
''Siapa yang bilang kalau saya angkat rahim Dinda?''
Daka kembali menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, memang Dokter Edwin tidak bilang. Tapi Daka rasa itu jalan satu satunya untuk menyelamatkan Dinda dan bayinya.
''Lalu....?'' tanya nya lagi saking penasaran.
Dokter Edwin tersenyum.
''Lalu ya di operasi di ambil bayinya.'' jawabnya enteng.
''Dokter saja yang terlalu panik, pendarahan Dinda tak seberapa, jadi masih bisa di atasi dengan mempertahankan rahimnya, lagian Dinda tidak punya penyakit apapun, hanya saja kondisinya memang lemah, dan ada sedikit luka di bagian dinding rahim, itulah yang menyebabkan darahnya terus mengalir, dan saya rasa efek dari pikiran juga bisa membuat tubuh Dinda tak ada semangat, dan lagi umurnya masih terlalu muda, jadi harusnya saat dia hamil itu harus happy. Supaya nantinya tak terjadi lagi kasus seperti ini. Karena di saat wanita hamil, semua organ tubuh itu harus merespon dengan baik, jangan sampai ada yang memberatkan otak dan hatinya. Ini bukan ilmu kedokteran, tapi ini sangat penting, jadi aku rasa mulai saat ini Alan harus siaga dua puluh empat jam.
Daka hanya manggut manggut mengerti mendengar ucapan dokter Edwin panjang lebar.
''Itu artinya Dinda masih normal?''
Kini tak hanya senyum, malah bikin sang dokter senior itu tertawa lepas saat mendengar ucapan Normal.
''Normal sekali, hanya saja dokter yang tidak normal.''
Ckckck...Dokter Daka berdecak, di saat serius masih saja dokter itu bercanda.
''Kenapa Dokter nggak bilang kalau rahim Dinda nggak jadi di angkat?'' Nada menyalahkan.
''Kamu nggak nanya?'' Dokter Edwin ikut nyolot karena dia pun tak mau di salahkan.
Nggak apa apa deh, kalau nggak gini juga Alan nggak akan sadar dengan kesalahannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
''Ini kumis dari mana?''
Dengan manjanya ibu hamil muda itu menarik ujung rambut palsu yang terpasang di atas bibir suaminya.
''Nemu di tong sampah.''
Tak segan segan Alan menarik tubuh yang membuatnya kesal itu ke pangkuannya, tak menyangka Dinda menyuruhnya menjadi dokter Tono lagi, padahal Alan sudah merasa geli dengan penampilan tersebut.
''Kakak nggak ikhlas?''
Ngambek lagi, aku harus gimana, semua salah di matanya, apa yang benar coba.
Alan tersenyum dan memeluk tubuh Dinda dengan erat.
''Tidak, jangankan jadi Dokter Tono, jadi kang bakso pun aku tidak marah kok.''
Selomotnya yang kembali menerbitkan senyum dari sudut bibir Dinda.
Rumah sepi, tinggal mereka berdua dan pegawainya, karena Faisal harus rela menghandle pekerjaan Alan demi sang adik, sedangkan Bu Yanti ada pekerjaan di butiknya, begitupun Amel yang masih sibuk di dunianya.
Melihat Dinda membulatkan bola matanya, Alan kembali ketar ketir lagi, takut permintaan sang istri yang tak bisa di penuhinya, pasti ujung ujungnya marah lagi. Deg.. deg... jantung Alan berpacu dengan cepat saat Dinda menatap layar Tv dengan lekat, acara lomba memasak.
Itu makanan kan ala jepang, gawat kalau sampai dia mau itu.
''Kak...'' panggilnya tanpa menoleh.
Alan makin tak karuan saat mendengar suara Dinda.
Heemm.... pura pura sibuk dengan ponsel di tangannya.
''Aku mau.... Ucapan Dinda menguap, tak jadi berlanjut saat bunyi ponsel Alan berdering. itu bukan telepon dari seseorang, melainkan Alan sengaja membunyikan dering ponselnya berbohong, alih alih pergi untuk menerimanya.
Ya Tuhan, aku minta maaf sudah berbohong pada istriku, kalau untuk beli aku bisa, tapi kalau untuk masak sendiri aku nggak sanggup.
Sepuluh menit Alan berpura pura bicara dengan ponselnya, kini ia kembali ke samping istrinya saat acara TV terjeda iklan.
''Iya sayang, tadi kamu mau bilang apa?'' tanya Alan meskipun masih was was setidaknya ia bertanya.
''Sukiyaki....Jawabnya pelan.
Makanan khas jepang yang terdiri dari daging sapi sayur dan tahu itu menggugah selera Dinda saat tadi menonton.
''Oke, kalau begitu kita jalan sekarang yuk.''
Dengan antusiasnya Alan menawarkan diri untuk pergi.
Dan kali ini Tuhan mendengar doa Alan. Ternyata Dinda memang mau beli bukan minta nya untuk memasak.
Tau gini aku pun nggak usah pakai bohong segala.
Setelah membelah ramainya jalanan, kini Dinda dan Alan pun sudah tiba di depan restoran jepang yang ternama, restoran yang selalu di penuhi pengunjung itu pun ramai di jam makan siang, apa lagi tempatnya yang mewah membuat siapa saja pasti jatuh cinta ingin segera mencicipi olahannya.
Seperti yang di inginkan Dinda dari rumah, Alan pun langsung memesan Sukiyaki untuknya.
Sembari menunggu Dinda tak henti hentinya menyorot pengunjung yang lagi asyik menikmati makanannya, salah satu seorang pria dan wanita yang lagi suap suapan yang membuatnya iri.
Baru juga ingin ngomong, pesanannya datang, dengan segera Alan meletakkan semangkok Sukiyaki di depan Dinda.
''Aku mau di suapi.'' kata gadis itu dan memilih untuk melipat kedua tangannya.
''Pakai mulut ya?'' goda Alan dengan senyum seringainya.
''Bercanda.'' imbuhnya lagi saat Dinda mengerucutkan bibirnya.
Alan beralih duduk di samping Dinda dan menyuapinya dengan telaten. Ada tatapan yang tak ia mengerti saat di depan wanita itu, bahkan Alan merasa tingkah Dinda selalu mengingatkan akan keburukannya dulu.
Pasti ini juga yang kamu inginkan saat mengandung anak kita dulu, tapi aku begitu bodoh dan tak pernah menganggapmu, dan kini aku benar benar merasa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita.
''Kakak nggak mau makan juga?''
Kini Dinda yang menyuapi suaminya.
''Kamu saja, lagi pula aku masih kenyang.''
Aku tau ada yang kak Alan pikirkan. Apa kak Alan merasa bosan dengan permintaanku ini itu, tapi gimana, setiap kak Alan tidak bisa mengabulkannya aku ingin marah. Dek, mama mohon jangan minta lagi yang aneh aneh, mama nggak mau kehilangan papa lagi. Cukup waktu itu yang membuat mama kehilangan abang kamu. Namun itu hanya bisa di ucapkan dalam hati.
Dinda terus mengelus perut ratanya berharap selanjutnya tidak meminta yang di luar kemampuan Alan.
''Kakak marah sama aku?''
Ucapan dari Dinda menghentikan Alan untuk mengambil minuman.
''Aku memang marah.'' Alan menghentikan ucapannya dan spontan membuat Dinda terbelalak.
''Tapi pada diri aku sendiri. Harusnya ini sudah aku lakukan dari dulu, saat kamu mengandung anak kita, tapi apa, aku malah nggak peduli sama kamu, dan sekarang aku tidak akan membuat kamu dan anak kita pergi lagi. Jangan sedih lagi, aku nggak mau kejadian yang dulu terulang pada kamu dan bayi kita.
Dinda mengangguk tanpa suara.
''Dinda....'' Di saat mellow mellonya, tiba tiba saja seorang wanita menghampirinya.
''Mbak Syntia, Dinda tak kalah terkejut dengan wanita yang pernah hidup seatap dengannya. Dan juga tak lupa dengan laki laki yang ada di samping Syntia.
Sedangkan Alan hanya menatapnya dengan tatapan kasihan. Jika dulu Syntia selalu memakai banyak perhiasan dan barang mewah, kini wanita itu terlihat biasa saja.