Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Kebahagiaan yang terpenting


Entah, sebuah karma, ujian, cobaan, atau pelajaran hidup yang di alami Alan, setidaknya kini pria itu tau norma norma dalam berumah tangga, bahwasanya seorang laki laki tak hanya bertugas mencari nafkah saja, namun juga mengisi kekosongan hati seorang istri, apa lagi di saat hamil seperti Dinda. Tak ada yang yang paling indah baginya selain melihat senyum indah terukir di bibir Dinda, wanita itu selalu nampak bahagia, Di usia kandungan yang makin menua, kini Alan makin jarang meningggalkannya, karena tak ada yang lebih penting selain istri dan calon bayinya.


Pagi yang begitu cerah, seperti hari biasa Alan menemani Dinda untuk jalan jalan menyusuri taman yang begitu luas, meskipun terlihat malas, namun Dinda harus tetap semangat demi kelancaran saat melahirkan.


"Sudah capek?" mengelap kening Dinda yang mulai berkeringat.


Dinda menggeleng, menurutnya masih terlalu cepat dari waktu yang di anjurkan Daka.


"Jangan di paksaan jika sudah tidak kuat."


"Sayang....'' Tiba tiba saja suara Bu Yanti menghentikan langkah keduanya.


"Mama, tumben pagi pagi kesini," kini Alan membawa Dinda duduk.


Bu Yanti tersenyum saat menatap wajah sang menantu.


"Iya, besok mama akan adakan acara tujuh bulanan untuk kamu."


Dinda diam menatap ke arah Alan. Wajahnya nampak merengut, namun tetap Dinda tersenyum paksa demi menjaga hati Bu Syntia.


"Dimana, Ma?'' tanya Alan.


"Di rumah mama saja, ya sudah kalau gitu mama akan siapkan semuanya. Kamu istirahat saja ya sayang," mencium kening Dinda sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


''Kamu nggak apa apa kan?'' Alan menggenggam tangan Dinda yang berubah dingin.


Lagi lagi Dinda hanya menggeleng dengan pandangan kosong.


''Aku haus.'' Tak perlu menunggu lagi, Alan segera berlalu.


''Nih, airnya,'' menyodorkan segelas air putih di depan Dinda.


Setelah meneguknya, Dinda mendekati Alan yang duduk di depannya.


''Kak, apa tujuh bulanan itu harus ya?'' tanya Dinda, entah kenapa wanita itu seperti malas menerima rencana mama mertuanya.


Alan mengangkat kedua bahunya, karena pria itu pun tak mengerti hal semacam itu.


''Memangnya kenapa?''


Dinda menggeleng, mungkin tak baik jika terlalu banyak tanya.


''Kita masuk yuk, sudah panas,'' menarik lengan suaminya.


Kenapa dengannya, sepertinya tak suka dengan acara tubuh bulanan, apa ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman dengan acara itu.


Di ruang keluarga, Dinda masih saja diam dan tak bicara sepatah katapun, meskipun berulang kali Alan menggoda dan menjahilinya wanita itu hanya menanggapi suaminya dengan senyuman kecil.


''Kak, aku ke kamar dulu ya,'' pamitnya.


Alan mengangguk tanpa suara.


''Sayang kamu nggak makan dulu?'' Sedikit meninggikan suaranya saat Dinda sedikit menjauh.


''Nanti saja,'' jawabnya singkat dan berlalu.


Alan hanya bisa menatap punggung istrinya yang masuk ke dalam kamar.


Meskipun hari libur, Alan tetap mengecek perkembangan kantor dari rumah, apa lagi akhir akhir ini Alan jarang masuk atas permintaan istrinya.


Dua jam penuh Alan bergulat di depan laptopnya, dan kini kelar sudah semua pekerjaannya, namun Alan terlihat khawatir saat tak ada tanda anda Dinda keluar dari kamarnya.


Tanpa mengetuk, Alan membukanya, ternyata Dinda terlelap di balik selimut.


Pantas, ternyata tidur.


Seketika Alan mendekati Dinda saat terdengar samar samar gadis itu merancau.


''Aku tidak suka acara tujuh bulanan, karena di saat itu aku tau kalau kak Alan hanya menyayangi anakku saja, dan di saat itu juga aku berpisah dengannya. Aku suka dia yang mencintaku, batalkan acara itu. Supaya kak Alan tetap mencintaku selamanya.


Rancauan Dinda membuat Alan seketika ambruk ke lantai, suara itu bagaikan pedang yang menusuk jantung dan hatinya melumpuhkan seluruh organ tubuhnya. Tak menyangka di balik diamnya sang istri dari tadi ternyata memendam memori pahit di masa lalu.


Dengan memakai lutut Alan mendekati ranjangnya dan meraih tangan istrinya dan menciumnya.


''Maafkan aku, maafkan aku, Aku tau luka yang kau berikan terlalu dalam untuk kamu, dan aku tau, aku begitu bodoh sudah menyia nyiakan wanita sebaik kamu, jika kamu tidak mau acara itu, aku akan bilang ke mama untuk membatalkannya. Tapi aku mohon jangan lagi kamu menyakiti diri kamu sendiri dengan mengingat kejadian itu, tanpa anak anak pun aku akan tetap mencintai kamu selamanya.'' Alan kembali mencium tangan Dinda lalu berdiri dan menyibak selimut yang menutupi tubuh wanita tersebut.


Seperti biasa Alan mengambil minyak dan mengoleskan di area kaki Dinda yang sedikit membengkak lalu mengurutnya.


Aku tau kenapa kamu ngomong seperti itu, aku memang pernah bilang, kalau semua yang aku lakukan semata mata demi anak kita, dan aku melarangmu untuk besar kepala, tapi aku nggak tau, kenapa itu semua kini malah menyakiti hati aku sendiri. Dan sekarang aku melakukan ini semua bukan untuk anak kita, tapi untuk mamanya.


Alan menyeka air matanya yang dari tadi menetes, tak mau membuat Dinda terusik. Namun semua itu gagal total, faktanya Dinda malah terbangun saat buliran air mata Alan mengenai ujung jarinya.


''Kakak....'' Mencoba untuk mengangkat kepalanya.


Alan menggeser duduknya membantu Dinda untuk duduk.


''Aku ganggu ya?''


Dinda menggeleng, malah bingung kenapa bisa Alan ada di kamar itu juga.


''Kamu kenapa diam?'' tanya Alan memancing, siapa tau Dinda mau cerita.


Namun tak semudah itu, karena Dinda masih saja menggeleng.


Kamu memang pintar menyembunyikan masalah, tapi sekarang aku harus lebih peka dengan apa yang kamu inginkan.


''Mama membatalkan acara tujuh bulanan.'' seketika Dinda menoleh dengan sebuah senyuman indah.


''Beneran, kak?'' Tanya Dinda memastikan kalau Alan tidak sedang berbohong.


Dinda langsung memeluk tubuh kekar suaminya, meskipun bukan hadiah yang di berikan setidaknya itulah yang memang di inginkan dari tadi.


Dengan lembut Alan mencium kening Dinda menegaskan kalau wanita itu tak boleh takut akan cinta dan kasih sayangnya.


Jika kamu tidak suka dengan acara itu kenapa harus berlanjut, dan aku akan lebih suka jika kamu bahagia, karena hanya itu yang paling penting untukku saat ini.


''Apa mama tidak marah?'' Dinda mendongak menatap wajah Alan.


''Mama tidak akan marah, yang terpenting kamu tidak lagi sedih memikirkan acara itu.''


"Dari tadi kamu belum makan lo, kita keluar yuk! kasihan kan anak anak pasti kelaparan."


Dengan begitu antusias Dinda mengikuti Alan menuju ruang makan.


Alan merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu.


Ma, Dinda nggak mau ada acara tujuh bulanan, aku mohon batalkan rencana itu, aku takut dia trauma lagi seperti dulu, mama cukup doakan saja anak kami baik baik saja sampai lahir nanti.


Sebuah pesan singkat di kirim ke nomer ponsel Bu Yanti.


Setelah membaca pesan dari Alan, Bu Yanti hanya bisa mengulas senyum. "Apa yang tidak untuk kalian, semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian sampai nanti."