
Enam bulan kemudian yang di tunggu Alan dan Dinda....
Di salah satu ruangan VIP di rumah sakit mewah, Alan hanya bisa mendesis dan mencengkeram pinggangnya yang terasa sakit, bahkan pria itu tak bisa berkutik saat perutnya mulai terasa mulas.
''Tenang ya, Al,'' Bu Yanti hanya bisa memberi semangat seraya mengelap jidat Alan yang di penuhi keringat.
''Tapi ini sakit banget, Ma, aku nggak tahan,'' keluhnya memiringkan tubuhnya, bahkan bibir Alan mengering menahan sakit yang seumur hidupnya baru kali ini ia rasakan. Seluruh organ tubuhnya bagaikan tercabik cabik tanpa ampun, isi perutnya bagaikan mesin penggiling yang siap menghancurkan.
Daka yang ada di sana hanya bisa tersenyum melihat sahabatnya yang terlihat payah. Ingin sekali dokter itu mengejek, namun di urungkan melihat wajah Alan yang kacau.
''Bang, Dinda gimana?'' tanya Alan yang saat ini memang tak bisa menemani istrinya yang juga berjuang untuk melahirkan bayinya yang keempat.
''Tenang saja, Dinda sama Ibu, sabar, semua pasti berlalu.''
Di sini Dinda yang mau melahirkan, justru pusat perhatian juga untuk Alan yang menggegerkan keluarganya.
''Sudah buka sepuluh, sekarang kamu harus mengejan ya Bu, dan setelah melahirkan juga harus puasa empat puluh hari,'' goda Daka yang tak henti hentinya menumbuhkan amarah Alan. Di tahan seperti apapun, nyatanya Dokter Daka tetap meluncurkan apa yang dari tadi di pendamnya, yaitu membuat Alan marah.
''Sialan kamu.'' Meskipun Alan merasakan sakit yang tak karuan, tetap saja ia meluapkan emosinya dan terus menendang kaki Daka yang setia menemaninya.
Faisal dan Daka kembali bergelak tawa saat Alan memegang perutnya. Bahkan keduaya menantang Alan untuk melawan.
''Sudah, kalian itu sudah dewasa, anak kalian sudah dua, Alan malah empat, masih saja kelakuan kayak bocah.'' cecar Bu Yola yang juga ikut panik melihat Alan yang meringkuk.
Ya Tuhan, semoga bayi kami cepat lahir, sekarang aku tau bagaimana rasanya wanita yang mau melahirkan, dan aku tidak akan iri jika semua anak lebih menyayangi ibunya dari pada aku, semoga persalinan Dinda lancar, Sayang maafkan aku karena tidak bisa di sampingmu saat kamu bertaruh nyawa.
Selang beberapa menit berlalu, tiba tiba saja Alan beranjak dari ranjangnya, saat rasa sakit yang melanda itu hempas seperti di sapu badai, kini Alan kembali terlihat bugar dan lemas seperti tadi.
''Daka, sekarang sudah nggak sakit lagi, apa itu artinya anakku sudah lahir?'' Menghampiri Daka dan Faisal yang sedang duduk di sofa.
Kedua nya mengangguk tanpa suara. ''Mungkin.''
Alan segera berlari keluar untuk menemui istrinya.
Sedangkan Faisal dan Daka ikut membuntuti sahabatnya yang terlihat sangat bahagia.
''Keponakanku lahir lagi,'' ujarnya adu tos dengan Daka. ''Dan sebentar lagi anakku.'' lanjutnya. Mengingat Amel yang kini sudah mengandung enam bulan. Dan di perkirakan bayi mereka perempuan.
Untuk yang kesekian kalinya Alan menangis haru saat menatap wajah istrinya yang masih di penuhi peluh, meskipun sudah rapi, Dinda masih merasakan nyeri setelah melahirkan.
''Kakak tidak apa apa?''
Meskipun dirinya yang bertaruh nyawa, masih sempat sempatnya memikirkan Alan yang dari rumah memang sudah kesakitan.
Tak bisa menjawab dengan kata kata, pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Dinda dan sesenggukan, bahkan saat ini Alan tak malu di saksikan orang orang di sekelilingnya.
Dinda ikut menitihkan air mata dan melirik ke sana kemari, menatap satu persatu keluarga yang memutari brankar.
Setelah menumpahkan air mata bahagia, Alan kembali menatap arah istrinya.
''Aku tidak apa apa,'' masih tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, Alan mencium kening Dinda dengan sangat lembut dan lama.
''Terima kasih untuk semuanya, kamu sudah merelakan masa muda kamu untuk aku, kamu sudah rela menjadi istri keduaku demi memenuhi keinginan mama, dan kamu juga sudah rela melahirkan anak anakku, bahkan kamu mengabaikan cita cita kamu demi aku.'' Dengan suara yang tersendat Alan mencurahkan isi hatinya.
''Tapi apa yang pernah aku lakukan, aku sudah menyakiti kamu, dengan sengaja aku tidak menghargai kamu, Tapi kesabaranmu membuat aku sadar dan mengerti apa artinya cinta yang sebenarnya.''
Alan kembali mendaratkan ciuman untuk Dinda.
''Semua sudah berlalu, dan kakak tidak boleh mengingat masa lalu, anak kita sangat cantik sekali.'' Dinda menyeka air mata suaminya.
''Seperti kamu.'' timpal Alan.
Entah, di ruangan itu semua ikut meneteskan air mata mendengar ucapan Alan, bahkan Daka dan Faisal yang sempat tertawa lepas pun ikut terharu dengan ungkapan sahabatnya.
Giliran Bu Yanti yang mendekati wajah Dinda.
''Mama.'' Dinda kembali menerima pelukan hangat dari mama mertuanya.
Hari kelahiran anak Dinda yang keempat seperti memenangkan sebuah undian, karena saat ini wanita itu benar benar merasa bahagia yang tiada tara, tak hanya dengan kehadiran makhluk baru di keluarganya, tapi juga orang orang yang benar benar peduli padanya. Orang yang dengan tulus mencintainya. Dan dengan ikhlas memberi dukungan untuknya.
''Papa jangan ikutan nangis,'' cicit Dinda saat pak Heru menyeka air matanya.
''Kelilipan,'' kilahnya, padahal dari tadi Dinda menangkap basah pak Heru yang memang ikut meluruhkan air matanya.
''Ibu, Bapak.'' Keduanya menerbitkan senyum kala Dinda menggenggam kedua tangan mereka.
''Sekarang Ibu lega, akhirnya kamu dan abang sudah memiliki keluarga yang baik dan menyayangi kamu, Dan Ibu tidak perlu khawatir pada kamu dan abang, sekarang hari bahagia kamu, tidak akan ada kesedihan lagi.''
Dinda mengangguk. Akhirnya indah pada waktunya telah tiba, penantian yang begitu panjang kini sudah berlabuh begitu saja.
''Keponakan paman yang ini namanya siapa?'' Tiba tiba saja suara Faisal mengalihkan suasana, bayi cantik dengan mata terpejam itu terlihat begitu tenang di gendongan Faisal.
Dinda menatap Alan yang menghela nafas sebelum mengatakan nama putri kecil mereka.
''Diandra Sudrajat.''
''Yeee....sekarang adik aku sudah lahir, sebentar lagi aku jadi punya teman bermain.''
Fana yang baru saja masuk langsung meranggeh tangan Alan dan naik ke gendongannya, gadis cilik itu langsung mencium pipi gembul sang adik yang terlihat teduh.
''Iya, sekarang Fana kan sudah jadi kakak, jadi harus lebih pintar lagi ya.'' tutur Alan.
''Oke papa, Fana akan selalu temani adik Fana kapanpun.'' Mengangkat kedua jempolnya.
Kini suasana haru sudah mulai stabil dengan kehadiran keempat bocah yang baru saja
datang.
"Kok adik aku belum lahir, kapan Ma?'' giliran Elfas yang mengelus perut buncit Amel.
"Tiga bulan lagi sayang, sabar saja," sahut Bu Yanti.
"Ikut nenek yuk! nenek juga kangen Elfas loh."
''Nenek dan kakek juga mau nginep di rumah aku?''
Bu Tatik mengangguk. Karena setiap berkunjung mereka pasti selalu bergantian untuk singgah.
''Saka juga nggak kangen sama kakek?'' tanya pak Yanto yang melihat bocah itu mematung di samping Tama.
Sedangkan Daka sibuk dengan bayi kecilnya karena Salma ke kamar mandi.
''Kangen, tapi kok kakek nggak nginep di rumah Saka sih, itu nggak adil.''
Semua hanya tercengang saat mendengar ucapan putra Daka yang merasa tersisih.
''Baiklah, kali ini di bagi, kakek akan nginep di rumah Saka, sedangkan nenek di rumah Elfas.''
''Loh, cucu Oma juga kenapa ini?'' Kini semua menatap bocah yang hanya melipat kedua tangannya dengan bibir mengerucut.
''Lebih nggak adil mana, sekarang Dek Fana punya teman cewek, sedangkan aku, mana teman aku Ma, Pa?'' tanya Tama penuh harap. Seperti ruangan persidangan saja semua menuntut sebuah keadilan. Seakan protes dengan apa yang kini menimpanya.
Tak merasa kasihan, Alan malah menyunggingkan bibirnya menyerahkan Fana ke papa Heru dan beralih menggendong Tama untuk lebih mendekat ke arah Dinda.
''Sekarang memang cewek,'' melirik ke arah Dinda, ''Tapi Tama tenang saja, karena sebentar lagi papa dan mama akan buat yang cowok supaya Tama punya teman.''
''Kakak...'' Teriak Dinda seketika saat mendengar ucapan absurd suaminya.
Kini semua hanya bisa bergelak tawa, pria yang dulu angkuh itu ternyata bisa menjadi pelawak.
Akhirnya apa yang aku inginkan terjadi juga, sekarang aku percaya kalau sebuah kesabaran akan membuahkan hasil yang nyata.
Tamat