
Tiga hari semenjak kejadian di rumah Alan, kini pria itu merasa gusar, jika setiap hari Faisal selalu datang ke kantornya untuk menanyakan perceraian, kali ini laki laki yang akan menikah itu sama sekali tidak ada kabar sedikitpun, dan itu membawa tanda tanya bagi Alan.
Sebenarnya bukan cuma tiga hari, satu hari setelahnya Alan pun sudah datang ke rumah mamanya, berharap Dinda meminta bantuan dari keluarganya, namun apa, Bu Yanti pun tak tau menau dan mengira kalau Dinda sudah pulang kampung.
Namun di hari yang ke tiga ini Alan tak bisa duduk manis dengan harapan semunya saja, ia perlu melangkah kedepan untuk meraih apa yang di inginkannya.
Dengan langkah tegap Alan mendekati pintu apartemen Faisal.
Semoga Dinda dan bang Faisal masih tinggal disini, jika bercerai akan membuatnya bahagia, baiklah akan aku kabulkan sekarang juga, asalkan dia masih bisa di dekat anaknya.
Tanpa kata Alan memasang wajah normal dan mengetuk pintu.
Setelah beberapa kali ketukan, Alan mulai was was karena tak ada tanda tanda yang membuka pintu.
''Dinda.'' akhirnya pria itu membuka suaranya. Namun masih juga tak ada yang menjawab.
Alan menilik jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah setengah jam ia di sana, dan sepertinya apartemen itu memang kosong.
Apa benar kata mama, apa Dinda dan keluarganya memang pulang kampung.
Alan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Faisal, ternyata tak aktif.
Baru juga memutar tubuhnya ingin kembali, Alan mendapati wanita cantik yang mendekatinya.
Tak saling sapa, namun keduanya saling pandang, masih sedikit asing dengan kehadiran masing masing.
''Maaf, kamu siapa ya?' tanya Alan menghentikan langkah wanita tersebut.
Wanita itu tersenyum, ''Saya pemilik apartemen ini.'' jawabnya membuka tas dan meraih kuncinya.
''Bukankah, _ ucapan Alan terpotong saat wanita itu mengeluarkan sertifikat dan berkas lainnya.
''Tiga hari yang lalu saya membelinya dari Pak Faisal, sekretaris Alkana grup.'' menyodorkan berkas jual beli yang sah.
Tiga hari itu artinya saat Dinda datang ke rumah.
''Jam berapa?'' tanya Alan lagi memastikan.
''Sekitar jam sembilan pagi, pak.'' jawabnya karena wanita itu masih ingat betul pertemuannya dengan kakak ipar Alan.
Itu artinya lima belas menit setelah Dinda keluar dari rumahku.
Alan membacanya dengan teliti, ternyata benar kalau Faisal memang menjualnya dengan wanita yang ada di depannya itu.
''Apa Mbak tau kemana pak Faisal pindah?''
Wanita itu menggeleng, karena saat menyerahkan berkas, Faisal memang terlihat buru buru dan tak meninggalkan pesan apapun kepada sang pembeli.
''Terima kasih.''
Alan kembali masuk ke dalam mobil, tak langsung pergi, pria itu masih berfikir kemana lagi ia harus mencari Dinda.
Dinda, maafkan aku karena sudah egois, aku fikir kamu akan kembali dengan persyaratan yang aku ajukan, tapi ternyata kamu malah pergi meninggalkan aku dan bayi kita.
Setelah bermonolog dalam hati, Alan langsung melajukan mobilnya menuju rumah.
Kali ini tak ada yang membuatnya lega selain di dekat putranya, dan itulah yang ingin di lakukan Alan.
Setengah jam berlalu, kini Alan sudah tiba di rumah mewahnya, meskipun hatinya tak karuan, Alan masih berfikir jernih untuk melewati permasalahan yang menamparnya saat ini.
''Wah.... itu papa pulang.'' suara Bi Romlah dari ruang keluarga dengan nada anak kecil.
Alan tersenyum meskipun matanya berkaca saat menatap bayinya yang kini menjulurkan lidahnya di gendongan Bi Romlah.
''Anak papa belum tidur ya?'' Alan mengambil alih bayinya, meskipun kikuk Alan mencoba untuk terbiasa menggendong bayinya.
Bi Romlah mengikuti Alan yang kini menuju sofa, di tatapnya wajah kacau Alan.
''Aden kenapa?'' tanya Bi Romlah duduk di samping Alan yang kini ikut menitihkan air matanya.
''Aku menyesal bi, sudah pernah menyia nyiakan Dinda.'' jawab Alan mendongak menahan air matanya yang kini seakan tumpah.
''Selama talak tiga belum terjadi, masih ada kesempatan untuk balik.'' ucap Bi Romlah.
Alan mendengus, karena bukan itu permasalahannya.
''Tapi Dinda nggak mau Bi, Dinda mau kembali jika aku menceraikan Syntia.'' ucap Alan lagi.
Bi Romlah tersenyum, karena ia tau bagaimana cinta Alan kepada istri pertamanya itu, tapi Bi Romlah juga tau mana yang harus di pertahankan dan mana yang harus di lepaskan.
''Den, tidak setiap apa yang kita inginkan itu kita dapatkan.'' seperti orang tua pada umumnya Bi Romlah mencoba memberi wejangan pada Alan, dan semoga pria itu mau mengerti dan menilai dengan benar.
''Tapi untuk kali ini, Aden lihat dengan mata hati, siapa yang benar benar baik dan siapa yang pura pura.'' Tak perlu basa basi ucapan bi Romlah menjurus ke Syntia dan Dinda yang mempunyai watak berbeda.
Alan diam hanya bisa meresapi setiap inci kata Bi Romlah.
''Dan Aden juga harus tau, siapa wanita yang benar benar nencintai dan mengabdi pada suami, dan siapa yang hanya mengharapkan cinta dan kemewahan semata.'' Seakan kata itu bagaikan sindiran di mana Alan harus benar benar mengutamakan isi hati bukan ego.
Setelah mencerna semua ucapan Bi Romlah, Alan tersenyum menatap wajah tua itu.
''Terima kasih ya Bi, sekarang aku tau, apa artinya cinta dan obsesi.''
Syukurlah, semoga Aden tidak terlambat untuk membuat Non Dinda bahagia.
''Syntia kemana, Bi?'' tanya Alan.
''Katanya sih mau mandi tadi, sini biar Bibi yang ajak, Aden istirahat saja dulu, fikirkan baik baik sembelum melangkah.''
Setelah mencium kedua pipi gemuk putranya yang belum di beri nama, Alan menyerahkan putranya ke gendongan Bi Romlah kembali.
Papa akan membawa mama pulang, dan kita akan hidup bersama lagi.
''Papa mandi dulu ya.'' meninggalkan Bi Romlah yang masih di sofa.
Tak mau masuk ke kamarnya, Alan memilih untuk ke kamar Dinda, mungkin akan sedikit mengobati rasa rindunya selama tiga hari.
Ternyata Dinda tidak meninggalkan apapun disini, batin Alan setelah melihat lemari yang kosong.
Alan memilih duduk di tepi ranjangnya dan menatap nanar ruangan itu, bayangan Dinda seakan memutari tubuhnya. Memintanya untuk bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada wanita itu.
Besok aku harus pergi kerumah bapak di kampung, aku harus minta maaf pada mereka.
Alan membuka laci yang ada di sampingnya, niat ingin mencari tisu setelah tak mendapati di meja rias, bukan tisu yang di temukan namun sebuah kertas yang terlihat rapi, tak sengaja cincin yang ada di dalamnya ikut terjatuh di lantai.
Alan berjongkok memungut benda itu lalu mensejajarkan dengan miliknya.
Bahkan kamu sudah meninggalkan cincin kamu disini.
Jika dulu Alan mencoba untuk melepas cincin kawin itu, kini Alan lebih berhati hati lagi menjaganya untuk tidak terlepas dari jarinya.
Selain surat dan cincin, Alan juga menemukan kartu pipih yang di gilai para kaum hawa.
Tak mau pikir panjang Alan langsung membaca isi surat yang di tulis Dinda.
Baru juga satu kalimat, Alan sudah ambruk di lantai, tak menyangka kalau istrinya itu sudah memendam luka darinya begitu lama, dan Alan pun tak menyangka kalau Dinda sudah merencanakan percerainnya dari dulu.
''Aku tidak akan membenci kamu, bagaimanapun kehadiran kamu bukanlah keinginan kamu sendiri, dan aku akan mengingat kamu, bukan hanya sebagai ibu dari anakku, tapi sebagai istri yang pernah aku sia siakan, Dinda, jika Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk bertemu kamu, Aku tidak akan membiarkan kamu untuk terluka, sekecilpun.''