
Acara lamaran Faisal berjalan begitu lancar, meskipun Faisal sudah jujur tentang jati dirinya adalah orang kampung dan bukan orang kaya, pak Samuel selaku papa dari calon istrinya itu menyetujui tanpa syarat kecuali membahagaikan putri tercintanya.
Peluang lebar namun berat bagi Faisal untuk mempersunting putri pengusaha itu, karena sebuah rencana pun sudah di tulis, Amel adalah ahli waris keluarga Samuel, itu artinya Faisal yang akan terjun di dunia bisnis keluarga istrinya, tak tanggung tanggung Faisal harus lebih gigih dan mendalami ilmu perusahaan calon mertuanya, apakah Faisal harus hengkang dari perusahaan Alan mulai saat ini?
Tidak, itu bukan sifat Faisal yang selalu menerima apapun secara gratis tanpa susah payah, hidup adalah perjuangan bukan hanya menengadahkan tangan, jadi Faisal tetap akan menjadi sekretaris Alan sampai waktu yang mengharuskan Ia untuk keluar.
Kakak beradik itu memang tak pantang menyerah, kerasnya hidup yang membuat keduanya semangat dengan cita cita masing masing, namun hidup Dinda tak semulus sang abang yang kini sudah sukses dengan karirnya.
Seminggu sudah Dinda tinggal di rumah mertuanya, meskipun sesekali Dinda rindu wajah suaminya, Ia hanya bisa menatap fhoto yang pernah di ambilnya diam diam, miris, apa kah dia rindu seorang diri?
''Seandainya kakak juga meridukanku, aku pasti sangat bahagia, tapi aku salah, jika memang kakak rindu pasti kakak akan menemuiku kesini, tapi selama ini kakak hanya datang setelah pulang dari kantor, itu pun tak ingin menginap lagi.'' gumamnya kecil.
Entah kenapa hari ini Dinda pun siap ingin pulang ke rumah, teringat dengan baju tiga pembantu Alan yang masih terbengkalai, sedangkan permintaan kainnya hari ini pun akan di antar oleh supir keluarga Alan yang pastinya akan menimbulkan tanda tanya untuk Alan dan Syntia.
Dinda mengepack bajunya yang di antar Alan ke rumah mamanya, tanpa memberi tau Bu Yanti Dia siap untuk pulang dan tinggal bersama suaminya kembali, bukan apa apa takut kalau Faisal curiga, dengan prahara rumah tangganya dan itu tidak baik untuk hubungan kerja mereka, apa lagi keluarga di kampung.
''Ma,'' panggilnya saat Dinda keluar dari kamarnya.
Bu Yanti yang saat itu asyik ngobrol lewat ponsel dengan sahabatnya seketika memutuskan sambungannya saat mendapati menantunya menenteng tas.
''Dinda sayang, kamu mau ke mana?'' menghampiri Dinda yang masih mematung di tempat.
''Aku mau pulang, kasihan kak Alan, dia pasti kesepian aku disini, dan aku akan tinggal di rumah lagi.'' ucapnya, seperti biasa Bu Yanti tak akan bisa menolak permintaan menantunya meskipun melepas Dinda masih terasa berat.
''Mama Telepon Alan ya biar kamu dijemput, mulai menggeser layar ponsel yang dari tadi di genggamnya.
''Nggak usah Ma, kan ada pak supir di sini, kasihan Kak Alan pasti baru pulang, menilik jam yang melingkar di tangannya, ''Dia kan juga butuh istirahat.
Mengerti, karena itu yang sering di rasakan mama nya di saat Pak Heru pulang kantor, pasti istrihat dan hiburan yang di butuhkan.
''Ya sudah mama telepon supir pabrik untuk mengantarkan kainnya, apa perlu mama antar?'' baru juga ucapan itu meluncur, Pak Heru datang dengan wajah lelahnya.
''Nggak usah, kasihan papa, baru pulang, masa iya mau mama tinggal.'' godanya.
''Pa, aku pulang ya, kapan kapan aku main ke sini lagi, mencium punggung tangan pak Heru.
''Hati hati ya, jangan capek capek, papa nggak mau terjadi sesuatu sama kamu dan calon cucu papa,'' tuturnya.
Percakapan singkat itu usai, setelah pamit kepada kedua mertuanya, Dinda langsung naik mobil di antar pak Sujad yang sudah siap melajukan mobilnya.
Sedangkan di rumah Alan yang baru pulang dari kantornya itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang setelah mendapati Syntia belum pulang, entah kemana, akhir akhir ini Syntia sering pulang malam, jika di tanya hanya menjawab ingin memulai bisnis, dan saat ini Ia menghabiskan waktu di luar untuk belajar bersama teman sosialitanya.
Setelah beberapa menit memejamkan mata, Alan di kejutkan ketukan pintu dari luar.
''Siapa?'' ucapnya dan masih bergeming di tempat.
''Ini bibi den, Ada yang mengantar kain ke rumah, katanya milik non Dinda.'' Bi Romlah meninggikan suaranya.
Alan membuka mata dan mengernyit.
Alan beranjak dan membuka pintu, tak menghiraukan Bibi yang masih mematung, Alan langsung saja menuruni anak tangga.
Alan menemui supir pick up di depan.
''Ini darimana?'' tanya nya dengan sedikit datar.
''Dari pabrik nyonya Yanti pak, jawab sang supir sembari menyodorkan lembaran kertas yang di bawanya.
Alan membaca dan mendengus lalu meremas kertas itu hingga tak terbentuk.
Lagi lagi kalau memperalat mama untuk kepentingan kamu sendiri.
"Bawa masuk pak!" titahnya dan langsung masuk ke dalam meninggalkan yang lain.
Belum juga selesai, mobil yang di tumpangi Dinda masuk dari gerbang.
Dinda mengulas senyum, ternyata apa yang di katakan mertuanya itu benar, beberapa kain dengan berbagai jenis sudah tiba di rumah suaminya.
"Terima kasih ya pak," ucapnya setelah kain yang terakhir itu masuk.
Dinda masuk ke dalam dengan tas yang masih menggantung di tangannya.
Di liatnya Alan yang sedang menonton TV, seperti biasa acara berita yang di sukainya.
Dengan pelan Ia menaruh tas dan menghampiri suaminya.
"Kak, panggilnya dengan pelan seraya mengelus perutnya.
Alan melirik tanpa menjawab.
"Kak mulai besok aku mau buat baju, nggak apa apa kan?" tanya nya lagi.
Alan mematikan tvnya dan menoleh ke arah Dinda yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kamu fikir ya Din, aku ini sudah sibuk dengan kerajaanku di kantor, harusnya kamu itu lebih dewasa dan tidak mengganggu ketenanganku saat di rumah, kalau kamu mau berbuat sesuatu mikir dulu, menunjuk pelipisnya.
"Aku minta maaf, ini hanya untuk menghilangkan jenuh saja kok, bantahnya lagi.
"Tapi sangat mengganggu, dan aku tidak suka itu, tapi kalau memang kamu memaksa bawa semua kain kamu itu ke kamar, aku nggak mau melihatnya masih berceceran di bawah.
menunjuk tumpukan kain yang baru saja di masukkan tersebut.
Dinda tak bicara lagi sepatah kata pun, sebisa mungkin ia menghindari suaminya saat emosi dan tak mau membuatnya makin marah padanya.
''Bi tolong bantu aku bawa semua kain itu ke kamar ya!" pintanya menghampiri Bibi yang memang dari tadi sudah menunggu perintah.
Meskipun kamu menganggap aku bukan orang yang penting dalam hidup kamu, setidaknya aku ini adalah wanita yang sudah mengandung anak kamu, dan aku yakin kamu akan menyesal karena sudah pernah memperlakukan aku seprti ini, Dinda Larasati tidak akan menyerah hanya karena laki laki sepertimu.