedenya sehat, bibi siap kapan saja non panggil saja, akan Bibi masakin,'' jawabnya dengan mengelus tangan dan siap melayani Dinda.
Dinda mengangguk tanpa suara karena mulutnya di penuhi roti bakar dengan selai cokelat yang memang menggugah selera di pagi hari.
Enam bulan lagi aku akan menjadi seorang ibu.
Di sela sela makannya Dinda menghentikan kunyahannya saat mendengar mobil yang berhenti di depan rumah.
''Bi, kayaknya ada tamu deh,'' teriak Dinda yang masih PW dan malas untuk membuka pintu, giliran Bi Romlah yang melihatnya.
''Siapa bi?'' teriak lagi Dinda penasaran siapa yang pagi itu datang ke rumah orang.
''Taraaammmm....ternyata bang Faisal yang kini di sana dengan kue yang begitu besar di tangannya, di tambah lagi kedua mertuanya dan calon kakak iparnya.
Dinda ternganga di tempat, rasanya ini adalah mimpi di pagi buta, setelah semalam menyaksikan suami dan istri pertamanya yang sedang merayakan ulang tahun, kini dirinya mendapat kejutan yang begitu istimewa.
Seluruh keluarganya itu menghampirinya.
Pelukan pertama dari mama mertuanya.''Selamat ulang tahun ya sayang, maaf mama terlambat karena abang kamu baru cerita tadi,'' cicitnya mengelus rambut Dinda dan mencium keningnya.
''Terima kasih ya, ma,'' mengeratkan tangannya.
''Selamat ulang tahun ya Din,'' kini giliran Amel yang memeluknya setelah terlepas dari Bu Yanti.
''Mbak mau saja di ajak Bang Faisal kesini, ini kan nggak penting, menatap wajah cantik Amel.
''Kata siapa, Mas Faisal bilang setiap ulang tahun kamu itu selalu nagih kado, dan ini aku punya kado untuk kamu, menyodorkan kotak yang lumayan besar di letakkan di meja.
''Selamat ulang tahun ya nak, semoga kamu selalu di beri kesehatan dan bayi yang ada di dalam kandungan kamu juga sehat,'' ucap Pak Heru yang juga tak sungkan memeluk menantunya.
''Terima kasih ya, pa, ngeropotin kalian jadinya.''
Faisal yang sudah selesai menyalakan lilin itu pun ikut memeluk adik tercintanya.
''Selamat ulang tahun ya Din, maaf abang terlambat, karena Alan pasti sudah merayakannya tadi malam.''
Deg, jantung Dinda berdetak kencang, meskipun wajahnya berubah nanar, Dinda masih mencoba menampilkan senyum.
''Jelas dong bang, bahkan Kak Alan sangat romantis, dia ngajakin aku dinner di taman, banyak kembang api dan petasan di sana, dan kue yang begitu besar,'' ucapnya menatap keluarganya secara bergantian.
''Beneran?'' tanya mama Yanti seperti menyelidiki omongan Dinda.
''Mana buktinya?'' makin menyelidik.
''Kuenya masih kok ma, di kulkas,'' jawabnya sedikit ragu, untung dia masih melihat sisa kue milik Syntia semalam, kalau tidak Dinda nggak tau harus cari alasan apa lagi.
Angkanya sudah hilang belum ya.
Dinda kembali ketar ketir saat Mama Yanti menghampiri lemari pendingin.
''Beneran pa,'' Dinda bernafas dengan lega saat mendengar suara Bu Yanti yang terlihat senang.
''Mama nggak nyangka Alan diam diam memperhatikan kamu,'' kembali duduk di samping Dinda.
''Sekarang waktunya tiup lilin, ucap Faisal yang sudah siap untuk menyaksikan adiknya lebih bahagia.
''Bentar, Aku panggil kak Alan dulu.''
Dinda meninggalkan semuanya menuju kamarnya.
Baru juga sampai di ujung tangga paling atas, Dinda di kejutkan dengan Alan yang sudah mematung di sana.
''Ka... kakak...'' sapa Dinda ragu, takut kalau Alan memarahinya seperti kemarin.
''Kenapa kamu berbohong sama mereka?'' cetus Alan ingin penjelasan ucapan Dinda yang ternyata sudah di dengarnya dari awal sampai akhir.
''Itu akan aku jawab nanti, tapi sekarang aku mohon ikut aku, aku nggak mau mereka curiga dengan hubungan kita,'' meraih tangan Alan dan membawanya turun, entah kenapa tak ada penolakan sedikit pun dari Alan dan terus mengikutinya hingga keduanya berada di tengah tengah yang lain.
Dengan penuh semangat semua bertepuk tangan seraya menyanyikan lagu ulang tahun untuk Dinda, begitu juga dengan Alan yang tak kalah serius, entah sadar atau tidak pria itu ikut bertepuk tangan.
Setelah melantunkan doa dalam hati, Dinda langsung saja meniup lilinnya seperti yang di lakukan Syntia semalam.
Tak sengaja air matanya lolos begitu saja di saat bang Faisal menyodorkan pisau untuk memotong kuenya.
''Jadi ingat Ibu sama bapak,'' menatap wajah Faisal yang juga terlihat sendu.
''Nanti VC saja, pasti mereka sehat kok, mungkin Ibu lupa ngucapin, maklum sudah tua,'' kembali merengkuh tubuh adiknya.
''Mama dan papa kan perwakilan mereka, jangan khawatir bentar lagi mereka akan mama jemput ke sini.'' Bu Yanti menenangkan.
Dengan pelan Dinda memotong kue dan tersenyum menatap Alan yang kini mematung di sampingnya.
''Sepanjang perjalanan hidup Dinda, baru tahun ini Dinda merayakan bersama seorang suami, meskipun banyak masalah yang menghadang, Kak Alan doakan Dinda untuk tegar menghadapinya, dan Dinda mohon sama kakak, teruslah cintai Dinda,'' pintanya menatap wajah Alan, menegaskan Alan untuk tidak melukai hatinya lagi, itulah bahasa kalbu dari istri keduanya.
''Kue pertama Dinda untuk kak Alan,'' menyodorkan kue di mulut Alan yang masih mingkem.
Sama seperti Dinda, Alan pun menatapnya dengan lekat.
Kenapa dia masih saja baik sama aku, dan dia bela belain aku di depan mama, sudahlah bukankah itu lebih baik dari pada dia membongkar semuanya, apa tadi malam dia juga menyaksikan saat aku merayakan ulang tahun Syntia.
Akhirnya Alan menerima suapan dari Dinda dan tersenyum.
''Terima kasih ya, maaf aku belum kasih kado untuk kamu,'' meraih kepala Dinda dan mencium keningnya.
''Ini adalah kado terindah dari kakak untukku, terima kasih sudah mau menemaniku disini.''
Setelah menyuapi Alan dengan potongan kue, kini giliran Dinda menghampiri kedua mertuanya lalu abang dan kekasihnya, Wanita itu selalu menampakkan senyumnya meskipun hatinya sudah tergores luka yang belum bisa terobati.