Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Fakta baru


Ucapan Amel bagaikan sebuah tulisan yang menempel di jidat Faisal, hingga saat ini pun laki laki itu tak bisa memejamkan matanya, padahal sudah jam sepuluh malam.


Faisal menatap langit langit kamarnya, otaknya berkelana, bagaimana cara ia mengetahui seluk beluk rumah tangga adiknya, nggak mungkin kan Faisal langsung blak blakan di depan Alan, namun kali ini ucapan Amel yang lebih menang dan membuatnya makin ingin tau.


Aku harus menanyakan sendiri pada Dinda, tapi kapan? apakah Alan akan tersinggung? Batinnya karena akhir akhir ini Faisal jarang punya waktu karena harus lembur setiap hari.


Di saat memejamkan mata tiba tiba wajah dokter kandungan itu melintas.


''Dokter Daka, ya aku harus minta bantuan sama dia,'' ucapnya lalu membuka matanya.


Faisal mengambil ponselnya yang ada dinakas dan mengetik sesuatu, tak lama terbalas, Faisal langsung keluar dan melajukan mobilnya.


Karena malam sudah larut, jalanan kota sedikit sepi, itu membuat Faisal semakin mudah untuk ke tempat tujuan.


Selang beberapa menit Faisal masuk ke sebuah cafe dimana dulu Ia dan Alan serta Dokter Daka itu nongkrong.


Baru memesan Latte, Dokter yang di juluki bujang lapuk itu datang dengan sejuta pesonanya.


''Tumben ngajak ketemuan, Amel hamil?'' ucapnya asal, Faisal yang tak terima langsung saja meninju perut sang dokter yang masih tertutup jas, karena Ia baru pulang.


Tak merasa bersalah dengan ucapannya, Dokter Daka malah tertawa lepas melihat amarah di wajah sang sahabat.


''Jangan marah marah nanti cepat tua, kalau Amel geser ke aku gimana?'' menaikkan kedua alisnya dengan cepat, itulah Dokter Daka selalu bercanda saat di luar namun serius saat menjalankan tugas.


Bagaimana tidak, dia dokter kandungan kalau sampai bercanda saat menangani orang yang melahirkaan apa jadinya.


''Ada apa?'' mulai serius menyeruput latte milik Faisal yang datang duluan.


Faisal menghembuskan nafasnya dan mengetuk ngetukkan jarinya di atas meja, masih bingung harus mulai dari mana.


Hening sejenak.


''Menurut kamu Alan itu cinta nggak sih sama Dinda?'' tanya Faisal ke inti.


Dokter Daka mengernyit, itu pun yang jadi pertanyaan darinya, karena selama periksa, Dokter Daka tak pernah mendapati Alan mengantar Dinda.


''Kalau menurut aku sih cinta,'' sembari mengherdikkan bahunya, masih nggak yakin juga setelah melihat mereka yang jarang bersama.


''Kalau aku pandangan pertama langsung cinta dan langsung cuti untuk ngelonin dia tiap hari, jelasnya. Bukan mencari jalan keluar Dokter Daka malah membuat Faisal makin geram, untung sahabat kalau tidak mungkin sudah di bikin bonyok tu muka.


''Aku serius,'' Faisal menatap Dokter Daka dengan tatapan tajam.


''Aku juga serius.''


Dia fikir aku ini hanya bisa bercanda apa? ngedumel dalam hati.


Ah bodoh amatlah yang penting Dokter Daka lagi waktunya bercanda biarlah Faisal darah tinggi yang penting dirinya happy.


''Oke, sekarang kita serius.'' ucap pria yang berprofresi sebagai dokter itu.


''Aku sih nggak tau ya, tapi selama Dinda hamil aku belum pernah lihat Alan itu nganter periksa ke rumah sakit,'' ucapan Dokter Daka membuat Alan membulatkan matanya, sedikit tak percaya, tapi dari wajahnya, sahabatnya itu terlalu serius.


Itu artinya selama ini Dinda bohong sama aku.


Batin Faisal, karena selama di tanya Dinda selalu bilang periksa Sama Alan, kecuali yang waktu mampir ke apartemennya waktu itu.


''Kamu nggak lagi bercanda kan?'' Faisal memastikan kalau saat ini Dokter konyol itu nggak ngelawak.


Dokter Daka berdecak kesal, giliran bercanda di di marahin, nah giliran serius masih saja di anggap bercanda, memang susah punya wajah yang humoris.


''Dan sekarang dia itu menjadi adik ipar kamu, jadi apapun yang terjadi dengan Alan dan Dinda itu harus di selesaikan dengan hati dan kepala yang dingin, memangnya kamu nggak nanya ke Alan?'' tanya Dokter Daka karena selama ini Faisal lah yang lebih dekat dengan Alan dari pada dirinya.


Faisal menggeleng karena Ia fikir Alan pasti baik sama Dinda, karena selama ini Alan memang baik padanya dan juga Dokter di depannya tersebut.


Keduanya saling berkelana dengan otaknya masing masing mencari celah untuk membereskan masalah yang bergejolak.


Karena makin pusing, Faisal menyeruput minumannya yang tinggal sedikit karena ulah Si Dokter sialan yang menghabiskan miliknya.


Brruuusss..... Tiba tiba Saja di kejutkan dengan mulut Dokter Daka yang menyemburkan minumannya yang hampir saja masuk ke kerongkongan.


''Gila, maksud kau apa?'' Faisal marah marah dan mengelap bajunya, untung nggak kena muka kalau kena mungkin sudah di gampar tu muka dokter laknat.


Baru saja Faisal mengangkat tangan ingin menoyor jidat si Daka, dokter itu mengeluarkan dua masker dari sakunya.


"Pakai!" suruhnya sedikit berbisik, meskipun belum tau maksud dari Daka, Faisal tetap menurut.


Dokter Daka menunduk saat wanita yang di kenalnya itu melewati dirinya bersama seorang pria asing, menurutnya.


Faisal pun ikut menunduk saat sahabatnya mengedipkan matanya.


Kini Faisal menarik kursinya hingga keduanya saling dekat.


''Ada apa?'' tanya Faisal penasaran dengan sikap mereka yang aneh, macam detektif yang lagi dalam penyelidikan.


''Ada Syntia dengan laki laki lain,'' menyungutkan kepalanya ke arah samping namun sedikit ke belakang.


Faisal ikut menoleh menatap punggung laki laki yang kini tertawa, dan benar di depannya itu adalah Syntia, istri pertama Bos sekaligus adik iparnya.


Kelihatannya mereka akrab banget, memang itu siapanya, kenapa jam segini masih di luaran. batin Faisal.


Kedua laki laki lajang itu jadi nggak leluasa untuk santai, namun tetap, memasang telinganya untuk mendengarkan apa yang di obrolin mereka.


''Apa mendingan kita Foto saja, saran Faisal.


''Jangan gegabah, kita selidiki dulu, siapa tau mereka hanya bersahabat, aku nggak mau kalau Alan salah paham sama kita.


Keduanya memelankan suaranya karena dari belakang tawa renyah itu makin menggema.


''Jadi gimana, apa keputusanmu?'' tanya si pria itu.


''Bentar lagi lah, tunggu beberapa bulan lagi, aku akan putuskan." jawab Syntia dengan santainya, sesekali pria itu menepuk nepuk punggung tangan Syntia.


"Baiklah, aku tunggu!" jawab si pria itu.


Entah apa yang di bahas, Faisal maupun Dokter Daka masih geleng geleng dan belum paham karena dari tadi mereka tidak begitu jelas dengan ucapannya.


Karena di kira cukup untuk permulaan, Faisal mengeluarkan uang dan meninggalkan tempat itu.


Setibanya di depan cafe, Faisal dan Dokter Daka masuk ke dalam mobil dan kembali melepas maskernya.


''Menurut kamu itu siapanya Syntia?'' tanya Dokter Daka.


Faisal menggeleng karena Ia pun tak kenal.


''Apa kita perlu selidiki lagi?'' tanya Faisal minta persetujuan Dokter Daka.


''Harus,'' jawabnya antusias.