Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Rencana Faisal


Acara tujuh bulanan Dinda berjalan sangat lancar, bahkan sampai semua tamu pamit pun wanita yang sebentar lagi akan di panggil mama itu masih tersenyum merekah dan mengelus perut buncitnya, kini hanya tinggal beberapa kolega dan saudara dari keluarga pak Heru yang tinggal, masih sama seperti sebelum mengetahui kenyataan pahit, Faisal pun ikut menemani Dinda yang kini ada di tengah tengah keluarga Alan, namun kali ini pria itu sedikit datar saat di dekat bos sekaligus adik iparnya, meskipun Dokter Daka sudah membaca perubahan Faisal, Dokter kandungan itu tak berani bicara apapun sebelum Faisal suruh.


''Nggak makan?'' Dokter Daka menyodorkan sepiring nasi yang baru saja di ambil, sedangkan Amel kini berlalu manja dengan calon mertua serta keluarganya yang juga di undang Pak Heru.


Tanpa mengucap sepatah kata pun Faisal merebut piring dan langsung melahapnya.


Entah emang lapar atau amarahnya yang membuncah yang membuat perutnya keroncongan, Faisal menghabiskan sepiring nasi yang di berikan Dokter Daka.


Melihat Dinda yang berjalan menuju ke arahnya, Faisal beranjak menyambut adiknya.


''Kamu butuh sesuatu?'' merangkul pundak sang adik.


Dinda menggeleng. ''Kapan bapak dan Ibu pulang?'' tanya nya, karena memang Dinda merasa nggak nyaman dengan kehadiran mereka.


''Bapak dan Ibu langsung pulang, jawabnya, karena memang itu rencana satu rombongan dari kampung.


Jika dulu Dinda menangis karena tak bisa lama lama dengan sang Ibu, kini Ia bersyukur, setidaknya Ibunya belum mengetahui keadaan aslinya.


''Mau abang suapi?''


Dinda menggeleng lagi, Karena wanita itu hanya ingin di dekat abangnya dari pada di samping Alan yang saat ini bersama Syntia.


Faisal menatap wajah teduh itu, dan menyelipkan rambutnya.


"Besok tinggal di apartemen abang ya!" tawar Faisal, entah kenapa pria itu langsung saja tak tega membiarkan Dinda serumah dengan Alan, di depan umum saja Alan berani berkata seperti itu, apa lagi di rumah pasti lebih keterlaluan, dan mulai detik itu Faisal tidak akan membiarkan Alan untuk membuat adiknya menangis.


"Aku izin kak Alan dulu," ucapnya, bagaimana pun Dinda masih berstatus istri, di anggap maupun tidak tak baik keluar tanpa sepengetahuan sang suami.


Bagaimana bisa kamu yang begitu baik dibalas dengan kejahatan, aku yakin Alan akan menyesal karena sudah memperlakukan kamu tidak adil, dan aku pastikan di saat hari itu datang, dia tidak akan bisa melihatmu lagi apa lagi menyentuhmu.


Semua keluarga berkumpul, Ibu dan bapak pun pamit pulang, tinggal Faisal dan Amel yang masih di rumah Bu Yanti, Syntia yang dari tadi tak banyak bicara itu memilih untuk pergi ke kamar dan tak mau menjadi tembang bibir mertuanya.


"Om, Tante, maaf kalau Aku lancang. Faisal.


"Kelihatannya serius banget, memangnya kenapa, apa kamu mau menikah sekarang?" celetuk Bu Yanti menerka.


Amel tersenyum begitu juga dengan Faisal.


"Tidak tan, itu masih nanti, Aku hanya mau bilang, kalau beberapa hari ini Dinda ingin tinggal di apartemen.''


"Loh kenapa?" sedikit heran kenapa tiba tiba Faisal ingin membawa Dinda.


Pria itu kembali tersenyum dan memasang wajah sesantai mungkin.


"Nggak apa apa ma, aku cuma kangen sama bang Faisal saja kok, lagi pula di rumah itu sepi, kalau kak Alan kerja, Mbak Syntia keluar aku hanya sama Bibi doang,'' alasan Dinda.


Masuk akal juga tapi ada yang sedikit menjanggal bagi pak Heru dengan putranya yang hanya diam saja dan tak mau menimpali keinginan istrinya.


"Terus kalau di apartemen Alan kamu kan juga sendiri?" bantah Bu Yanti yang sedikit tak setuju.


"Kan ada aku tante, rumah aku kan dekat dengan apartemen mas Faisal, jadi setiap hari aku akan ke sana, kalau di rumah Alan kan jauh, jawab Amel.


"Baiklah, tapi jangan lama lama ya, cepat pulang, mama pasti juga akan kangen sama kamu." memeluk tubuh Dinda dari samping.


"Makasih, ma," membalas pelukan Bu Yanti dengan erat.


''Tapi malam ini kamu tidur disini sama Alan, kan?"


Dinda mengangguk.


Setelah Amel dan Faisal pulang, rumah sudah sangat sepi, kini tinggal penghuni rumah yang ada, semua pembantu membereskan bekas acara, sedangkan Bu Yanti dan pak Heru tak nampak di ruangan, Dinda yang sedikit bingung, akhirnya memilih untuk masuk kamar.


Kak Alan pasti di kamar sebelah dengan Mbak Syntia. batin Dinda saat tak mendapati Alan di sana.


Dinda duduk di tepi ranjang setelah mengambil sebuah Album besar, di bukanya pelan tempat penyimpanan foto tersebut.


Bahkan dari kecil pun kamu memang sudah tampan.


Mengelus gambar yang masih imut dengan dot dimulutnya, dan Dinda yakin itu pasti Alan suaminya sewaktu bayi.


Beralih ke sebuah gambar yang sudah remaja dengan baju SMA.


Dinda tersenyum seakan jatuh cinta dengan gambar itu.


Kamu tidak boleh jatuh cinta sama dia Dinda, karena sebentar lagi kamu akan berpisah dengannya.


Kembali lagi wanita itu langsung menepisnya.


Beralih ke gambar Pria yang sudah menjadi dewasa, dan gambar itu bersama sang abang dan dokter Daka.


Ternyata mereka sangat akrab, aku nggak nyangka, kalau aku pernah maauk ke kehidupan sahabat abang meskipun kenangannya begitu pahit untukku.


Dan Foto yang terakhir adalah gambar Alan yang memakai jas, Dinda mengambil gambar itu dan menatapnya lekat lekat.


''Seandainya kamu baik padaku, aku pasti menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini, tapi sayang, aku bukanlah siapa siapa bagi kamu, dan terima kasih atas semuanya.'' gumamnya.


Ceklek, tiba tiba pintu terbuka membuat Dinda yang sedari tadi fokus dengan apa yang ada di tangannya itu menoleh, betapa terkejutnya saat Alan sudah mematung di sana sembari menatapnya.


Dinda yang merasa gugup itu langsung kembali menutup albumnya dan meletakkannya di tempat semula.


Alan mendekat, namun Dinda semakin takut saat wajah Alan penuh tanda tanya, ''Siapa yang suruh kamu menyentuh barang di kamar ini?'' tanya Alan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


''Ma..maaf, aku cuma lihat saja, lagi pula aku nggak ngambil apa apa kok, jawab Dinda menaikkan kakinya yang sedikit bengkak ke atas ranjang.


''Heh....Kamu memang nggak ngambil apapun, tapi kamu sudah lancang berani menyentuh barang milikku, dan kamu tau aku paling benci dengan orang yang seperti itu, jelasnya.


Dinda yang merasa kesal karena ocehan suaminya itu kembali beranjak.


''Oke, aku memang salah, sudah menyentuh barang kamu tanpa izin, dan anggaplah ini kesalahan terakhir dariku sebelum kita berpisah untuk selama lamanya, dan aku sudah bilang ke abang kalau kita akan bercerai setelah aku melahirkan, kini Dinda lebih menjelaskan rencananya.


Apa, dia sudah berani bilang sama Faisal tentang rencana ini, apa dia juga cerita tentang sikapku selama ini, dan apakah ini menjadi alasan Dinda untuk tinggal bersamanya, baguslah setidaknya lebih cepat lebih baik.