Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Kesedihan Alan


Dengan wajah cemas dan mata berkaca Alan terus bersandar di depan ruangan tempat istrinya di periksa, menyayangkan, kejadian di luar dugaan itu terjadi pada Dinda.


Sedangkan Amel dan Bu Yanti hanya bisa menangis melihat keadaan Dinda yang tak sadarkan diri.


''Kejadiannya bagaimana?'' Pak Heru mengeluarkan suara di saat suasana hening.


Amel melepaskan pelukannya dan mendekati papa mertua Dinda, menceritakan apa yang ia lihat saat di toilet. Di mana Dinda sudah di kerumuni orang orang dalam keadaan pingsan.


Tak ada senyum yang terukir, apa lagi Alan yang selalu mengintip dari balik pintu kaca, pria itu terlihat tak berdaya saat menatap tubuh istrinya.


Pintu terbuka, segera Alan menghampiri dokter yang baru saja keluar.


''Bagaimana keadaan istri dan anak saya, dok?'' Tanya Alan.


Tak ada senyum di wajah sang dokter.


Terlihat ada guratan gusar yang meliputi diri dokter di depannya.


''Janin Bu Dinda selamat, tapi dia belum sadarkan diri, dan saya harap kalian berdoa mudah mudahan tidak terjadi apa apa.''


Alan tak kuasa untuk menahan air matanya lagi, kenapa musibah ini harus berulang kali menimpa istrinya.


''Apa saya boleh menjenguknya?'' ucap Alan dengan gemetar.


''Boleh, tapi hanya satu orang.''


Setelah Dokter berlalu, Bu Yanti maupun yang lain mewanti wanti Alan untuk tidak cengeng, karena dialah penyemangat Dinda untuk sembuh, bukan meruntuhkan kekuatannya.


Dengan kaki yang sedikit lunglai, Alan mendekati ranjang tempat Dinda berbaring.


Tak ada suara selain monitor di dalam, kejadian akan bayinya kembali teringat jelas di otaknya, Alan menyeka air matanya dan mendekati telinga Istrinya.


Belum sanggup untuk bicara Alan kembali mengingat kejadian sebelum mereka pergi ke mall, di mana Dinda sangat bijak dalam bertutur, bukan hanya pada anak anak namun pada dirinya juga.


Alan meraih dan mencium punggung tangan Dinda yang lemas. Air mata yang di tahannya kembali luruh saat pria itu mengelus perut istrinya.


''Kamu memang suka menghukumku, apa tidak ada cara lain selain seperti ini. Kamu bisa menyuruhnya apa saja, tapi aku mohon buka mata kamu, aku dan anak anak merindukan kamu, kasihan mereka.'' Bisiknya.


Alan mengelus pipi Dinda yang masih saja bergeming, pria itu tak henti hentinya menatap wajah Dinda yang terlihat sendu. Entah apa yang di rasakan saat ini, yang pastinya Alan terus merasa bersalah atas apa yang menimpa istrinya.


Jauh ingin mendekat, saat mendekat Alan makin tak kuasa untuk terus menyaksikan penderitaan istrinya, akhirnya ia memilih untuk keluar.


''Gimana keadaan Dinda, Al?'' saking penasaran Bu Yanti menggoyang goyangkan lengan Alan yang masih tak fokus.


Alan memilih duduk, rasanya tak kuat untuk menopang tubuhnya yang begitu berat.


''Al,'' Alan mendongak dan memeluk sang Mama.


''Ma, aku nggak mau kehilangan Dinda, aku ingin dia ada di sisiku selamanya.''


Alan menumpahkan air matanya di pelukan bu Yanti.


Bu Yanti mengelus punggung Alan, selama ini pria itu tak pernah se kacau itu dalam menghadapi masalah, namun kali ini Alan benar benar tak kuasa untuk tegar.


''Dinda dan anak anak akan tetap disisi mu selamanya, jangan khawatir.''


''Anak anak di mana, bang?'' Alan teringat putra putrinya yang tak nampak.


''Mereka di rumah, tadi aku antar mereka pulang dulu sebelum ke sini.''


''Apa abang juga kasih tau Ibu dan bapak?''


Faisal mengangguk tanpa suara, Ia juga mengirimkan supir untuk menjemput kedua orang tuanya di kampung.


''Bagaimana keadaan Dinda dan bayinya?'' suara Daka dengan napas ngos ngosan.


Alan tak bisa menjelaskan, otaknya sudah tak karuan untuk memikirkan hal lain selain istrinya yang saat ini terkapar di dalam.


''Dinda belum sadar, bayinya selamat, Dak, bantu doa ya, semoga tidak terjadi apa apa dengan Dinda.''


Daka hanya bisa mengangguk mendengar permintaan Bu Yanti. Baginya Dinda bukan hanya sepupu iparnya, tapi juga adiknya. Apa lagi Daka tau bagaimana sulitnya Dinda untuk mencapai kebahagiaannya saat ini.


''Bagaimana kejadiannya, kenapa Dinda bisa jatuh?''


Alan menggeleng, sama sekali ia tidak tau apa yang terjadi di toilet.


''Apa nggak sebaiknya kamu cari tau, siapa tau ada orang yang memang sengaja membuat Dinda jatuh.''


Alan yang dari tadi menundukkan kepalanya mendongak dan beranjak ketika mendengar ucapan Daka.


''Dinda itu nggak punya musuh, jadi nggak mungkin ada orang lain yang mencelakai dia, kamu jangan sembarangan bicara.''


Ucapan Daka malah menumbuhkan emosi Alan.


''Setidaknya kita tau apa penyebab Dinda jatuh, nggak ada salahnya kan kita lihat cctv di depan toilet, jika itu memang kelalaian pihak mall yang kurang memadai, kita bisa tuntut mereka.''


Alan kembali duduk, ada benarnya juga ucapan Daka.


Belum juga di cerna, pakai emosi duluan, otak cetek.


Gerutu Daka dalam hati.


Tak mengucapkan apapun, Alan langsung meninggalkan tempat itu,


Namun Pak Heru tak kalah cepat, Pria paruh baya itu langsung menarik tangan Alan yang mengepal.


''Biar Faisal yang ke sana, kamu jaga Dinda.''


''Tapi pa,_ ucapan Alan terpotong saat Pak Heru menggeleng.


''Nggak ada tapi tapian, kamu itu lagi emosi, apa jadinya nanti, pasti cuma keributan, dewasa dong, anak kamu sudah hampir tiga, masih saja kayak bocah.


iya, bocah tua.


Lagi lagi hanya Daka yang menggerutu dalam hati.


''Al, biar aku yang kesana, kamu tungguin Dinda, jangan tinggalkan dia sedetikpun, aku yakin Dia pasti mengharapakan kamu disisinya.''


Setelah punggung Faisal menghilang, Alan kembali masuk ke dalam ruangan Dinda, benar apa kata abang iparnya, seharusnya ia tak boleh meninggalkan istrinya yang saat ini masih tenggelam di alam fana.


Alan menilik jam, ternyata hampir sepuluh jam Dinda terlelap, itu tak hanya membuatnya bosan, namun membuatnya makin gelisah dengan istrinya yang tak mau membuka mata.


''Sayang, apa kamu tidak bosan bermimpi, bukalah mata kamu, semua merindukan kamu, jangan seperti ini dong.''


Seakan putus asa dengan keadaan istrinya yang tidak juga membuka mata.


Di saat Alan sibuk dnegan tangisnya, ada yang tersenyum tipis sembari melepas alat pernapasan yang dari tadi menghiasi mulut dan hidungnya.


''Sudah puas nangisnya,'' suara pelan, namun sukses membuat Alan terkejut. Bahkan pria itu termangu dengan apa yang di lihatnya saat ini.


''Aku nggak mimpi kan, ini beneran kamu sudah bangun,'' menangkup kedua pipi Dinda.


Dinda memegang tangan Alan dan mengangguk.


Sontak Alan memeluk tubuh Dinda dan menciumi wajahnya bertubi tubi.


''Kak, anak kita gimana?'' Tanya Dinda meraba perutnya yang masih membuncit.


''Mamanya adalah wanita yang kuat, jadi anak kita baik baik saja seperti mamanya.''


''Biar aku panggil dokter dulu.'' Alan menghampiri bel darurat yang tersedia, namun sebelum memencet Dinda meraih tangannya dan menggeleng.


''Aku baik baik saja, tidak usah panggil dokter, dokter tidak akan bisa menyembuhkanku kalau tidak ada kakak di sampingku.''


Darah Alan terasa berdesir mendengar ungkapan istrinya. Ia merasa bahagia, ternyata bukan cuma dirinya yang menganggap Dinda penting. Wanita itu juga merasakan hal yang sama.


Baru saja ingin kembali mencium pipi istrinya ponsel Alan berdering.


Ternyata chat dari Faisal.


Alan membelalakkan matanya setelah membaca tulisan yang di kirim sang kakak ipar.