
Setelah puas makan gratis, Dinda kini mengikuti ke mana arah Amel pergi, namun kali ini Dinda tak mau beli apapun, mubadzir baju yang di belikan Amel waktu itu saja belum ada yang terpakai, dan Dinda tak mau di bilang matre nggak guna, bukan tipenya yang suka buang buang duwit.
''Kita ke mana lagi nih Din?'' tanya Amel bingung mau ke mana semua tempat sama saja, dan sebenarnya yang dia harapkan bukan cuma Dinda tapi Faisal juga sih yang jarang sekali jalan dengannya.
''Pulang saja kali ya mbak, sudah siang juga, dedeknya mau istirahat,'' ajaknya karena Dinda pun merasa lelah, semenjak perutnya semakin besar, Dinda sedikit malas malasan untuk gerak.
Keduanya tiba di parkiran, Amel masuk ke mobil, namun tidak untuk Dinda yang masih menatap laki laki yang di liatnya tadi, namun kali ini tak cuma bersama wanita tadi melainkan bersama Syntia istri pertama suaminya.
Masih sedikit jauh Dinda kembali mengamati dengan lekat kalau yang di lihatnya itu memang Syntia.
''Mbak aku ke toilet dulu ya, pamitnya pada Amel yang siap melajukan mobilnya.
Meskipun tak ingin ikut campur urusan orang, tetap saja hati Dinda merasa bergejolak saat mendapati istri dari suaminya itu berurusan dengan laki laki lain.
Dengan mengendap endap Dinda bersembunyi di samping mobil yang terparkir, bisa di bilang nguping dengan perdebatan kecil yang terjadi.
''Tapi aku nggak mau dia jalan sama kamu,'' ucapan Syntia menggema menembus gendang telinga Dinda.
''Syn, kamu bilang kita teman kan, tapi kenapa saat aku jalan dengan wanita lain kamu marah,'' ucap laki laki yang bersama mereka.
''Rey, bantu aku untuk lepas dari situasi ini lah Rey, aku juga nggak tau sebenarnya aku ini kenapa?'' Syntia terlihat bingung.
Dinda diam sembari meresapi setiap inci kata yang di ucapkan mereka, ini memang bukan urusannya namun ini menyangkut rumah tangga suaminya, dan itu membuat Dinda ingin tau.
''Oke, sekarang kamu pergi!" suruh Rey pada wanita yang di gandengnya di dalam dan kini tinggal Rey dan Syntia berdua.
"Kita jalan, aku nggak mau ada yang lihat kita disini," ajak Syntia membuka mobilnya.
Dinda yang masih di tempat hanya bisa menerka nerka dengan hubungan mereka.
Sebenarnya apa hubungan mereka, kalau cuma teman nggak mungkin mereka takut di lihat orang, tapi aku juga nggak bisa berbuat apa apa karena apa yang aku lakukan pasti akan selalu salah di mata kak Alan.
Setelah mobil Syntia berlalu, kini Dinda menghampiri mobil milik Amel untuk pulang.
Dinda langsung masuk ke dalam mobil, ucapan Syntia dan laki laki yang bernama Rey itu masih terngiang ngiang di telinganya.
"Kamu kenapa Din?" tanya Amel saat Dinda hanya bengong dan belum memasang seat belt nya.
Dinda menggeleng, "Nggak kenapa napa kok Mbak, tadi aku cuma lihat orang berantem dengan pacarnya, kasihan." tuturnya.
Amel tersenyum mendengar cerita calon adik iparnya, ke toilet sempat sempatnya masih melihat orang berantem.
Aku nggak boleh cerita sama orang lain, meskipun mbak Amel itu baik dan bisa di percaya, biarlah kak Alan melihat sendiri dengan mata kepalanya, aku nggak mau dia menuduhku memfitnah istrinya.
Meskipun tak tenang karena mengetahui fakta besar dan serius, Dinda mencoba untuk santai.
Di sisi lain, Syntia yang masih memendam amarah itu hanya bisa cemberut saat laki laki yang bernama Rey menggandenganya menuju apartemen miliknya.
''Tapi kamu terlihat mesra Rey?" masih tak terima saat mengingat wanita itu bergelayut manja dilengannya.
Syntia cemburu, itu artinya dia mencintaiku, tapi kenapa dia nggak mau melepas Alan, batin Rey menyelidik.
"Ya sudah, sekarang kamu tenang dulu, aku buatkan minum, Rey melangkah menuju dapur dan membuka lemari pendingin.
Syntia Syntia, kamu bilang aku ini teman, tapi saat lihat aku sama wanita lain kamu emosi.
Rey yang sedang membuat minuman hanya bisa geleng geleng kepala.
Jam sudah menunjukkan lima sore, itu artinya waktunya Alan pulang, tak seperti biasanya Dinda tak peduli dengan kedatangan suaminya, kali ini Ia begitu antusias jaga di samping pintu utama untuk menyambut Alan.
Dinda terus tersenyum sembari menatap semburat jingga yang terlihat indah, terkadang ia pun berandai andai ingin seperti itu, kehadirannya selalu di nanti setiap orang, namun itu hanya bualan yang tak pernah terjadi, buktinya suaminya saja tak pernah merindukannya.
Semoga kak Alan mau aku ajak ke dokter, batinnya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, baru juga beberapa menit menunggu, mobil Alan masuk dari gerbang, dengan wajah yang terlihat lelah Alan keluar dari mobilnya.
''Kakak sudah pulang,'' sedikit basa basi lah, namun tak mengubah wajah Alan yang selalu nampak datar di depannya.
''Kamu ngapain di sini, sudah puas jalan jalannya?'' bernada mencibir bahkan Alan tak menerima uluran tangan Dinda.
''Kak, bisa nggak sih sekali saja kamu itu bicara lembut sama aku, pinta Dinda, entah kenapa kali ini Dia benar benar ingin protes dengan kelakuan Alan yang selalu tak meng enakkan hati.
''Aku juga ingin seperti istri yang lain, di cium, di peluk, dan di ajak untuk ngobrol, bercanda, tapi selama kita menikah aku tidak pernah mendapatkan itu dari kamu.''
''Kalau kamu nggak terima ya sudah, silahkan ngadu sama mama dan ujung ujungnya, aku yang kena batunya, mendingan kamu menyingkir, aku mau masuk.'' cetusnya lagi.
Dinda tak menggeser tubuhnya dan terus mematung di depan Alan.
''Kak, besok aku mau periksa, Kakak bisa kan antar aku sebentar saja, aku hanya ingin kakak tau keadaan anak kita,'' ucapnya melas namun tak membuat Alan tersentuh.
''Kenapa nggak minta antar Amel sekalian, bukankah tadi kamu jalan sama dia, apa susahnya, lagian aku nggak bisa, sibuk.'' jelasnya meninggalkan Dinda.
''Kak, Kali ini Dinda kekeh untuk membujuk suaminya, bukan apa apa menurutnya ini adalah momen penting.
''Kak, sekali saja, dan sampai aku melahirkan aku nggak akan meminta kakak untuk menemaniku, Dinda sampai menangkupkan kedua tangannya memohon dengan sangat untuk ayah si jabang bayi memperhatikannya.
''Dinda, kamu nggak denger, aku sibuk, jadi nggak bisa nganter kamu, jelasnya lagi dan berlalu.
Aku masih terima jika kamu tidak mau menuruti keinginanku kak, tapi kali ini demi anak kita pun kamu juga nggak mau, kamu memang laki laki yang tak pantas mendapatkan cintaku, karma pasti berlaku, aku akan pastikan suatu saat nanti kamu akan menyesal setelah kamu kehilangan orang yang kamu cintai, dan di saat itu pula aku akan menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat untuk kamu.
Setelah bergulat dengan otaknya Dinda membawa air matanya yang sudah hampir luruh itu ke kamar belakang menyandarkan kepalanya di bahu bi Romlah yang memang siap untuk menopangnya.