Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Perpisahan


Dinda mulai mengerjap ngerjapkan matanya setelah beberapa menit tak sadarkan diri, wanita itu menatap langit langit kamar yang saat ini di tempatinya, lalu pandangannya berhenti pada Alan yang duduk di bawah lantai tepi ranjangnya dengan menggenggam tangannya sangat erat, mata laki laki itu terpejam hingga tak menyadari kalau Dinda sudah terbangun.


Dinda langsung mengingat ucapan mama mertuanya yang membuatnya pingsan.


"Kak, bangun!" menarik tangannya hingga membuat Alan terusik.


Pria itu tersenyum senang saat menatap arah Dinda.


"Kamu sudah sadar?" tanya nya seraya tersenyum.


Ada tatapan benci di wajah Dinda untuk Alan, namun suaminya itu tidak peduli.


"Apa benar anak aku sudah meninggal?" tanya Dinda dan kembali menitihkan air mata.


Alan menunduk, merasa bersalah dengan kejadian itu, meski umur adalah milik Tuhan, tapi Alan masih saja menyayangkan kalau ia tak bisa mempertemukan Dinda dengan sang buah hati di saat nafas terakhirnya.


Akhirnya pria itu mengangguk tanpa suara.


"Maafkan aku." ucap Alan ikut duduk di samping Dinda yang saat ini sudah menangis sesenggukan.


Plaakkk..... sebuah tamparan itu mendarat di pipi Alan.


''Seandainya kamu mengizinkan aku untuk bertemu dengan anakku, mungkin aku tak akan merasakan sesakit ini, tapi apa, kamu tega memisahkan aku dari anakku untuk selama lamanya, kini semuanya sudah terlambat, tidak ada alasan aku berada di sini.''


Apa yang harus aku lakukan sekarang, bahkan sampai kapanpun tidak akan ada yang memanggilku mama, anakku sudah meninggal dan aku sudah tidak bisa punya anak lagi, Tuhan, semoga masih ada keajaiban di dunia ini untuk diriku.


''Sekali lagi maafkan aku.'' Hanya kata itu yang bisa di ucapkan Alan di depan Dinda.


Dinda menatap wajah suaminya yang masih sedikit pucat. ''Untuk apa?'' Tanya Dinda yang melihat banyak penyesalan di raut wajah pria itu.


''Untuk semuanya yang sudah pernah aku lakukan ke kamu, kamu boleh hukum aku sepuasnya, tapi kembalilah padaku. Aku akan menceraikan Syntia, dan kamu akan menjadi satu satunya yang aku miliki.'' ucap Alan serius. Meyakinkan kalau kali ini bukan hanya tipuan namun dari hati.


''Tidak semudah itu, karena luka yang kakak berikan akan selalu membekas disini.'' menunjuk dadanya sendiri.


''Tapi aku mohon, kembalilah, kita mulai dari awal lagi, dan aku ingin kamu menjadi istriku untuk selama lamanya.'' Alan menangkupkan kedua tangannya, meminta dengan penuh harap supaya Dinda kembali menerimanya.


''Kenapa, apa kakak sudah tau kalau Mbak Syntia selingkuh, apa aku ini menjadi bahan pelarian kakak. Nggak, aku nggak mau kembali sama kakak, kita akan tetap bercerai, aku mau pulang.'' Dengan sigap Dinda menyibak selimut dan turun dari ranjang.


Baru juga maju beberapa langkah, Alan memeluk tubuh Dinda dari belakang.


"Kamu bukan bahan pelarian, Aku mencintaimu sebelum aku tau perselingkuhan Syntia, hanya saja waktu itu aku belum sadar, dan aku menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini, aku mohon beri aku kesempatan untuk bisa menjadi suami kamu." tetesan air mata Alan membasahi baju Dinda, hingga keduanya saling beradu tangis.


"Tapi aku nggak bisa menjadi istri kamu lagi." Mencoba melepaskan tangan Alan yang melingkar di perutnya.


''Kemana kakak di saat aku butuh kasih sayang seorang suami, di mana kakak di saat anak kita yang masih berada dalam kandungan membutuhkan sosok ayahnya, dan di mana kakak, di saat aku butuh,_ Ucapan Dinda menggantung saat Alan menutup mulut Dinda.


''Sekarang katakan, apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau menerimaku lagi, gimana caranya supaya kamu percaya sama aku, kalau aku mencintai kamu, aku minta maaf karena aku sudah mengabaikan kamu, tapi sekarang aku bisa apa, semua sudah terjadi, tapi setidaknya berikan aku kesempatan lagi untuk menebus semuanya."


Bingung melanda, di satu sisi Dinda merasa kalau dirinya bukanlah wanita yang sempurna karena tak bisa lagi memberi cucu pada keluarga Sudrajat, untuk apa mempertahankan sebuah pernikahan, sedangkan Bu Yanti sangat mengharapkan itu, dan di sisi lain, Dinda tidak tau bagaimana nantinya jika ia bercerai dari Alan, apa masih ada laki laki yang menerima dirinya apa adanya.


"Aku butuh waktu untuk berpikir, karena aku tidak mau menyesal untuk yang kedua kali, sekarang lepaskan, aku mau pulang."


Alan mengendurkan tangannya lalu memutar tubuh Dinda hingga keduanya saling bertatap muka.


Alan kembali merengkuh tubuh Dinda memeluknya dengan penuh kehangatan dan mencium keningnya.


Selama aku dan kak Alan menikah, dia tak pernah memelukku sehangat ini, tapi kenapa sepertinya pelukan ini tak asing, apa aku hanya berhalusinasi saja. batin Dinda.


Setelah Alan melepaskan pelukannya, Dinda kembali keluar dari kamar Alan dan menemui keluarganya serta Bu Yanti.


Sedangkan pria itu sendiri hanya bisa menatap punggung Dinda menjauh.


''Bang, sebelum kita pulang, aku mau ke makam anakku dulu,'' pintanya.


Bukan hanya keluarga Dinda, namun Bu Yanti dan pak Heru ikut pergi ke makam cucu mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tangis Dinda kembali pecah saat tiba di samping gundukan tanah putranya, tak menyangka pertemuan dengan sang bayi begitu singkat, bahkan Dinda belum pernah menggendong bayi mungil yang berjenis kelamin laki laki itu, namun Tuhan kembali memisahkan mereka dalam sekedip mata. Nasi sudah menjadi bubur, dan waktu tidak akan mengembalikan semuanya, namun Dinda masih berharap ada sebuah keajaiban yang akan hadir kembali.


Aldiansyah Sudrajat.


Tak mau berlama lama di sana, takut jika Dinda kembali sok, setelah berdoa Dinda kembali mencium batu nisan anaknya.


''Ma, terima kasih atas semua yang pernah mama berikan, saat ini juga aku mau pulang kampung bersama bapak dan Ibu,'' ucap Dinda di sela sela tangisnya.


''Kami sudah menganggap kamu sebagai putri kami, jadi pintu rumah mama terbuka lebar untuk kamu, jika kamu berubah pikiran katakanlah, kami akan menjemputmu, meskipun kamu tidak mau kembali sama Alan, setidaknya kembalilah menjadi putriku.'' ucap Bu Yanti.


Meskipun tak tega dengan Bu Yanti, Dinda harus tetap mengambil keputusan, dan ia memilih untuk tetap pulang ke kampung halaman.


Sebuah perpisahan pun terjadi di makam itu, Dinda yang berlinang air mata memilih untuk masuk mobil sembari melambaikan tangannya ke arah Bu Yanti.


Mama pasti akan merindukan kamu,'' teriak Bu Yanti sebelum Daka benar benar melajukan mobilnya dengan kencang.


Aku juga pasti akan merindukan mama, tapi aku bukan Dinda yang dulu yang bisa memberi keturunan untuk keluarga Sudrajat, aku Dinda yang mandul dan tak akan lagi bisa mempunyai anak seperti Mbak Syntia. batin Dinda.