Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Masih berharap


Seperti yang di lakoni istri istri yang lain. Pagi ini Dinda mengawalinya bergulat dengan bumbu dapur, sebelum Alan bangun Dinda sudah menyiapkan segala keperluan laki laki itu. Dengan segenap jiwa Dinda benar benar merasakan kebahagiaan menjadi istri yang sesungguhnya bukan settingan atau sampingan, namun nomer satu.


Meja makan sudah tersaji menu yang semalam sempat di tanyakan pada Alan, dan kini tinggal membangunkan anak mama yang masih betah di balik selimut.


''Kak, katanya mau kekantor?'' bisiknya lembut, takut jika Alan gelagapan.


Sekali menyapa sudah ada respon, Alan langsung membuka mata perlahan. Meskipun berat, tetap kini Alan harus kembali bertanggung jawab pada perusahannya.


Hampir semalaman Alan membereskan berkas yang ia lalaikan selama ini dan mungkin kurang lebih tiga jam Alan terlelap, dan kini ia harus kembali menatap hari sibuknya di kantor.


Bagaikan matahari yang baru terbit, wajah Dinda membuat Alan lebih semangat untuk beranjak dan segera ke kamar mandi.


"Kita mandi bareng ya!" godanya saat memegang handle pintu kamar mandi.


Masih sempat sempatnya membuat lelucon pada Dinda yang sudah terlihat cantik. Akhirnya gadis itu mendekat.


"Nggak nyium kalau aku sudah wangi."


Dinda memutar tubuhnya dengan tangan di pinggang bak model.


"Nggak apa apa mandi lagi, nggak ada salahnya, kan?"


Seketika Dinda mendorong tubuh Alan masuk hingga tak nampak setelah pintu tertutup.


Tak lama, karena Alan tak perlu luluran seperti pengantin baru, pria itu sudah kembali membuka pintu dengan buliran air yang masih menghias tubuh atletisnya, Dinda yang sedari tadi di depan lemari masih belum kelar untuk membolak balikkan beberapa baju yang bergantung.


"Cari apa, sayang?" tanya Alan seraya mengeringkan rambutnya.


''Baju kakak." bentaknya. Karena Dinda sudah sebel tak menemukan apa yang menurutnya beda.


"Baju apaan sih, kan itu banyak." Ucap Alan dari seberang ranjang.


"Sekarang kan kakak suami aku, jadi aku mau tampilan kakak itu beda dengan pilihan Mbak Syntia."


Dinda menatap wajah Alan dengan tatapan sinis, karena ia tak mau di samakan dengan istri pertama Alan. Biarlah di bilang serakah, yang pastinya Dinda memang ingin menjadi satu satunya.


Dengan hanya memakai handuk Alan menghampiri dan memeluk Dinda dari belakang.


"Selama aku menikah dengan Syntia, dia nggak pernah nyiapin baju buat aku, jadi apapun pilihan kamu, tidak akan pernah sama. Dan kalian memang beda." tukasnya dengan lembut di telinga Dinda, bahkan nafas wangi mint menyeruak membuat sang empu bergidik.


Setelah mendapat penjelasan dari Alan, Dinda malah merasa kasihan dengan suaminya, jadi selama itu Alan tak pernah di layani saat mau ke kantor. menyedihkan.


"Aku minta maaf.'' Akhirnya Dinda mengambil kemeja berwarna putih dengan jas dan celana yang memang sudah melekat jadi satu.


Setelah rapi dengan bajunya, Alan dan Dinda keluar dari kamarnya menuju meja makan, beberapa menu memang sudah di siapkan dan seperti kemarin Alan begitu menyukainya, Dinda adalah bayangan sang mama yang suka sekali masak, tak hanya itu, dan mereka pun sama dengan hobinya yang harus berkerumun dengan baju.


Ada yang spesial bagi Alan pagi ini, dimana ia kembali mempunyai satu istri, dan baginya kembali tak mempunyai beban masalah yang rumit, dan menguras tenaga dan pikiran.


"Aku pergi dulu, ya!" mengecup kening Dinda saat keduanya mematung di depan pintu.


Bukan hanya Alan, pak Tedi juga sudah siap dengan mobilnya.


''Pak, biar aku berangkat sendiri saja.'' Teriak Alan saat Pak Tedi menyalakan mesin mobilnya.


''Kenapa, Kak?'' tanya Dinda heran.


''Biar pak Tedi di rumah saja, nanti kalau kamu mau kemana mana kan ada yang anterin.'' jawabnya sebelum masuk.


Lambaian tangannya itu menjadi perpisahan keduanya, setelah mobil Alan menghilang Dinda beralih menuju rumah konveksinya yang memang baru akan di buka.


Baru juga membuka pintu, Amel datang dengan rona bahagianya dengan tangan yang tak lepas dari abangnya.


''Roman romannya ada yang mau pamer, nih.'' celetuk Dinda yang tak berhenti dan melanjutkan aktivitas untuk melebarkan pintunya.


Amel menatap Faisal yang sedikit malu dengan ucapan sang adik.


''Mau ke rumah apa disini?'' tanya Dinda.


Faisal menyungutkan kepalanya ke arah Amel, menyerahkan pendapat pada sang istri untuk singgah.


''Disini saja.'' Amel ikut masuk dan menatap setiap sudut ruangan yang baru di tempati mereka.


''Din.'' ucap Amel mendekati Dinda yang masih memilih kain yang masih tergulung rapi.


Dinda menoleh ke arah kakak iparnya.


''Aku ingin kita jadi partner kerja.'' ucap Amel yang masih tak di mengerti Dinda.


''Maksud, Mbak?'' Dinda menatap wajah Faisal yang tak tau menau rencana Amel.


''Ya, kita buka fashion, terserah kamu, maunya yang gimana.''


Meskipun terkesan mendadak namun terlintas di otak Dinda dengan apa yang di inginkan selama ini. Ternyata tak sia sia apa yang di inginkan kini semua hampir tercapai.


''Anak.'' ucap Dinda lantang.


Amel kembali menoleh ke belakang menatap Faisal yang menunduk.


''Mbak dan abang kenapa?'' tanya Dinda saat raut kedua kakaknya itu berubah seketika.


''Din,'' panggil Faisal dengan berat.


Dinda tersenyum simpul, pasti kakaknya merasa bersalah dengan keadaan Dinda saat ini.


''Abang dan mbak Amel jangan mikir yang macam macam, dari dulu aku memang suka bikin baju anak, nggak ada salahnya kan kalau kita buat Butik khusus Anak.''


Meskipun masih terasa ngilu saat membahas makhluk mungil, namun Dinda menepis seakan akan tak terjadi apa apa dengan hatinya yang saat ini tersayat.


Akhirnya Faisal merengkuh tubuh Dinda dan Amel bersamaan, memberinya kekuatan untuk tetap tegar menghadapi sesuatu yang terjadi kedepan.


Aku tau abang pasti merasa bersalah sudah mengambil keputusan ini, tapi aku juga tau kalau semua itu karena abang sayang aku, dan aku tidak akan menyesal dengan masalah ini, tapi aku berharap masih ada keajaiban yang akan menimpaku.


Setelah puas berpelukan, Dinda dan Amel memulai membuat konsep yang mungkin nanti akan menjadi ciri khas tempat mereka, kali ini Dinda tak cuma membuat baby shop, namun dengan online dengan baju lainnya, berharap itu semua bisa mengisi hari harinya yang mungkin akan kesepian.


''Alan kemana?'' tanya Faisal, karena tujuan mereka bukan hanya mengantar Dinda namun juga Faisal yang katanya ada perlu dengan adik iparnya.


''Baru saja berangkat, bang.''


Setelah Dinda mengatakan itu, Faisal terlihat buru buru mengambil ponselnya.


''Memangnya kenapa sih, bang?'' tanya Dinda lagi penasaran.


''Aku cuma mau bilang kalau aku mau kerja jadi sekretarisnya lagi, soalnya papa bilang katanya nggak apa apa.''


Bukan tanpa sebab Pak Samuel memberi kebebasan pada Faisal, namun itu semua berkat Amel yang membujuk papanya atas kemauan suaminya yang ingin mandiri.