
Jangankan serentetan kalimat, sepatah kata pun Dokter Daka tak bisa mengucap saat melihat kondisi Dinda yang tak sadarkan diri, sedangkan Ia harus mengambil langkah tepat untuk menyelamatkan Dinda dan bayinya.
"Sus, lihat perkembangan bayinya, aku akan temui keluarganya!" pesannya sebelum meninggalkan ruangan bersalin tersebut.
Daka membuka pintu dengan wajah lesunya, ia menatap dua orang laki laki yang mungkin berkelana dengan pikirannya masing masing.
Alan mendongak saat mendengar dentuman sepatu dan lantai di depannya, begitu juga dengan Faisal yang baru beberapa menit datang, pria itu langsung mendekati sahabatnya yang juga dokter kandungan sang adik.
"Bagaimana keadaan Dinda?" tanya Faisal, Alan ikut mematung di belakangnya.
Daka menghela nafas, sedikit tak tega harus mengatakan kenyataan pahit saat ini.
"Dinda masih tak sadarkan diri," ucapnya menatap Alan dan Faisal bergantian.
"Jadi terpaksa dia harus di operasi untuk menyelamatkan bayinya, Daka menjeda sebentar ucapannya, "Tapi,_ ucapan Daka menggantung saat suara isakan dari belakang menggema, ternyata Bu Yanti dan Pak Heru yang baru datang.
"Mana Dinda?'' tanya Bu Yanti di sela sela tangisnya.
"Di dalam tante." jawab Faisal.
Bu Yanti menatap ruangan di depannya dengan tatapan nanar, menangisi menantunya yang saat ini berjuang melawan maut.
"Daka, tolong selamatkan Dinda dan bayinya, kamu mau kan mengabulkan permintaan tante?" Kali Ini Dokter Daka tak bisa berbuat apa apa, seakan menyangga batu yang begitu besar saat mendengar permintaan Bu Yanti.
Bagaimanapun caranya aku akan menyelamatkan Dinda.
"Baiklah tante, sekarang juga, aku akan melakukan operasi sesar untuk Dinda, semua berdoa saja, semoga tidak ada apa apa yang terjadi pada Dinda dan anaknya."
Semua mengangguk. "Sal, aku mau bicara sebentar sama kamu, meraih pergelangan tangan Faisal dan membawanya ke ruangan.
"Ada apa, sepertinya ada yang sangat penting hingga kita bicara berdua." tanya Faisal penasaran.
Daka mengangguk, "Aku nggak tau apakah operasi ini akan berjalan mulus atau tidak, aku juga menunggu Dokter Edwin yang akan membantu operasi Dinda, aku akan semaksimal mungkin untuk menyelamtakannya, tapi,_ lagi lagi ucapan itu terpotong saat Faisal memegang lengannya.
"Apapun yang terjadi kamu harus selamatkan Dinda, aku tidak mau dia kenapa napa," ucap Faisal melas sembari menitihkan air mata, ini adalah titik terburuk yang di alaminya, bahkan Faisal tadi tak sempat melihat Dinda saat membuka matanya dan tersenyum.
"Baiklah, kamu tunggu saja!"
Faisal dan Daka keluar, jika Faisal kembali duduk di samping Alan, dokter Daka memakai seragam nya untuk melakukan tugasnya di ruangan Dinda setelah beberapa saat menelepon seseorang.
Semoga Dokter Edwin bisa membantuku.
Meskipun terlihat biasa saja, nyatanya hati Alan merasa tercabik cabik saat menatap pintu yang bertuliskan ruang operasi.
Sedang apa Daka di dalam, dan bagaimana keadaan Dinda saat ini? itulah yang selalu ingin di pertanyakan, namun hanya bisa bungkam.
Bahkan saat mengingat kata operasi Alan menangis, namun itu hanya di rasakan di dalam hatinya.
Dinda maafkan aku, semoga semua baik baik saja.
Semua hanya merasa tegang menunggu pintu ruangan itu terbuka, sesekali Faisal memukul tembok, menyesal dengan keadaan adiknya saat ini.
"Kamu yang tabah ya Sal, Dinda akan baik baik saja," Ucap Bu Yanti mengelus punggung tangannya.
"Bapak dan Ibu kamu juga sudah di jemput, sebentar lagi pasti sampai kok." kali Ini Pak Heru ikut buak suara.
Alan yang masih duduk hanya menggigit jarinya.
Din, kamu harus semangat, mereka semua sayang sama kamu.
"Ada apa lagi?" tanya Faisal mengikuti Daka yang saat ini melepas sarung tangannya.
"Sal," Daka menatap wajah sahabatnya.
"Apa, cepat katakan, Dinda baik baik saja, kan?" tanya Faisal serius.
"Operasinya sedikit tidak lancar, Dinda mengalami pendarahan, jadi untuk menyelamatkannya, kemungkinan rahimnya harus di angkat," ucap Daka menjelaskan.
Deg.... Jantung Faisal seakan berhenti saat itu juga. Dadanya merasa sesak dengan pernyataan Daka yang tak pernah terlintas dalam otaknya.
"Apa maksud kamu?" tanya Faisal lagi, memastikan kalau Daka tidak serius dengan omongannya, karena pria itu sering bercanda di saat keadaan sedang genting, dan Faisal berharap saat ini juga Daka seperti itu.
Namun dokter itu tak lagi bisa mengucapkan sepatah katapun dan hanya bisa menggeleng dan menunduk, merasa bersalah karena tidak bisa melancarkan tugasnya.
Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, pasti Dinda akan hancur jika rahimnya diangkat, tapi jika tidak, aku takut terjadi sesuatu dengannya.
''Cepat Sal, keputusan ada ada tangan kamu, nggak mungkin aku minta pendapat Alan kan?''
Karena memaksa akhirnya Faisal memilih untuk mengangguk meskipun hatinya bilang tidak.
''Kalau itu yang terbaik lakukan saja.''
Setelah Faisal menanda tangani kembali berkas dari Dokter Daka yang kedua kali, pria itu meninggalkan Faisal dan langsung berlari menuju ruangan operasi Dinda.
Faisal ambruk, kakinya merasa lentur dan tak kuat untuk menopang tubuhnya.
''Apa yang harus aku katakan saat Dinda sadar nanti, apa keputusanku ini sudah benar, apa dia akan membenciku karena aku mengizinkan Daka untuk mengangkat rahimnya.
Tuhan, apa lagi ini, sudah cukup sembilan bulan Dinda menderita karena aku, kali ini berilah jalan lain selain itu, semoga Daka mempunyai cara lain untuk menyelamatkan Dinda, gumam Faisal menangis.
Faisal mengusap wajahnya dengan kasar lalu berangkul meja kerja Daka untuk berdiri.
Tak mau membuat yang lain ikut kebingungan, Faisal kembali menghampiri Bu Yanti dan Alan serta pak Heru, kali ini Ibu dan bapaknya pun sudah ada di sana.
''Dinda tidak apa apa kan, Sal, dia cuma operasi melahirkan saja, kan?'' tanya Bu Tatik.
Faisal mengangguk dan memeluk tubuh tua itu.
''Dinda baik baik saja, Ibu dan bapak tenang saja.'' menenangkan.
Selang beberapa menit berlalu, Suster membuka pintu membawa bayi mungil di tangannya.
''Keluarga Bu Dinda.'' serunya.
Semua mendekat termasuk Alan.
''Ini anak Dinda, sus?'' tanya Faisal, sedikit tak percaya kalau adiknya sudah menjadi seorang Ibu.
''Iya pak, tapi ada sedikit masalah dengan jantungnya, jadi bayi Bu Dinda harus di bawa ke ruangan perawatan khusus, silahkan, ayah dari bayinya ikut saya!" ucap suster tersebut.
Alan langsung mengikuti ke mana arah Suster pergi, meskipun belum bisa menyentuh bayinya, Alan sudah bisa tersenyum saat menatap wajah sendu yang saat ini memejamkan matanya.
Itu anakku kan, ya, dia anakku, darah dagingku.
"Ibu yang tenang ya, sekarang kita sudah menjadi nenek." Bu Yanti merangkul pundak Bu Tatik.
Sedikit lega setelah melihat bayi mungil itu, kini tinggal menunggu kabar dari Daka yang masih ada di dalam.