
Seperti rencana Faisal kemarin, hari ini Ia menjemput Dinda yang ada di rumah Bu Yanti, Masih menunggu sang adik yang mungkin ganti baju, Faisal mendapati Syntia yang baru keluar kamar bersama dengan Alan.
Pasti tadi malam Alan juga nggak menemani Dinda.
"Loh, kok pagi sekali jemputnya?" tanya Alan gugup melepaskan tautan tangannya dari tangan Syntia.
"Iya, semalam Dinda telepon aku, tidurnya nggak nyaman, dan dia juga suruh aku datang pagi sekali, Alan sedikit tersindir dengan ucapan Faisal, karena semalam ia memilih untuk tidur dengan Syntia dari pada dengan Dinda.
Alan Dan Faisal saling pandang, itu bukan tatapan seorang sahabat atau partner kerja, namun ada sedikit pertikaian di mata elang keduanya, entah apa suasana pun jadi berubah.
"Mas, Aku pergi dulu ya, pamit Syntia, nggak mungkin dia ada dalam situasi yang kelihatannya hampir mencengkam antara ipar tersebut.
Alan mengangguk. "Kamu sudah panggil Dinda?" tanya Alan mencairkan suasana barang kali ia bisa membantunya.
"Aku sudah Chat tadi sebelum sampai,'' jawab Faisal menilik jam yang melingkar di tangannya, sesekali Faisal menatap pintu kamar Dinda yang masih tertutup rapat.
Saat suasana hening, Dinda datang dengan senyuman pagi yang merekah bak bunga di taman.
"Sudah siap?" tanya Faisal.
Dinda mengangguk, ruang tamu itu masih sangat sepi, Pak Heru dan Bu Yanti belum keluar dari kamarnya, mungkin ini adalah saatnya Dinda pamit, karena sedikitpun Dinda tidak ingin kembali ke rumah Alan, jika Bu Yanti kangen kemungkinan wanita itu akan datang ke rumah pak Heru saja, itulah rencananya.
"Bang, tunggu di luar, aku ingin bicara dengan kak Alan sebentar!"
Faisal mengangguk dan pergi karena belum waktunya ia mengungkapkan isi hatinya, lagi pula Faisal juga tau maksud sang adik.
"Duduklah, aku akan mengatakan sesuatu sebelum aku pergi." pintanya.
Alan duduk di depan Dinda yang juga duduk, sebelum mengucapkan sesuatu Dinda pastikan tidak ada orang selain mereka berdua, karena Dinda pun belum siap jika harus terbongkar saat ini.
"Kak, maafkan aku jika kehadiranku membuat kamu dan Mbak Syntia tidak nyaman, ucapnya, mungkin dadanya merasa sesak, namun Dinda harus mengatakan semua nya.
"Aku tidak akan kembali ke rumah kamu, sampai aku melahirkan, ucapnya lagi mulai berkaca mengenang apa saja yang sudah terlewati di rumah itu semenjak menikah dengan Alan.
Alan Diam nggak ada yang perlu di jawab, itu menurutnya, karena ucapan Dinda sudah gamblang.
"Dan aku tidak akan bilang sama mama sampai kapanpun tentang hubungan buruk kita selama ini, jika nanti aku tidak bisa merawat anakku, tolong kakak jaga dia, dan jika kakak tidak mau mengingatku lagi, anggap saja anak itu lahir dari rahim Mbak Syntia." Dinda menyeka air matanya tak sanggup lagi untuk membendungnya.
Alan masih saja diam, meskipun ucapan Dinda sangat menyentuh hatinya, Alan mencoba untuk tidak terbawa suasana dan terus memasang wajah biasa.
"Tolong peluk aku untuk yang terakhir kali, dan setelah ini aku tidak akan mengusik hidupmu lagi, aku tidak akan hadir di depanmu, dan aku akan pergi membawa kenangan dari kamu."
Keduanya diam, karena mendengar permintaan Dinda adalah hal yang sedikit sulit Alan lakukan.
Baiklah, jika permintaanku masih tidak bisa kamu penuhi, tidak apa apa.
Keduanya diam, sampai lima belas menit, tak ada pergerakan dari Alan untuk Dinda, dan akhirnya gadis itu menyerah dan beranjak di depan kamar mamanya dan mengetuk pintunya.
"Kamu perginya jangan lama ya Din, mama pasti kangen!" tanya Bu Yanti.
Dinda tersenyum, "Nanti aku kesini kok ma, jenguk kalian, lagian kita kan masih satu kota nggak mungkin lama untuk ketemunya," Bu Yanti mengangguk dan memeluk menantunya, begitu juga pak Heru.
"Sudah pamit sama Alan?" tanya Pak Heru yang kemarin sedikit curiga.
"Sudah, kata kak Alan juga akan merindukan aku kok, ucapnya yang di dengar langsung oleh Alan yang masih ada di ruang tamu.
Tanpa permisi lagi, Dinda melewati Alan yang masih setia di tempatnya.
"Tunggu!" suara Alan menghentikan Dinda yang hampir saja membuka pintu, saat ini gadis itu sudah menutup pintu hatinya dan tak mau berharap lagi.
Terdengar suara dentuman sepatu dan lantai makin keras, itu tandanya Alan makin mendekat.
Dinda tak menoleh dan masih menatap ke depan.
Setelah dentuman itu berhenti, Dinda menatap ke bawah perutnya saat merasakan sebuah tangan yang melingkar dari belakang, ada senyuman di sana, namun suara hatinya memang sudah buntu dan tidak mengharapkan apapun dari suaminya termasuk cinta.
Alan meletakkan dagunya di pundak Dinda hingga keduanya memandang ke arah yang sama.
''Aku tidak tau bagaimana harus mengucapkan sesuatu, setidaknya dengan kamu pergi dariku, aku tidak lagi menyakiti hati kamu, jika nanti kamu sudah siap untuk berpisah, suruh Faisal datang padaku, ucapnya lalu melepaskan pelukan itu.
''Pasti, aku akan telepon kamu di saat anak kita sudah hadir di dunia ini, selamat tinggal, Dinda kembali melangkahkan kakinya menghampiri abangnya yang sudah siap untuk menancapkan gasnya.
Sebelum keluar dari halaman itu, Faisal menatap wajah Alan yang masih mematung di ambang pintu.
Dan aku akan cari pekerjaan lain sebelum aku keluar dari kantor kamu, aku akan buktikan, tanpa menjadi sekretaris kamu aku masih bisa menghidupi adik aku dengan layak, meskipun kamu sudah jahat sama Dinda, aku tidak akan pernah melupakan kalau kamu juga berjasa dalam hidupku selama ini, tapi maaf, untuk menjadi sahabat seperti dulu, aku tidak bisa.
Alan langsung kembali masuk setelah mobil Faisal menghilang, kali ini Alan merasa ada sesuatu yang hilang, namun ia tak memikirkan itu, baginya kepergian Dinda bukanlah masalah besar yang perlu ia takuti.
Buktinya pria itu tersenyum, karena baginya Dinda adalah jeda iklan yang menghentikan sejenak kisah cintanya dengan Syntia.
Setelah mengucapkan uneg unegnya dalam hati, Faisal langsung saja melajukan mobilnya.
''Bagaimana tidurnya, nyenyak?'' tanya Faisal.
Dinda mengangguk tersenyum, bukan karena tadi malam tapi untuk saat ini, akhirnya ia bisa bebas dari Alan, suami yang tidak mencintainya.
''Bang, terima kasih, setelah anakku lahir, aku ingin melanjutkan sekolahku, tidak usah kuliah, sekolah di tempat Mbak Stefany saja, pinta Dinda, ternyata kehidupannya yang begitu buruk selama ini tak menyurutkannya dari cita citanya, bahkan Dinda membuka semangat baru untuk kehidupan barunya nanti.
Faisal mengangguk, ''Di mana pun kamu minta abang kan turuti, dan abang akan pastikan cita citamu kali ini akan tercapai.'' mengacak rambut Dinda.
Ada rasa lega dalam diri Faisal, meskipun terlambat setidaknya dia masih punya kesempatan untuk membahagiakan Dinda.