Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Anak kedua


Jika Daka dan Alan mudah untuk mendapat maaf dari istrinya, tidak bagi Faisal yang kini masih dalam mode diam, pria itu benar benar sudah kehabisan akal untuk mendekati istrinya yang terus menjepit hidungnya saat di dekatnya.


''Mas, bisa jauhan dikit nggak sih?'' rengek Amel saat Faisal duduk di sampingnya, seakan ia adalah sesuatu yang sangat di benci Amel.


Heran itu pasti, padahal Faisal sudah mandi selama setengah jam, belum lagi pakai parfumnya di tambah, tapi Amel masih bilang dirinya bau.


Sebagai seorang suami yang pengertian, Faisal hanya bisa mengalah, takut kalau Amel tambah murka seperti semalam saat ia diam diam masuk ke selimutnya.


''Ma, memangnya papa bau ya?'' tanya Elfas yang melihat kejadian orang tuanya tersebut.


Amel menghentikan kunyahannya dan menatap Faisal yang masih bengong.


''Enggak, mama cuma.....'' Amel masih mikir, jawaban apa yang akan di lontarkannya untuk sang putra.


''Mama cuma nggak suka parfum papa saja.'' Sahut Faisal membantu.


Anak kecil itu hanya mengangguk mengerti. Sedangkan Amel mengulas senyum, merasa bersalah dengan dirinya yang aneh.


Maaf ya mas, tapi aku benar benar nggak bisa dekat dengan kamu.


''Ya sudah aku ke kantor ya.'' Lagi lagi Amel hanya bisa hanya menyengir saat Faisal mencium keningnya.


Setelah masuk ke dalam mobil, Faisal kembali menatap istrinya yang melambaikan tangannya di depan pintu, kini Faisal mulai berpikir keras dengan tingkah Amel.


Kalau hanya marah karena semalam nggak mungkin, itu bukan Amel banget, terus dia kenapa ya, kok dia seperti Dinda waktu hamil si kembar, apa Amel juga hamil.


Dengan membawa perasaan yang sedikit cemas Faisal melajukan mobilnya menuju rumah adiknya.


Setelah menerobos jalanan yang ramai, Faisal memarkirkan mobilnya di depan rumah Alan yang nampak ramai dengan polah kedua keponakannya.


''Paman....'' seru keduanya menghampiri Faisal yang baru saja turun dari mobil.


''Bawa hadiah kah?'' Tanya Fana polos dengan tangan menengadah.


''Bawa dong,'' membuka kembali pintu mobilnya mengambil jajanan yang memang selalu tersedia di mobil.


''Mama sama papa mana?'' tanya nya menggandeng kedua bocah itu masuk.


''Di dalam, lagi santai.''


Kenapa sekarang malah aku yang sial, apa wanita itu memang selalu berubah ubah dengan sikapnya.


Faisal membuka pintu mendapati Alan dan Dinda yang sedang tertawa renyah di ruang keluarga.


Tak ingin mengganggu Dinda, Faisal langsung menuju ruang makan karena tak nafsu saat di rumah, apa lagi melihat sikap cuek Amel benar benar membuatnya tak selera.


''Loh aden, bikin kaget bibi saja,'' cetus Bi Romlah saat Faisal tiba tiba saja menepuk bahunya dari belakang.


''Maaf ya Bi, mau numpang sarapan.''


menarik kursi untuk duduk.


''Memangnya non Amel nggak masak?''


Alan menghela nafas, ''Masak, tapi, dia nggak mau dekat dengan aku bi, seperti orang jijik. Jadi aku malas makan.''


''Aden berantem dengan Non Amel?'' tanya Bi Romlah lagi.


"Tidak, semalan hanya berdebat kecil saja karena pulang kemalaman dari cafe, masa iya itu saja harus di perpanjang.''


''Pulangnya bareng den Alan?'' bi Romlah memastikan.


Faisal mengangguk lalu menyendok makanannya.


''Semalam di sini juga cek cok kecil, tapi sekarang lihat saja!" Bi Romlah menyungutkan kepalanya ke arah kedua majikannya.


"Sudah akur lagi." imbuhnya.


"Iya bi, Semoga mereka tidak mendapat masalah lagi ya Bi."


Bi Romlah tersenyum, ''Mudah mudahan nanti pulang kantor non Amel cepat memaafkan aden.''


Baru beberapa suap, Alan dan Dinda datang, keduanya pun terkejut melihat Faisal yang dengan lahapnya menyantap makanan.


''Kapan abang datang?'' tanya Alan ikut duduk di samping Faisal.


''Tadi, saat kalian sibuk dengan ponsel.''


''Maaf ya bang, Dinda nggak sambut abang,'' mencium punggung tangan Faisal.


''Nggak apa apa, sehat?''


''Abang kenapa?'' tanya Dinda saat melihat wajah kusut Faisal, se buntu apapun menutupi kegundahannya, Dinda tetaplah seorang adik yang bisa membaca gelagat saudara kandungnya tersebut.


Faisal meletakkan sendoknya dan menatap Dinda serta Alan bergantian.


''Aku bingung sama Amel, dia nggak mau dekat dekat aku,'' ucapnya memelas.


''Kok Bisa?'' jawab Dinda dan Alan serempak, ikut bingung dengan abangnya.


Faisal mengangkat kedua bahunya.


''Jangan jangan, Mbak Amel ngidam seperti aku waktu itu.'' Mengingat waktu awal hamil bahkan sedikitpun Dinda tak mau melihat wajah tampan Alan.


''Semoga,'' dengan lemah Faisal menjawab. Jika benar, itu artinya Faisal sudah siap menanggung risiko yang akan di alaminya setiap hari, yaitu menjauh dari istrinya selama trimester.


Setelah ketiganya selesai sarapan, Dinda membawa piring ke dapur, sedangkan Alan semakin mendekati Faisal yang terlihat manyun.


''Siap siap puasa sampai tiga bulan ya bang, aku doakan semoga puasa abang lancar.'' Bisik Alan, takut kalau istrinya mendengar percakapan konyolnya bersama Faisal.


Dasar adik ipar laknat.


Cih.... Faisal berdecih mendengar ejekan Alan.


''Memangnya semalam kamu dapat, enggak kan, itu artinya kita sama sama puasa, jadi jangan suka ngeledek.''


Seketika Alan menatap lekat wajah Faisal.


''Kok abang tau kalau semalam aku nggak dapat?''


Ucap Alan memastikan, dari mana rahasianya itu bocor, wah bisa malu kalau nanti Daka juga tau.


''Dari Bi Romlah, katanya kalian berdebat, dan aku yakin Dinda nggak mungkin mau begitu saja kalau kamu melakukan kesalahan.'' cetusnya meninggalkan Alan.


Alan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari cengengesan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Demi membantu sang abang keluar dari permasalahan yang melanda, Dinda rela pergi ke rumah Amel mencari tau penyebab wanita itu yang tak ingin dekat dengan suaminya.


"Tumben ke sini?" tanya Amel heran, karena biasanya Dinda tak pernah datang, apa lagi sendirian.


"Iya, kangen."


"Kapan Mbak datang bulan?" pertanyaan Dinda membuat Amel menghentikan aktivitasnya yang saat ini menuang air ke dalam gelas untuk mengingat datangnya tamu bulanan.


"Lupa, kayaknya sudah lama," ujarnya.


"Kalau begitu mbak coba tes dulu." Menyodorkan dua buah tespek dengan merk yang berbeda.


"Maksud kamu, aku hamil gitu?" masih tak percaya dengan perkiraan Dinda.


"Ya buat masitiin saja, siapa tau positif," Dinda mengikuti Amel yang kini duduk di ruang tamu.


Setelah keduanya saling berpikir, Amel mengangguk, meskipun belum ada tanda tanda setidaknya mencoba dengan alat itu.


"Tunggu ya!"


Lima belas menit Amel meninggalkan Dinda yang sedang asyik memainkan ponselnya, kali ini Dinda sengaja menggoda suaminya yang ada di kantor dengan beberapa chat yang di kirim.


Jangan menggodaku terus, pokoknya nanti malam kita lembur.


Jlebb...


Setelah balasan mesum suaminya, Dinda memilih untuk mengembalikan ponselnya di tas. Tak mau meladeni suaminya yang terus saja menjurus ke pergulatan ranjang.


''Gimana, Mbak?'' tanya Dinda antusias saat Amel baru saja keluar dari kamar mandi belakang.


Amel menerbitkan senyum dengan dua tangan di belakang.


''Positif, aku hamil anak mas Faisal yang kedua.''


Rona bahagia kembali menghiasi dua wajah perempuan yang kini saling berpelukan.


Dinda sampai menitihkan air mata bahagia, akhirnya penantian abangnya terkabul juga.


''Semoga semua keluarga kita selalu di beri kebahagiaan yang berlimpah.''


''Amiiin.''