
Tak seperti tadi sore saat akad, kini para tamu undangan resepsi kembali memenuhi ballrom. Sang pengantin terlihat bahagia dengan memakai gaun mewah yang melekat membuat rona wajahnya makin terlihat bersinar. Amel hanya bisa mengumbar senyum dengan tangan yang bergelayut manja, kali ini Faisal tak akan lepas lagi di seberang sana karena ikatan yang baru di lantunkan beberapa jama yang lalu.
Bukan hanya Faisal dan Amel yang bahagia, Dinda pun merasakan itu, akhirnya penantian sang abang sampai ke tepi, rasa bersalahnya di obati dengan ide konyol suaminya yang menjadi garda terdepan pernikahan Amel dan Faisal saat ini.
''Kak, aku ke toilet bentar,'' ucap Dinda mengalungkan tasnya di leher Alan.
Alan ikut beranjak dan mengikuti Dinda.
''Kakak mau kemana?'' tanya Dinda saat menoleh.
''Nganterin kamu lah,'' ucapnya.
Ckckck.... ''Nggak usah, mendingan kakak duduk, awasi dokter Daka, jangan sampai dia macam macam sama Salma,'' pintanya.
Terpaksa Alan kembali ke tempat duduknya meskipun hatinya sedikit khawatir dengan Dinda yang pergi sendirian.
Baru juga beberapa langkah, di tempat sepi, Dinda menghentikan langkahnya saat ada yang menarik tangannya dari belakang.
''Mbak Syntia?'' serunya, sedikit terkejut dengan datangnya wanita itu.
Plakakkk.... tiba tiba saja sebuah tamparan itu mendarat di pipi mulus Dinda yang membuat sang empu meringis.
''Apa maksud mbak menamparku?'' tanya Dinda, yang merasa tidak punya kesalahan apapun.
Keduanya saling menatap tajam, ''Kamu dengar baik baik, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mas Alan untuk kamu,'' ucap Syntia dengan wajah yang sudah berapi api.
Namun tidak bagi Dinda yang selalu mengulas senyum. ''Aku siap untuk pergi dari Kak Alan, asalkan dia sendiri yang menyuruhku untuk pergi, bukan mbak,'' bantah Dinda tak mau kalah.
''Jadi silahkan mbak bilang ke kak Alan untuk mengusirku.'' bahkan Dinda seakan menantang.
''Dasar wanita murahan, perebut suami orang, nggak punya malu,'' ucap Syntia dengan lantang bahkan para pelayan yang melintas sengaja berhenti sejenak menatap Dinda dengan tatapan sinis.
"Kalian lihat wanita cantik ini?" ucap Syntia menunjuk ke arah Dinda yang masih berdiri tegap.
"Dia merebut suamiku, gara gara dia suamiku kini menghindar dari aku, kalian pasti tau bagaimana rasanya di madu, apa wanita seperti ini pantas untuk mendapatkan kebahagiaan?" ucap Syntia terbata, bahkan sempat meloloskan air matanya, pura pura terluka.
Begitupun Dinda yang tak kuat dengan ucapan itu, ia hanya bisa menggeleng dan terisak tak menyangka kalau hari ini akan di permalukan di depan umum oleh istri pertama suaminya.
"Tidak, ini tidak benar, aku memang istri kedua, tapi Mbak Syntia sendiri yang mengizinkan aku menikah dengan suaminya, kalian jangan percaya." Dinda mulai sesenggukan.
"Huuu... mana ada istri pertama yang ngizinin suaminya menikah lagi, itu adanya hanya di dongeng." celetuk mereka yang dari tadi menjadi pendengar setia.
"Enggak," Dinda menutup kedua telinganya saat suara Syntia terngiang ngiang di telinganya.
"Ada apa ini?" tiba tiba suara seorang laki laki membelah kerumunan orang yang memutari Dinda.
"Dinda, kamu kenapa?" ternyata Alan yang datang, seketika pria itu merengkuh tubuh Dinda yang terlihat lemas.
Tak mendapat penjelasan dari istri keduanya karena masih terisak, akhirnya Alan mencengkeram lengan salah satu pria di sana.
"Kamu katakan, apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Alan penuh amarah, namun tetap memeluk Dinda, bahkan sedikitpun Alan tak melirik ke arah Syntia.
Pria itu menjelaskan apa yang di katakan Syntia barusan tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
"Apa itu benar?" tanya Alan pada Syntia yang masih mematung di sampingnya.
''Sekarang kalian perlu dengar baik baik, ini memang istri pertamaku,'' menunjuk ke arah Syntia.
''Dan yang ini adalah istri keduaku,'' mengeratkan pekukannya. ''Dan perlu kalian tau, tidak ada yang merebut atau mengambil aku darinya, aku meninggalkannya karena dia selingkuh di belakang aku, dan kalian bayangkan bagaimana rasanya di selingkuhi, apakah dia masih pantas aku pertahankan.'' jelas Alan.
Semua menggeleng.
''Kalau tidak percaya ini buktinya,'' menyodorkan ponsel yang baru saja di rogohnya dari saku celana.
Jadi mas Alan sudah tau hubunganku dengan Rey, ternyata selama ini benar, kalau dia memata matai aku, ini nggak bisa di biarin, pokoknya mas Alan harus tetap menjadi milikku.
''Mas, Aku minta maaf, dia itu hanya teman aku saja,'' ucap Syntia memohon, masih tak tau malu bisa bisanya menyentuh tangan Alan.
''Teman, tapi pernah tidur seranjang, dan berjalan bersama tanpa sepengetahuan suami, itu yang di sebut teman, dan besok aku akan urus surat perceraian kita.'' Tegas Alan di depan semua orang yang kini saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan, Alan tak peduli, yang penting baginya adalah ketenangan Dinda.
''Mas, aku mohon, maafkan aku, aku tau aku salah, tapi aku sudah putuskan Dia, dan kita kembali seperti dulu lagi,'' ucap Syntia di sela sela tangisnya.
''Ada apa ini?'' tiba tiba suara dokter Daka menggema.
''Ada benalu, silahkan kamu saja yang urus, aku mau bawa Dinda balik, jangan biarkan dia masuk ke acara bang Faisal.'' pesannya mendorong Daka ke arah Syntia.
''Di apain?'' tanya Daka pura pura bodoh. Padahal ia tau apa yang harus di lakukan.
''Terserah, di kunciin di toilet, gantung di pohon cabe, di cincang juga boleh.'' jawab Alan asal.
''Kita ke kamar ya!" menggiring Dinda untuk pergi dan tak peduli dengan Syntia yang masih teriak teriak minta maaf.
Dinda menggeleng.
''Kenapa? kamu butuh istirahat.'' basa basi cari kesempatan dalam kesempitan.
''Aku mau kembali ke pesta abang, kita kan belum poto.''
Alan tertawa lalu berjongkok menepuk punggungnya.
''Malu dilihatin orang,'' ucap Dinda.
''Nggak apa apa, kalau mereka iri, biarin saja minta gendong sama suaminya sendiri.'' menarik kaki Dinda yang membuat sang empu tak bisa menghindar.
''Stoopp.... ucap Dinda meninggikan suaranya setelah beberapa langkah meninggalkan tempat perdebatannya dengan Syntia.
''Kenapa sih?'' tanya Alan penasaran.
''Aku mau ke pesta abang dan Mbak Amel, bukan ke kamar.'' Protes sang tuan putri yang menyadari langkah suaminya membelok menuju lift yang menghubungkan ke kamar pesanannya.
Aku pikir dia sudah lupa gara gara masalah tadi, ternyata ingatannya masih normal.
Alan hanya bisa cekikikan dalam hati, namun ia tetap balik ke arah tempat resepsi, nggak mau istri mudanya itu ngambek.
Sedangkan Daka makin kerepotan saja mengurus istri Alan yang bandelnya minta ampun. Di suruh pulang nggak mau, di kunciin di toilet nggak mau juga, di ajak ke kamar hotel malah Daka kena tamparan, maunya ke ruangan pesta, sedangkan Alan sudah mewanti wantinya kalau Syntia tak boleh masuk.
Akhirnya Daka memanggil satpam untuk mengusir wanita itu, biar nggak mengganggu Alan yang saat ini lagi nenangin istri kecilnya.
''Baik baik diluar ya, kalau perlu pulang setelah nyamuknya kenyang,'' teriak Daka dari ambang pintu saat menatap Syntia yang masih mematung di halaman depan.