
Malam yang penuh kesunyian, rasa resah, gelisah, gusar, itu menyelimuti hati Dinda saat ini, entah kenapa wanita itu tak bisa memejamkan matanya, padahal baru saja ia tau keadaan putranya yang makin membaik, tapi kali ini bukan soal bayi mungil, melainkan pada seorang pria yang masih sah menjadi suaminya.
''Apa aku telepon Bi Romlah ya, kenapa aku merasa nggak enak gini, mudah mudahan kak Alan baik baik saja.'' gumamnya.
Dinda meraih ponselnya yang ada di nakas, meskipun Alan adalah orang yang pernah menyakitinya, Dinda tak berdusta kalau laki laki itu pula yang berhasil membongkar isi hatinya pertama kali.
Pembicaraan singkat, setelah Dinda menanyakan keberadaan Alan yang memang tak ada di rumah, Dinda memutuskan sambungannya kembali, pikirannya makin kacau takut terjadi apa apa dengan Alan, akhirnya Dinda menelepon Dokter Daka.
Nggak di angkat, meski teleponnya tersambung, dan itu membuat Dinda semakin jengkel saja.
''Mama, aku harus telepon mama, siapa tau kak Alan di sana.'' akhirnya Dinda menelepon mama mertuanya.
Halo sayang, ada apa malam malam gini nelpon, maaf mama belum bisa jenguk kamu, besok mama akan ke rumah kamu, kamu minta di bawain apa?'' tanya Bu Yanti sebelum Dinda menyapa.
Lupa dengan tujuan awal Dinda malah menangis sesenggukan mendengar suara dari seberang sana, dan tangsian itupun tertangkap oleh Bu Yanti yang masih fokus menunggu jawaban Dinda.
''Kamu kenapa? tanya Bu Yanti lagi.
''Ma, Sekarang kak Alan nggak ada di rumah, sedangkan aku ada di apartemen bang Faisal.'' Ucap Dinda masih sedikit ragu untuk mengungkapkannya.
''Ma.'' Dinda menyelak saat Bu Yanti hampir membuka suara kembali.
''Aku mau bercerai dari kak Alan,'' imbuh Dinda.
Tak ada sahutan dari sana karena saat itu juga ponsel Bu Yanti jatuh ke lantai, bahkan Bu Yanti langsung lemas dan memilih untuk bersandar di sofa, seperti sebuah mimpi yang menusuk ke dalam jantung, itulah suara Dinda baginya, tak percaya namun itu nyata.
''Ma,...mama....mama masih dengar aku kan?'' ucap Dinda lagi panik karena tiba tiba sambungannya terputus.
Dinda yang tak bisa berfikir lagi itu memilih untuk beranjak dari ranjangnya.
Dengan jalan yang masih pelan Dinda keluar dari kamarnya memanggil Faisal dan Ibu serta bapaknya.
''Ada apa, kamu kenapa?'' Faisal yang datang lebih dulu merangkul tubuh Dinda, tubuhnya terasa dingin serta air mata yang membasahi pipinya.
''Bang, anter aku ke rumah mama!" pintanya tanpa mengatakan alasannya.
Faisal mengangguk saat Dinda terlihat sangat khawatir.
"Hati hati ya, Sal, jangan bicara keburukan Alan, bilang saja kalau mereka memang tidak cocok untuk bersama," pesan Bu Tatik menerka kalau itu permasalahan yamg akan di bicarakan Dinda.
Faisal yang mengerti itu pun mengangguk lalu menuntun tubuh Dinda ke mobil.
Setelah beberapa menit membelah jalanan, Faisal menoleh menatap wajah Dinda yang masih dengan tangisnya.
"Memangnya Tante Yanti kenapa?" tanya Faisal.
"Tadi aku bilang kalau aku akan bercerai dengan kak Alan, dan tiba tiba saja telepon mama terputus, aku takut mama sok mendengar ucapanku tadi," kata Dinda masih dengan penyesalannya karena ceritanya.
"Jangan nangis lagi, Tante Yanti pasti baik baik saja, mungkin dia terkejut saja dengan semua ini, tapi lambat laun tante Yanti akan mengerti kenapa kamu lebih memilih berpisah ketimbang bersama.''
Dinda mengangguk, meski hatinya ragu tapi bagaimana lagi, semua itu tak bisa di tutupinya lagi, dan Bu Yanti wajib tau.
Sesampainya, rasa takut itu masih menyelimuti saat Dinda melangkahkan kakinya menuju pintu utama yang kini sudah terbuka lebar.
Seperti enggan untuk menyampaikan sebuah fakta, itulah Dinda, mungkin perpisahannya akan membawa sejuta luka untuk Bu Yanti, tapi dengan hadirnya bayi, semoga Bu Yanti mengerti.
Dengan kaki yang terasa lentur Bu Yanti berlari kecil menghampiri Dinda dan memeluknya, keduanya saling beradu tangis, saling menumpahkan air mata, dan saling memeluk erat.
''Maafkan mama, sayang.'' tiba tiba Bu Yanti membuka suara.
Dinda menyeka air mata mertuanya dan menggandengnya menuju sofa.
Pak Heru yang ada di sana juga ikut duduk di samping Dinda, menghimpit sang menantu hingga duduk di tengah.
''Pa,'' beralih memeluk papa mertuanya.
''Gimana keadaan kamu?'' masih basa basi.
''Aku baik.'' jawab Dinda, karena memang itu kenyataannya.
''Maafkan Alan!" ucap Pak Heru.
Meskipun tak tau permasalahannya, Pak Heru yakin kalau Alan sudah berbuat salah hingga Dinda meminta untuk berpisah.
"Pa," Dinda meriah tangan kedua mertuanya.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, Aku dan kak Alan baik baik saja, kita juga nggak pernah bertengkar, hanya saja mungkin kami tidak cocok untuk melanjutkan kembali pernikahan ini.'' ucap Dinda menatap wajah Pak Heru dan Bu Yanti bergantian.
''Papa dan mama tenang, meski aku akan pergi, tapi kalian sudah punya cucu dari aku.'' menenangkan mertuanya untuk tidak mengharapkan ia kembali.
Bu Yanti yang masih sesenggukan itu kembali memeluk tubuh Dinda, menyayangkan wanita yang baik itu harus hengkang dari kehidupan keluarganya.
"Apa kesalahan Alan begitu besar sampai kamu tidak mau kembali padanya?"
Dinda tersenyum, "Ma, harus aku bilang berapa kali, tidak ada yang salah, hanya saja takdir yang mengharuskan kita pisah, jadi aku mohon mama jangan marahi kak Alan, karena semua ini bukan salah dia, aku juga yang salah, karena aku tidak bertanya sebelum aku menerima perjodohan ini."
Bu Yanti pun ikut sadar, bahkan akar kesalahan ada di dirinya, tak memikirkan kalau rumah tangga itu butuh pondasi yang kuat untuk bisa meraih puncak kebahagiaan, namun hanya keinginan sekilat mata Bu Yanti memaksa Dinda untuk menjadi yang kedua, dan kali ini Bu Yanti tak mau mengulangi untuk memaksa Dinda tetap menjadi bagian dari hidup putranya.
"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, mama bisa apa, tapi mama akan tetap menganggap kamu sebagai anak mama."
Kembali ke pokok permasalahan awal, kenapa Dinda sampai ke sana, selain takut kalau Bu Yanti sok, Dinda juga ingin memastikan kalau Alan pun ada di sana, setidaknya rasa gundahnya itu hilang setelah mengetahui kondisi suaminya.
''Kak Alan di mana?'' tanya Dinda menatap pintu kamar suaminya yang tertutup rapat.
''Dia nggak kesini.'' jawab Bu Yanti bernada cuek.
Dinda menoleh ke belakang menatap abangnya.
Pria itu mendengus dan mengeluarkan ponselnya.
Meskipun kamu sudah menyakiti adikku, tapi aku tak tega jika kamu kenapa napa, bagaimanapun juga kamu adalah sahabat baikku.
*Daka, kamu jemput Alan di klub, pastikan kalau dia baik baik saja.*
Setelah mengirim pesan ke sahabatnya, Faisal mendekati Dinda setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Alan baik baik saja tante, sebentar lagi dia pulang, sekarang sudah malam, aku mohon pamit, Dinda butuh istirahat."